(96) Disiplin Membaca

Belakangan ini, aku kembali melatih diri membangun minat baca agar bisa lebih disiplin lagi.

Iya, seperti aku yang dahulu; bertahun-tahun yang lalu.

Aku sadar, kepala itu harus terus diisi agar tidak mati dan membaca adalah salah satu cara agar kita bisa lebih peka dengan lingkungan sekitar, sehingga ada banyak hal yang bisa kita imajinasikan dan berpikir tentang hal-hal yang sebelumnya tak pernah terbesit di pikiran.

***

Membangun disiplin membaca, sebenarnya sudah kulakukan pada pertengahan tahun lalu; mulai dari membaca tulisan yang tersedia di internet, bahkan sampai menghabiskan empat judul buku dalam waktu yang terbilang singkat, dua bulan saja;

Laut Bercerita, karya Leila S. Chudori Teruslah Bodoh Jangan Pintar, karya Tere Liye The Old Man and TheSea, karya Ernest Hemingway Sisi Tergelap Surga, karya Brian Khrisna

Itulah keempat judul buku yang dibawakan oleh teman yang sebelumnya balik berlibur ke Indonesia; yang sebelumnya aku titip agar membeli beberapa judul buku sebelum kembali ke negara ini, agar aku bisa mengisi waktu luang dengan membaca karya-karya tulis dari penulis Indonesia.

Begitulah aku, bila api semangat sedang membara, setebal dan sebanyak apapun bacaan, bukan masalah besar.; buku-buku itu, bisa kulahap sepenuhnya dalam waktu yang kata Kak Gem, “singkat saja!.”

***

Namun, seperti kebanyakan manusia, yang begitu mudahnya lalai melanda, aku pun sama.

Akhir tahun lalu menjelang, waktuku mulai terbagi-bagi. Mulai dari pekerjaan dan pasangan baru yang saat itu bahkan sampai sekarang masih dalam nuansa yang berbunga-bunga.

Jujur, belum pernah kurasakan cinta yang seperti ini bersama pasanganku yang ini. Eh, tapi tulisan ini bukan bercerita terkait perjalanan asmara, barangkali nanti akan kutulis di kesempatan yang lain, alias tidak dalam kesempatan ini.

Sejak saat itu, disiplin membacaku mulai berkurang dan goyang.

Waktuku sudah habis dipakai untuk bekerja, dan waktu luang, kini kugunakan untuk membangun momen berkualitas dengan pasanganku; yang mana kami menjalin hubungan jarak jauh, benar-benar jauh, bahkan susah tuk bertemu karena berbeda negara.

***

Sebagai orang yang dahulu tak percaya hubungan jarak jauh bisa berhasil, aku berusaha dengan segala macam cara dan upaya agar hubungan ini bisa berhasil sampai ke jenjang pernikahan; salah satunya dengan memberikan semua waktu luang yang kupunya untuk dihabiskan bersama pasanganku, agar tak ada ruang untuk pikiran aneh muncul yang kemudian bisa saja berubah menjadi tuduhan-tuduhan yang bisa memicu pertengkaran yang sebenarnya tidak diperlukan.

Iya, aku tahu, semestinya hal itu tak bisa kujadikan alasan untuk berhenti membaca. Itulah kenapa, belakangan ini, aku berusaha kembali menumbuhkan disiplin membaca; ditambah, aku baru saja mendapat tamparan dari Uda Ivan Lanin dalam balasan komentar di salah satu tulisannya yang berjudul Filsuf yang Menulis Sastra.

Di postingan itu, Uda Ivan bercerita tentang awal mula dan bagaimana Martin Suranjaya menulis.

Kubaca tulisan itu sampai akhir dan menemukan kata-kata dari Martin Suranjaya yang cukup menamparku sebagai orang yang sudah meraih cita-cita menjadi penulis, namun enggan konsisten menggeluti bidang yang dahulu kuidam-idamkan.

“…menulis bukan soal menunggu inspirasi. Tanpa disiplin, tulisan tidak akan pernah selesai.”

— Martin Suranjaya

***

Itu tamparan pertama yang kudapatkan.

Kemudian, disusul tamparan kedua dari Uda Ivan yang tak lama membalas komentarku, “Semoga bisa segera menumbuhkan disiplin menulis. Kalau boleh saran, kita bisa mulai dengan tumbuhkan disiplin membaca.”

Begitu halus dan sopan memang kata-katanya, namun sudah lebih dari cukup tuk menamparku dan menjadi motivasi agar aku bisa menyeimbangkan keinginan membangun disiplin menulis dengan diiringi menumbuhkan disiplin membaca.

Tak lagi ada alasan untuk malas membaca.

Apalagi, di era teknologi, akses bacaan jauh lebih mudah dibandingkan era internet belum menjamur sepert sekarang.

Mulai dari tulisan yang berserakan di platform menulis, hingga buku digital yang bisa diakses gratis atau berbayar; hanya saja, semua tergantung kita, apakah mau membangun kebiasaan membaca atau tidak?

Dan, untuk memulainya, tak harus yang berat-berat atau yang panjang-panjang, kita bisa mulai dari tulisan ringan dan pendek, seperti tulisan-tulisan yang aku tuliskan, misalnya. (promosi, hehehe).

— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.

📝Tulisan ini terbit pertama kali di Medium,
25 Maret 2025.

Tinggalkan komentar