(84) Niat Saja Tidak Cukup

Karena terpantik Uda Ivan Lanin yang aktif menulis setiap hari di Medium, aku pun sedang berusaha membangun konsistensi dalam menulis. Mulai hari ini, akan kutuliskan banyak hal; mulai dari yang sederhana, personal, atau apapun yang ada di kepala yang ingin ditumpahkan.

Intinya, aku harus terus menulis agar otak tidak mati, sekaligus bisa menjadi saranaku merenung dan merefleksi diri.

***

Setengah tahun sudah kujalani hidup baru di negara orang, selama itu pula kubangun kebiasaan baru agar bisa hidup lebih disiplin dari diriku yang sebelumnya.

Ketika masih di Indonesia — selepas keluar dari pekerjaan sebagai personal assistant direktur production house—hidupku bisa dikatakan amat berantakan; jam tidur tak tentu, pola hidup tak sehat, dan kepala yang selalu kupaksa mengeluarkan sesuatu yang bisa jadi pundi-pundi dan pemicu rezeki.

Itu adalah salah satu keputusan besar yang pernah kubuat dalam hidup; keluar dari pekerjaan dan memutuskan menjadi penulis penuh waktu tanpa pertimbangan yang matang dan jauh.

Apakah itu keputusan yang salah? Tidak juga.

Tapi, aku juga merasa kalau itu bukan keputusan yang tepat untuk dipilih.

***

Kuakui, berhentinya aku dari pekerjaan itu memang tanpa pertimbangan yang matang. Keputusan itu kupilih lantaran aku mulai merasa tak nyaman dengan pekerjaan yang kujalani. Bukan karena job desk-nya, ini lebih soal personal, perihal karakter yang tidak sesuai denganku, yang membuatku selalu kesal dan menggerutu.

Setelah berhenti, aku dihadapkan kebingungan perihal pendapatan.

Perlu diketahui, menjadi seorang penulis itu tidak bisa membuat kita kaya. Setidaknya di Indonesia.

Ini fakta!

Coba sebutkan siapa penulis Indonesia yang hidup dalam keberlimpahan harta yang murni pendapatannya dari karya tulisnya? Aku bukan mengatakan tidak ada, tapi faktanya memang sedikit penulis yang bisa hidup murni hanya dari karyanya.

Itu yang dahulu tak kupertimbangkan.

Namun, dari situ juga aku belajar agar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Meski tempat kita bekerja saat ini tak terasa nyaman, kita harus mengerti kalau pekerjaan yang dijalani saat ini yang memberikan penghidupan.

Jika memang sudah tak tertolong dan mengganggu, solusi yang bisa kita lakukan ialah keluar dan kemudian pindah ke tempat yang bisa buat kita merasa nyaman.

Tapi, ada yang perlu kita pertimbangkan; pendapatan.

Apakah pendapatan kita di tempat yang baru nanti cukup tuk memenuhi kebutuhan hidup kita dan tanggungan lainnya?

Atau, malah buat semakin merana?

Melakukan pekerjaan yang kita cinta?

Kupikir, ungkapan ini tak bisa diterapkan pada kita, manusia-manusia yang belum merdeka ekonominya.

Daripada memaksakan diri melakukan pekerjaan yang dicinta, bukankah lebih baik mencintai pekerjaan yang saat ini kita jalani?

Idealisme masa muda memang bagus, tapi, kita juga harus realistis bukan?

***

Setelah keluar dari pekerjaan, kupikir aku bisa menghidupi diriku dengan karya tulisku, namun nyatanya, itu malah mengantarkanku pada hidup yang tak bertumbuh; berantakan, tak berkembang, dan hidup dalam sebuah fase begini-begini saja.

Sering kutuliskan dalam jurnalku, kalau saat ini aku sedang berusaha keras menata kehidupan. Terkadang, jenuh-jenuh itu hadir, yang buat diriku enggan bertahan pada realitas dan rutinitas. Namun, aku sadar, hidup harus berlanjut dan selalu melaju pada jalan yang sudah dipilih; sudah seharusnya aku menempuh hingga sampai di ujung perjalananku.

Bukankah dunia ini memang tempat penghukuman bagi anak cucu Adam?

Rutinitas hidup yang hampir selalu sama setiap harinya, seperti sedang menjalani hukuman di penjara; dan jika kita menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya, maka yang akan kita dapati ialah bebas yang nyata.

***

Aku juga sadar, usiaku tak lagi bisa dikatakan muda.

Kesadaran itulah yang buat aku mengubah kebiasaan; mengesampingkan idealisme dan menjalani kehidupan seperti orang-orang pada umumnya.

Perlahan, aku harus mengubah hidup yang tadinya begini-begini saja, menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Kuperbaiki satu persatu.

Mulai dari pola tidur, banyak membaca, membangun pola hidup sehat dengan berolahraga dan menjaga makan, dan hal-hal lain.

Saat ini, aku juga berusaha membangun kebiasaan menulis.

Bicara soal mengubah diri menjadi lebih baik, aku jadi teringat pada satu ayat yang bunyinya:

“Allah tidak akan mengubah suatu kaum (seseorang), apabila ia tidak ingin atau tidak mau mengubah nasibnya sendiri.” (Ar-Rad: 11)

Ayat di atas, memang tak bisa kita tafsir secara sembarang, tapi, dengan sederhana, kita bisa petik sebuah makna, bahwa, tak ada yang bisa ubah kita selain diri sendiri.

Niat saja tak cukup, kita harus bergerak dan melakukan tindakan nyata mengubah diri kita menjadi lebih baik, setidaknya dari kita sebelumnya.

***

Aku tak tahu apakah tulisan ini akan mengalir dan enak tuk dibaca. Sebagaimana umumnya penulis baru, aku hanya ingin menulis sembari evaluasi diri agar bisa menulis lebih baik dari tulisan-tulisan sebelumnya.

Jujur, aku pun tak sabar melihat diriku yang akan berkembang dari waktu ke waktu. Meski ada ragu dalam diriku bila jenuh-jenuh itu kembali hadir, tapi aku punya pilihan, apakah akan menyerah atau tetap menghadapi, bertarung, dan menempuh jalan yang sudah kupilih.

— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.

📝Tulisan ini terbit pertama kali di Medium,
3 September 2024.

Tinggalkan komentar