Ketika sedang gencar-gencarnya menulis dan menumpahkan segala macam bentu ekspresi diri pada akun Instagram, aku pernah mengunggah satu gambar yang berisikan kutipan dari Seosilo Toer, begini kutipannya:
“Aku merdeka dan aku tidak ingin lekas-lekas kemerdekaanku dirampas karena perkawiinan.”
Tak lama setelah aku mengunggah kutipan itu menggunakan fitur instastories, ada banyak pembaca mulai bersangka-sangka kalau aku tak ingin menikah sebab tak mau kemerdekaan yang sedang dirasakan dirampas begitu saja. Beberapa yang lain juga turut mengamini potongan kutipan tersebut dan membenarkan kalau pernikahanlah yang buat kemerdekaan hidup mereka terenggut.
***
Sebagai penulis, aku harus cari tahu penjelasan utuh dari setiap kutipan yang bisa saja disalahartikan. Segera kujelajahi internet tuk mencari apa kalimat utuh dari kutipan itu. Benar saja, kutipan itu diambil dari buku karya Soesilo Toer sendiri yang berjudul Anak Bungsu. Begini lengkapnya:
“Mencintai dan dicintai itu bukan sama artinya. Aku merdeka dan aku tidak ingin lekas-lekas kemerdekaanku dirampas karena perkawinan.
Perkawinan itu adalah penyitaan dengan paksa kebebasan seorang gadis. Adapun percintaan adalah permainan kebebasan itu. Kebebasan itu kita permainkan sesukanya. Setuju tidak dengan pendapatku?”
— Anak Bungsu; halaman 132
***
Di kesempatan kali ini, aku tak ingin bahas keseluruhan isi buku Anak Bungsu, sebab aku sendiri belum membacanya. Tapi, aku akan coba bahas tentang, benarkah pernikahan merampas kemerdekaan?
Benar!
Jika pernikahan itu membuat gerakmu jadi terbatas.
Contoh nyatanya bisa kita lihat kehidupan beberapa teman kita yang sudah menikah. Umumnya, mereka mulai sibuk dan tak lagi punya waktu untuk bertemu.
Dalam dunia aktivis, yang pada saat itu darahku masih mudah panas karena kesewenang-wenang, juga sering terjadi; orang yang biasanya lantang dan terus melawan juga memperjuangkan hak-hak orang kecil, suaranya tak lagi terdengar setelah mereka menikah.
Dan kini aku sadar, kalau itu adalah hal yang wajar dan memang pilihan paling realistis untuk dilakukan oleh seseorang yang sudah menikah.
Karena, setelah menikah, itu sudah bukan tentang diri sendiri, melainkan ada keluarga yang harus dipikirkan dan uang yang harus dicari demi bisa menghidup keberlangsungan keluarga.
***
Tapi, menurutku, bukan pernikahannya yang salah, melainkan siapa yang akan kita jadikan pasangan hidup, itulah faktor penting yang akan menghadirkan kemungkinan itu dlaam kehidupan kita.
Akan kujelaskan contoh lain yang barangkali bisa memberikan pandangan lain.
Pada tahun 2018, ketika kali pertama aku menuliskan ini, aku sempat menyaksikan video wawancara Pongki Barata bersama Iga Massardi dalam saluran Youtube Hiendguitar (unggarannya sudah tidak ada).
Dalam video itu, Iga Massardi bercerita tentang kehidupan dan karirnya sebagai musisi.
Ketika memutuskan untuk menikah, Iga Massardi berkata kalau ia tak punya modal apa-apa. Pongki pun melempar tanya perihal apa saja yang Iga punya kala itu, dan Iga menjawab “cuma punya dua gitar, rumah kontrakan, dan nekat.”
Iga melanjutkan, kalau ia tidak punya mobil dan barang berharga lainnya tuk dijadikan modal berumah tangga nantinya.
Sebelum keputusan itu dibuat, Iga juga sempat menyampaikan pada kekasihnya, “Aku cuma nge-band doang loh…”
“Ya sudah, kita jalani saja.” jawab kekasihnya.
Kekasih hati yang kini telah menjadi istri, menerima seorang Iga apa adanya; dengan pekerjaan sebagai musisi yang belum jelas masa depannya. Penerimaan itu bukan hanya di bibir saja, itu benar-benar dijalani dalam kehidupan rumah tangga mereka; sebelum dan bahkan sesudah menikah.
Ada satu percakapan antara Iga dan istrinya yang berhasil buat mataku seketika menumpahkan airnya; ialah ketika Iga mulai jenuh dengan band-nya terdahulu dan hendak keluar karena ingin mengejar warna musiknya sendiri. Padahal, kala itu, pendapatannya dari band yang sudah dibentuk dan terkenal terbilang cukup untuk menghidupi keluargga.
Setelah Iga menceritakan keluh kesahnya, istrinya bukannya menahan Iga agar bisa tetap hidup nyaman, tapi malah memberikan dorongan dengan berkata:
“Kamu sebagai seniman, harus bangga dan happy dengan karya yang kamu buat. Aku enggak mau kalau kamu setengah hati dalam berkarya. Karena aku tahu, itulah yang membuatmu merasa hidup. Aku cuma ingin, saat kamu ada di panggung, kamu benar-benar ngerasa happy; dan cuma itu yang ingin kulihat,”
Aku menangis sejadi-jadinya mendengar cerita itu.
Sebab, itu relate untukku.
Itu bukti kalau bukan pernikahan yang merampas merdeka, tetapi dengan siapa kita menikah yang jadi sebab apakah merdeka kita akan terampas atau malah semakin merasakan bebas yang buat kita bahagia sebab ada yang membersamai kita sepanjang usia.
Jika pasanganmu adalah orang yang banyak menuntut ini itu, yang barangkali bertolak belakang dan bisa merusak rencana yang telah dibuat dengan matang, tentu merdekamu dirampas.
Tapi, kebalikannya, jika pasanganmu memberikan dukungan penuh untuk segala rencana, yang dirasakan tentu bahagia pastinya.
Jika tak ingin dirampas meredanya, selektiflah dalam memilih dengan siapa kamu akan menjalani kehidupan rumah tangga; dalam ikatan pernikahan.
Jika suatu waktu aku bertemu dengan seseorang yang kelak menjadi pendamping dan hidup bersamanya, aku tentu tidak akan jadi tipikal manusia yang menuntut ini itu.
Segala inginnya, selama itu baik untuk dia dan keluarga, serta tak ada pihak yang dirugikan, akan kuberikan dukungan penuh.
Jika nanti pasanganku ingin bekerja atau mewujudkan mimpi-mimpinya, aku akan turut mendukung dan aku tak akan jadi pasangan yang mengekang keinginan dan merdekanya.
Jika ia ingin bergaul dengan teman-temannya, akan kubiarkan dia menikmati kesenangan yang harusnya ia rasakan meski tidak bersamaku; selama ia bisa menjaga diri, akan kubiarkan.
Karena, aku tak ingin membatasi kehidupannya setelah kita menjalani hidup bersama.
***
Kuharap, kelak aku bisa dipertemukan dengan seseorang yang tak banyak menuntut sesuatu; sebaliknya, aku ingin bertemu dengan seseorang yang senantiasa membersamai dan bisa berikan dukungan penuh untuk setiap rencana demi rencana yang ingin kulakukan; dan rencana itu, tentu semuanya demi kebahagiaan dan kebaikan bersama.
Sebab, perihal kewajiban, tanpa harus dituntut pun, akan aku pastikan untuk memenuhinya.
Dan kuharap, pasanganku kelak bisa diajak untuk bekerja sama merealisasikan apa yang baik untuk bersama. Membeli rumah sebagai tempat tinggal yang nyaman, kendaraan yang layak, serta hal-hal lain sewajarnya dipunya orang yang berumah tangga.
Terakhir, kuingatkan kembali, bukan pernikahan yang merampas merdeka seseorang, tetapi dengan siapa kita menjalaninya, itu yang buat kemungkinan apakah merdeka kita akan terampas atau tidak.
Semoga, aku, kamu, dan kita semua tak ada yang dirampas merdekanya karena kita menikah dengan orang yang salah.
— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.
📝Tulisan ini terbit pertama kali di Medium,
21 Desember 2024.

Tinggalkan komentar