(86) Perfeksionis Itu Membunuhku

Barangkali, antara kita, ada yang pernah mendengar sebuah analogi yang sering digunakan sebagai contoh kenapa perusahaan besar jauh lebih sulit untuk berubah dibanding dengan perusahaan kecil yang sedang merintis.

Analoginya: kapal besar dan perahu kecil.

Alasan kenapa perusahan besar sulit untuk berubah, karena, ibarat kapal pesiar raksasa, butuh waktu lama kapal untuk berbelok arah sepenuhnya. Badan kapal yang besar membuat nakhoda perlu menahan kemudi lebih lama agar ekor kapal bisa ikut berbelok sepenuhnya.

Sedangkan perahu kecil, berbeda, lebih mudah, saat kemudi dibelokkan, seluruh badanya bisa berbelok saat itu juga.

Analogi di atas terbilang sering dipakai oleh motivator bisnis dengan membandingkan antara perusahaan besar dan perusahaan kecil saat hendak berbenah mengubah arah.

***

Tulisan ini sebenarnya bukan tentang kapal besar dan perahu kecil; bukan pula tentang perusahaan besar dan perusahaan kecil.

Jujur saja, aku sendiri sebenarnya bingung mau melanjutkan ke mana arah tulisan ini.

Awalnya, aku ingin menuliskan tentang sifat perfeksionis yang bisa menghancurkan diri kita, namun entah kenapa kumulai tulisan ini dengan membahas analogi tersebut.

Maklum, lama vakum menulis membuat kepalaku sering blank dan tidak jelas ke mana arahnya.

Tapi, tidak masalah.

Akan kubuat tulisan ini berhubungan dengan analogi dan contoh yang sudah kujabarkan di atas.

***

Belakangan, aku sadar dan tak lagi denial kalau ternyata aku sudah berubah menjadi orang yang perfeksionis.

Sudah lama sebenarnya sifat itu hadir, namun aku mulai sadar dan mulaibisa menerima semuanya belakangan ini.

Itu semua bermula karena aku sebagai penulis yang saat itu sedang merintis, mulai membesar dan memiliki banyak pembaca di media sosial; yang tanpa sadar membuatku menetapkan standar yang tinggi pada diri sendiri.

Nah, mulai masukkan pembahasannya? Masuk dong, ya? HAHAHAHAHAHA

Iya, nama yang mulai membesar, meski sebenarnya tak besar-besar amat, membuatku menetapkan standar yang tinggi pada diri sendiri; apalagi setelah aku mendapatkan proyek-proyek yang bernilai jutaan hanya untuk satu tulisan, itu menjadikan dan mengubah diriku yang rendah hati menjadi jumawa dan menganggap kalau tulisanku mahal harganya.

Aku tahu, setiap tulisan itu jelas berharga, termasuk tulisanku.

Wajar dan sah-sah saja sebenarnya aku beranggapan seperti itu. Tapi, yang buat semuanya menjadi salah ialah, ketika aku mulai merasa tulisanku patut dihargai mahal, maka aku hanya menulis jika ada yang mau membayar sesuai dengan harganya.

Itu yang membuatku mengurangi intensitas menulis; yang menjadikanku manusia gagal seperti sekarang ini.

Mengurangi intensitas menulis artinya aku tak lagi melatih diri dan mengasah kemampuan agar lebih baik lagi, sehingga itulah yang buat kemampuanku menurun dan meredup; aku tak lagi bisa menulis selincah dan selancar seperti sebelumnya.

Tak hanya itu, sifat perfeksionis ini juga membunuh semua rencana dalam melahirkan karya demi karya tulis yang baru.

Semakin besar nama, tanpa sadar semakin tinggi pula standar yang aku terapkan pada diri sendiri.

***

Pernah aku ditawari menulis buku oleh salah satu penerbit ternama di Indonesia, cukup besar namanya.

Kuiyakan tawaran itu dan mulai menulis dengan khusyu’.

Namun, di tengah proses menulis, urung kulanjutkan sebab tak suka dengan beberapa bagian alur yang kubuat sendiri. Kala itu, aku tak bisa lanjutkan karena merasa kurang sempurna hasilnya.

Iya, jelas, itu pola pikir yang salah. Aku tahu itu.

Tak ada manusia yang bisa langsung perfect pada percobaan pertama, kan?

Untuk menuju hasil yang sempurna, atau kata yang tepat mungkin hasil yang baik, karena kesempurnaan hanya milik Allah, tentu butuh beberapa kali sunting agar hasilnya bisa jauh lebih baik dari saat kita memulai.

Bukankah semua perlu proses dan itu jelas tidak instan.

Namun, jumawa karena merasa punya banyak pembaca membuat aku benci dengan yang namanya proses.

Karena merasa begitu hebatnya diri bisa menulis tulisan panjang hanya dalam waktu kurang dari tiga puluh menit dan tanpa harus kusunting berulang-ulang.

Padahal, masa-masa itu sudah berlalu.

Kaitannya dengan analogi kapal besar dan perahu kecilnya di mana, ya? Padahal itu tadi sudah masuk, tapi makin ke sini malah makin ke mana-mana.

Karena keterbatasan waktu, kurang lebih itu yang bisa kutuliskan dalam jurnalku kali ini.

Sekian dan terima kasih.

— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.

📝Tulisan ini terbit pertama kali di Medium,
6 Desember 2024.

Tinggalkan komentar