(89) Menjadi Orang Asing Setiap Hari

Setelah pandemi korona membaik, aku butuh banyak kegiatan agar punya cerita tuk dituliskan.

Untung saja kala itu salah satu sepupu mengajakku tuk terlibat dalam kegiatan sosial menyalutkan 6.000 Al-Qur’an kepada Hafiz Qur’an yang ada di ranah minang.

***

Agenda kegiatan tersebut akan terselenggara pada awal tahun 2022, tapi, aku sudah dilibatkan dalam fase perencanaan dan survei lokasi mana saja yang akan kami jadikan tempat penyaluran. Dan, di akhir Oktober 2021, aku beserta relawan lain berangkat menggunakan mobil Grand Max dari Medan Kota menuju beberapa titik tempat di Sumatera Barat.

Dalam kegiatan itu, aku bertemu dengan banyak orang-orang hebat.

Sepupuku jadi salah satu.

Ahmad Ridho namanya, seorang aktivis sosial yang sudah malang melintang dan sering turun ke lokasi bencana yang ada di seluruh Indonesia. Beliau memulai perjalanan sosialnya tidak lama setelah ayahnya meninggal dan kemudian menjadi orang yang sangat religius. Dalam proses berubah menjadi lebih baik itu, sepupuku akhirnya bergabung ke salah satu NGO dan untuk kali pertama turun ke lokasi bencana yang tak jauh dari tempat tinggal kami, Sumatera Utara.

Ada juga Kak Indri, seorang pendongeng handal (bukan sarkas) yang lihai memainkan boneka tuk menghibur sembari mengedukasi anak-anak dengan cerita-ceritanya.

Ada juga Bang Willy, seorang penggemar olahraga ekstrem yang senang membantu sesama.

Terakhir, ada Bang Tarmizy Harva, seorang fotografer senior yang pernah menjadi fotografer di Reuters dan pernah mendapatkan penghargaan dari World Press Photo.

Jujur, aku sebetulnya lupa-lupa ingat dengan keseluruhan momen perjalanan kami, itulah salah satu dari sekian banyak faktor yang mendasari komitmenku untuk kembali menulis dengan rutin, apapun itu; termasuk ingatan-ingatan kecil yang pernah terjadi di masa lalu, seperti ingatanku ketika berbincang dengan mantan fotografer media Internasional, Tarmizy Harva, dalam perjalanan kami survei lokasi.

***

Tiga hari dua malam kuhabiskan waktu bersama relawan dalam perjalanan.

Banyak hal yang kami lakukan, banyak topik yang kami bicarakan.

Tapi, begitu banyaknya momen perjalanan itu, hanya sedikit yang benar-benar bisa kuingat; salah satunya momen di mana aku berbincang dengan Bang Tarmizy yang bahkan aku tak ingat apa yang mengawali perbincangan kami yang cukup dalam kala itu.

Di kesempatan tersebut, Bang Tarmizi menyampaikan: “Salah satu kunci menjadi seorang fotografer yang baik adalah, selalu menganggap kita orang asing di lingkungan kita sendiri.”

Awalnya, aku bingung dengan apa yang disampaikan Bang Tarmizy, namun, setelahnya, beliau memberikan penjelasan tentang mengapa kita harus senantiasa menganggap kita orang asing, bahkan di lingkungan kita sendiri:

Sederhananya, saat kita berlibur ke suatu tempat yang tak pernah kita lihat, kita akan lebih peka dan lebih detail memperharikan apa saja yang ada dan yang terjadi di sekitar kita; entah langit biru dengan barisan awan putih yang selalu memberikan gambar berbeda setiap harinya, burung-burung dan binatang kecil yang berhasil menghadirkan kesan tak biasa, juga budaya orang-orang yang tak pernah kita kenal dan lihat sebelumnya.

Sebagai orang asing, tentu kita selalu ingin tahu dan berusaha memperhatikan lebih dalam.

Padahal, sesuatu yang menurut kita tak biasa itu, tentu juga terjadi di lingkungan tempat tinggal kita; langit yang kita lihat antara hari ini dan besok, tentu tak sama. Susunan awan, kicau burung yang nadanya selalu berbeda, pancar cahaya mentari, dan hal-hal kecil lain yang kalau diperhatikan lebih dalam, jelas berbeda setiap harinya.

***

Perbincangan itu membuatku sadar dan mengingat apa yang harusnya aku pertahankan sejak dulu.

Menjadi seorang seniman, sudah semestinya kita gunakan hati dan peka kita dalam menyimak apa saja yang terjadi di sekitar; itulah yang membedakan antara seniman dan orang-orang pada umumnya.

Seniman, sudah semestinya punya peka yang tinggi pada sesuatu, sehingga ia bisa menghasilkan karya yang benar-benar punya makna. Kuncinya ada di peka dan rasa.

Bukankah semua hasil karya para seniman adalah buah dari renungan pikiran panjang yang ditumpahkan ke dalam bentuk yang lain?

Ada yang menumpahkannya menjadi sebuah lagu, lukisan, juga tulisan.

***

Perlahan, aku bisa rasakan diriku yang dahulu seperti kembali lagi.

Jiwa senimanku seperti hadir kembali dan aku akan berusaha tuk terapkan nasihat di atas dan terus mempertahankannya mulai detik aku menuliskan ini hingga aku mati nanti. aku harus melatih peka agar tak mati rasa; agar aku bisa melihat hal-hal kecil di lingkunganku yang tentu selalu berbeda setiap hari, bahkan setiap detiknya.

Aku punya harap yang besar agar aku bisa kembali menjadi penulis; seperti yang sudah kucita-citakan sejak dulu dan sudah kuputuskan sejak bertahun-tahun lalu. Dan, aku berharap, aku bisa membangun dan mempertahankan konsistensi menulis sampai kelak aku mati dan tak ada lagi di dunia ini.

— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.

📝Tulisan ini terbit pertama kali di Medium,
14 Desember 2024.

Tinggalkan komentar