(85) Membangun Kebiasaan Menulis

Mari kita kembali ke tahun 1990, ketika Dilan berkata pada Milea kalau rindu itu berat.

Benarkah? Tentu relatif.

Akan tetapi dalam kesempatan kali ini, aku ingin jadi orang yang tak asik dengan membanding-bandingkan apa yang jauh lebih berat dari rindu; yaitu membangun konsistensi menulis.

***

Dalam kehidupan yang kujalani saat ini, membangun konsistensi menulis jauh lebih berat daripada merindukan seseorang; apalagi jika orang itu tidak pernah menganggap kita ada.

Namun, ada kesamaan antara rindu dan konsistensi menulis.

Keduanya harus sama-sama konsisten.

Agar rindu hadir dalam diri saat seseorang sedang jauh, kita harus konsisten mempertahankan perasaan kita pada orang itu; baik di hati dan pikiran. Konsistensi mencintai dan memberi perhatian pada yang kita cinta itulah yang akan membuat rindu itu hadir.

Jika tidak, maka mustahil rindu mampir.

Begitu juga dengan konsistensi menulis.

Caranya satu: konsisten.

***

Belakangan ini, aku cukup sering membaca tulisan Uda Ivan Lanin yang tersedia di Medium.

Tujuannya satu, ingin memecut diriku agar membangun keinginan dan minat menulis dengan melihat konsistensi orang lain ketika melakukan sesuatu yang kusenangi.

Semacam memicu sifat yang kompetitif.

Namun karena aku bukan orang yang punya ambisi besar dan selalu menginginkan hidup yang santai, akhirnya cara itu percuma saja.

Tapi, akhirnya, kudapatkan satu kebiasaan lama yang sudah hilang cukup lama; kebiasaan membaca.

***

Sejujurnya, aku benci dengan diriku yang sekarang.

Mengapa aku tidak melatih diri dan malah menjalani hidup terlalu santai?

Dahulu, dalam satu bulan, aku bisa membaca tiga sampai lima buku.

Sekarang?

Satu buku dalam satu bulan sulit sekali rasanya.

Dahulu, aku bisa membuat tulisan panjang hanya dalam waktu tiga puluh menit tanpa harus disunting ulang.

Sekarang?

Membuat tulisan ini saja memerlukan waktu dua hari lamanya.

Aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku.

Barangkali, benar yang dikatakan motivator bisnis yang harga seminarnya begitu fantastis dengan kata-kata yang bombastis.

Kita harus punya growth mindset.

Apa itu?

Sederhananya ialah pola pikir yang meyakini kalau kemampuan dan kecerdasan seseorang itu bisa berkembang melalui usaha, belajar, dan ketekunan.

Dan untuk melakukan itu, kita harus menjadi individu yang suka akan tantangan.

Yup! Itu poinnya.
Aku tidak menyukai tantangan.

***

Sudah lama aku kehilangan motivasi, yang membuat aku tak lagi punya ambisi mencapai titik itu dan ini.

Sampai detik menuliskan ini, aku masih mencari motivasi itu.

Atau mungkin lebih tepatnya mencari alasan kenapa aku harus tetap hidup sehingga aku bisa punya alasan kuat meraih sesuatu capaian seperti orang-orang pada umumnya.

Tapi, semua butuh proses; semua butuh waktu. Satu persatu.

Saat ini, yang perlu kulakukan ialah membangun kebiasaan menulis.

Jika tidak bisa setiap hari seperti apa yang dilakukan Uda Ivan Lanin, setidaknya satu minggu sekali.

Bukankah itu jauh lebih baik daripada tidak ada sama sekali?

Kan membangun kebiasaan itu perlu menjadi terbiasa.

Meski dahulu pernah terbiasa, namun jika sudah tak lagi terbiasa maka sudah tidak biasa.

Apa sih?

Hahahaha

— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.

📝Tulisan ini terbit pertama kali di Medium,
3 Desember 2024.

Tinggalkan komentar