Dalam hidup, kita semua tentu punya penyesalan; kesempatan yang tak kita ambil, prinsip yang salah, dan yang barangkali hal yang buat kita larut pada penyesalan tiada akhir.
Begitu juga denganku.
Satu dari banyaknya hal yang kusesali di umur segini, aku tak pernah menabung dan tak pernah mempersiapkan masa depan seperti pada umumnya orang-orang; berkarir, menabung, menikah, dan menjalani kehidupan rumah tangga dengan pasangan dan anak-anak yang lucu bertumbuh.
***
Saat aku mendedikasikan diri menjadi penulis penuh waktu, kepalaku selalu dihampiri pikiran-pikiran tak menentu.
Bukan pikiran seperti remaja tanggung yang gelisah perihal masa depan, asmara, atau yang berkaitan tentang personal; tetapi pikiran tentang apa yang bisa kutuangkan dalam tulisan menjadi sebuah karya yang layak untuk dibaca banyak mata.
Kepalaku dihampiri banyak pikiran, membuat otakku tak pernah berhenti berputar berpikir. Detik, menit, jam, dan hari; pikiran itu tak pernah berhenti mengalir. Bahkan, ketika aku terbangun dari tidur panjang, aku selalu berusaha keras mengingat mimpi apa yang kualami saat lelap tertidur.
Barangkali, inilah hari-hari yang dialami pada filsuf Yunani; kepala yang tak pernah berhenti berputar, menghadirkan banyak pemikiran.
Socrates dengan metode sokratiknya, Plato dengan teori ide, dan Aristoteles dengan logika.
Semua teori yang bersumber dari pemikiran itu bisa ada sebab kepala mereka selalu berputar dan tiada henti untuk berpikir.
***
Jangan salah paham dulu, bukan berarti aku menyamakan diri setara dengan para filsuf ternama.
Namun, kepala yang tak pernah berhenti berpikir, membuat aku akhirnya sampai pada kesadaran tentang hidup yang aku jalani; kesadaran akan sebuah pemikiran yang sebetulnya aku sesali.
Jujur, aku lupa kapan tepatnya, barangkali, pemikiran ini mulai hadir setelah aku selesai menuliskan buku Distraksi Patah Hati.
Itu adalah buku debut pertamaku; buku yang berisi tentang proses melewati patah hati yang terjadi berkali-kali.
Setelah draft selesai, buku terbit, dan tersebar ke seluruh Indonesia, aku sempat meneramkan prinsip pada diri sendiri; kalau aku tak akan menjalin hubungan dengan seseorang.
Aku akan hidup sendirian dan menjalani hidup sebatang kara, hidup hanya untuk diri sendiri, dan kemudian mati dalam sunyi.
Pemikiran itu pun kubalut dengan sebuah pembenaran; kalau manusia tak selalu harus menjalani hidup seperti orang-orang pada umumnya. Semua orang berhak memilih kehidupan seperti apa yang akan dan ingin mereka jalani.
Saat itu, aku juga merasa alur kisah hidup pada umumnya orang-orang dibentuk oleh lingkungan, yang kemudian dijalani dan secara tak sadar diamini oleh orang-orang; sehingga, apabila ada yang tak menjalani hidup seperti yang umumnya berlaku, cibiran demi cibiran tentu akan kita terima.
Bukankah begitu umumnya sifat manusia? Banyak yang tak bisa dan tidak biasa menerima hal-hal berbeda dari apa yang mereka jalani dan mereka yakini.
Itulah yang membuat aku bersikeras menjalani hidup sesuai dengan apa yang kuinginkan; hidup sendiri, untuk diri sendiri, dan menikmati hidup hanya untuk hari ini.
Dampaknya, aku tak punya alasan kuat menabung pundi demi pundi yang kudapat dan aku tak perlu repot mempersiapkan masa depan karena aku memang tak ingin terlibat.
***
Jujur, aku menyesali itu semua.
Mengapa ketika aku memutuskan tuk jadi penulis penuh waktu, aku tak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Aku juga menyesal mengapa kala itu tak bersabar dulu meniti karir di dunia profesional kantoran, menabung, dan membeli kebutuhan sandang, pangan, juga papan seperti yang orang-orang lakukan.
Jika pun aku ingin menjalani keinginanku untuk hidup sebatang kara, mestinya aku juga tak mengabaikan itu semua; setidaknya aku harus berjaga-jaga jika nantinya pikiran itu mendadak berubah seperti yang sedang kualami saat menuliskan ini.
Aku memang menyesal, tapi tetap harus bangkit!
***
Sebetulnya, aku sudah berdamai dengan apa yang kusesali.
Marah-marah, mengutuk, dan larut dalam sesal juga tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi, kan?
Fokuslah pada sesuatu yang bisa kita kendalikan dan lakukan; apa yang bisa kita lakukan ialah bangkit dan berusaha menjalani hidup dengan sebaik-baiknya pada masa kini, agar baik pula masa depan kita nanti.
Kini, aku sedang berusaha menjemput titik balik.
Aku sedang berjuang dengan penuh sabar dan mengumpulkan modal tuk membeli hal-hal yang barangkali diperlukan oleh umumnya manusia; membangun usaha sembari menjalani sesuatu yang aku senangi, jadi penulis yang akan selalu kulakukan sampai aku mati.
— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.
📝Tulisan ini terbit pertama kali di Medium,
18 Desember 2024.

Tinggalkan komentar