(94) Menghilang

Sebagai orang yang cukup aktif berselancar dan konsisten menulis di media sosial, terbilang banyak orang yang dahulu mengenaliku; membaca tulisan, kutipan, atau setidaknya beberapa postinganku pernah lewat di beranda orang-orang.

Iya, itu dulu.

***

Sebenarnya, jika aku tetap menulis dan menggunggahnya ke publik, masih ada yang mau membaca rangkaian kata itu; meski tidak sebanyak dahulu ketika aku berada pada masa jaya yang sebenarnya tak seberapa; ketika panggung eksposur sedang berpihak pada diriku.

Pernah kutuliskan sebelumnya, kalau saat ini aku berusaha tuk tetap relevan akan zaman yang begitu cepat jalannya; saking cepatnya, sampai aku sendiri tak lagi bisa mengimbangi dan menjadikanku salah satu dari banyaknya orang yang lenyap digilas oleh zaman yang begitu beringas.

Beragam cara sudah kucoba, namun tetap saja sulit tuk kembali naik ke permukaan dan menarik perhatian banyak orang agar mereka kembali mengikuti dan menanti setiap karya yang akan kubuat dengan hati yang sungguh-sungguh dan kebaikan hati yang benar-benar utuh.

***

Sejujurnya, aku tahu di mana masalanya.

Penyebab utamanya, karena aku tak lagi mengembangkan diri sendiri; terlalu nyaman berada dalam sebuah zona menulis yang itu-itu saja, pola yang begitu-begitu saja, dan media yang tak pernah dibuat menarik sesuai dengan zamannya.

Seharusnya, aku bisa menulis dengan gaya yang lain dan menggunakan media yang lain. Apa saja. Aku harus buat inovasi dalam setiap karya-karya atau setidaknya harus punya hal menarik tuk dituliskan yang kemudian bisa dibagikan ke orang-orang yang kelak akan membacanya.

***

Aku gagal, dan aku tahu itu.

Itulah kenapa kuputuskan tuk menghilang beberapa waktu dan akhirnya kutemukan sebuah fakta kalau kita semua sebenarnya tak sepenting itu hidup di dunia.

Mengapa?

Saat aku menghilang tiba-tiba, menarik diri dari jagat maya, tidak banyak yang mencari tahu ke mana, kapan, dan kenapa aku menghilang tanpa kabar. Sejak itu, kuambil kesimpulan ringan kalau aku memang tak begitu penting; karena aku hanya salah satu orang dari banyak yang mereka ikuti dan nikmati.

Dan, ya, itu wajar, tidak apa-apa.

Kan tidak ada satu pun yang spesial di dunia selain martabak dan orang yang kita cinta.

***

Kesimpulan itu, menghadirkan sadar.

Jika aku ingin senantiasa dicari orang-orang, maka aku harus tanamkan kesan baik dan kuat yang bisa dikenang panjang; untuk mencapai tahap itu, jelas butuh waktu bertahun-tahun, dan persisten tanpa sedikitpun berpikir untuk menyerah.

Ilmu personal branding dasar sebenarnya, kita harus selalu hadir menunjukkan diri dan keberadaan kita agar orang-orang tahu kalau kita masih aktif dan masih ada.

Itulah yang sedang aku jalani saat ini; dengan membangun konsistensi menulis setiap hari.

— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.

📝Tulisan ini terbit pertama kali di Medium,
23 Maret 2025.

Tinggalkan komentar