(87) Khawatir Akan Masa Depan

Semakin dewasa usia, makin banyak kekhawatiran dalam kepala; salah satunya tentang akan seperti apa masa depan nanti.

Sudah di umur yang segini, aku masih saja terjebak dalam kekhawatiran seperti remaja-remaja yang mulai menginjak fase dewasa. Barangkali ini terjadi karena aku terlalu santai dalam menjalani kehidupan; tidak punya tanggungan itu dan ini yang buat aku merasa cukup saat kebutuhan diri sudah terpenuhi.

Padahal, hidup seharusnya tidak seperti itu.

Mestinya kita merencanakan kehidupan dengan sangat-sangat baik dan menatanya agar masa depan yang diresahkan itu tidak perlu lagi dikhawatirkan.

Iya, aku tahu manusia punya kebebasan memilih jalan hidup.

Keyakinan itulah yang aku pegang sejak aku berada di tahun ketiga Sekolah Menengah Atas; yang buatku mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dan memilih menjadi seorang penulis penuh waktu.

Keputusan ini juga pernah aku katakan langsung pada Ibu dari seorang wanita yang aku cintai; pada saat aku berkunjung ke rumahnya dan hendak menyatakan cinta, sebelum aku menyesal karena memendam perasaan tanpa pernah diungkapkan padanya.

Wajar saja, karena saat itu kami sudah selesai wisuda dan akan melanjutkan rencana masing-masing yang jelas berbeda jalannya.

***

Bagiku saat ini, itu adalah keputusan yang salah.

Mestinya aku tidak terburu-buru; yang harus aku lakukan ialah mencari lebih banyak pengalaman agar punya banyak bahan untuk diceritakan.

Barangkali itu kenapa resah dan khawatir terus menghantuiku hampir setiap malam.

Keresahanku malam ini dan selalu berulang di malam-malam sebelumnya adalah, “akan jadi apa aku di masa depan nanti?”

Mudah saja bagiku menjawab setiap pertanyaan dalam kepala, namun seringkali saat hari esok telah tiba, aku mendadak lupa dan kembali menjadi orang yang seperti sebelumnya; terlalu santai menjalani hidup karena merasa hidup yang saat ini dijalani sudah lebih dari cukup. Termasuk pertanyaan di atas. Aku punya jawabannya, namun urung menjalankannya.

***

Tapi kali ini, aku akan coba mengusahakan pembenahan dan menata kembali hidup dengan baik dan fokus pada tujuanku. Dan aku akan mengawalinya dengan konsisten menulis setiap hari di Medium; seperti mimpi dan rencana yang telah kubuat, lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

Manusia, kita, kadang itu lucu; selalu mempertanyakan sesuatu yang sebenarnya sudah tahu jawabannya.

Sama seperti saat aku menanyakan akan jadi apa masa depan nanti? Bukankah itu adalah pertanyaan yang salah? Mestinya tidak perlu menanyakan pertanyaan seperti itu, karena akan jadi apa itu, kita sendiri yang menentukan dan berusaha untuk sampai pada tujuan yang telah kita rencanakan.

Aku pun begitu.

Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, aku sudah membuat keputusan besar dalam hidup.

Di saat semua teman sekolah sedang sibuk merencanakan akan masuk ke perguruan tinggi yang mana, aku sibuk bersantai dan menikmati hari dengan damai karena merasa sudah punya keputusan besar yang sebelumnya pernah kukatakan; tidak melanjutkan pendidikan dan fokus jadi penulis penuh waktu; yang pada saat itu aku pun tidak tahu kalau ternyata jalan yang kutempuh adalah jalan yang tidak mudah; jalan yang berliku dan mesti dilalui dengan berdarah-darah.

***

Tapi, kini, aku akan kembali menempuh jalan itu; jalan yang pernah kulalui dan pernah aku rasakan manisnya menjadi seorang penulis yang memiliki banyak pembaca. Meski kini tidak seramai dulu, aku akan tetap menempuh jalan sunyi ini.

Itulah kenapa aku mulai aktif menulis di sini; meski belum bisa menerbitkan tulisan setiap hari. Setidaknya aku sedang berusaha membangun konsistensi itu;

Perlahan, satu persatu.

Aku tidak tahu apakah tulisan ini nyaman kamu baca, sebab aku menuliskan ini sebelum tidur dan dalam keadaan mengantuk sengantuk-ngantuknya ngantuk.

— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.

📝Tulisan ini terbit pertama kali di Medium,
8 Desember 2024.

Tinggalkan komentar