Apa yang akan kamu rasa ketika mimpi yang didamba akhirnya menjadi nyata dan bahkan jadi lebih besar dari yang kamu duga?
Senang?
Bahagia?
Angkuh?
Atau biasa saja?
***
Pagi ini, dengan persiapan seadanya, aku ingin kembali melakukan perjalanan mingguan; mencari tempat kopi di tempat yang jauh dari tempat tinggalku.
Setelah menyantap sarapan dengan lele goreng yang nasinya dilumuri gulai, cabai, dan bumbu rendang di rumah makan minang yang terbilang enak untuk sekelas rumah makan yang menyajikan masakan Indonesia di negara orang dan setelah motorku bersih dicuci oleh orang lokal, aku bergegas memutar gas dan memulai perjalanan.
Kali ini, aku sudah menentukan kedai kopi mana yang akan kudatangi.
Tidak seperti perjalanan sebelumnya yang serba mendadak; bahkan helm saja baru kubeli pada saat itu, persiapan perjalanan kali ini sudah lebih dari cukup meski sederhana; aku hendak mampir ke salah satu kedai kopi di pusat kota negara, tepatnya di tepian sungai terbesar di Asia Tenggara yang alirannya melintasi beberapa negara.
Barangkali ada yang belum tahu kalau saat ini aku sudah tak lagi tinggal di Indonesia. Sementara, aku sedang menetap di sebuah negara yang jauh dari rumah. Hidup sebagai orang biasa, berbaur dengan pejuang devisa, dan sibuk mencari banyak cerita untuk meraih mimpi menjadi penulis yang sempat pupus di tengah jalan.
***
Kembali pada kalimat pembuka tulisan ini.
Apa yang akan kamu rasa ketika mimpi yang didamba akhirnya menjadi nyata dan bahkan jadi lebih besar dari yang kamu duga?
Inilah sebuah cerita sederhana perihal meraih dan mendapatkan impian itu, namun nyatanya semua semu.
***
Di tengah perjalanan yang butuh dua jam waktu tempuh, ada begitu banyak tanya yang bikin kepalaku penuh.
Berisik. Kepalaku amat berisik. Bahkan musik yang keluar dari earphone wireless pun kalah berisik.
Inilah salah satu tujuanku berkendara sendirian dengan jarak yang jauh. Tak sekadar menuju tempat kopi, tetapi aku ingin menikmati refleksi diri sepanjang perjalanan di atas motor yang kutunggangi.
Kali ini, kepalaku mempertanyakan tentang mimpi itu; keinginan itu.
Dalam jurnalku, pernah aku menulis kalau aku adalah manusia yang gagal meraih mimpi.
Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, itu tak sepenuhnya benar.
Iya, aku gagal, tetapi bukan berarti aku tidak pernah mencapai titik itu; titik di mana aku meraih apa yang kuimpikan dalam hidupku.
Sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, apa yang kucita-citakan sudah bulat kutentukan.
“Aku ingin menjadi seorang penulis” ujarku penuh yakin pada teman sebangku ketika ia menanyakan apa yang akan kulakukan setelah kelulusan. Dan, karir itu sudah kumulai sejak kelas sebelas.
Di tahun kedua Sekolah Menengah Atas, hari-hariku penuh dengan sibuk; membaca buku yang didominasi novel-novel remaja dan menuliskan berbagai hal yang ingin kutumpahkan dalam blog pribadiku yang umumya tentang motivasi dan nasihat-nasihat kehidupan, yang sebenarnya itu ditujukan untuk diri sendiri.
Saat itu aku sedang dalam kondisi pelik-peliknya menjalani kehidupan setelah keluar dari jeratan keluarga yang rumahnya penuh dengan masalah.
***
Di tahun ketiga, semakin kubulatkan tekad fokus menjadi penulis. Keputusan itu membuatku mengabaikan persiapan menuju jenjang perguruan tinggi.
Di saat teman-teman lain sibuk mempersiapkan segala sesuatu; memilih jurusan serta kampus yang akan dituju, aku justru tidak peduli dan mengisi dengan asal formulir pemilihan jurusan juga kampus yang diberikan oleh pihak sekolah saat itu.
Sejujurnya, itu bukan faktor utama.
Aku yang berlatar belakang dari keluarga menengah bawah, tentu ekonomi jadi salah satu faktor penghambatnya.
Meski sebenarnya bisa diusahakan, tetap saja aku enggan.
Aku tak ingin punya hutang budi yang kelak akan diungkit-ungkit saat aku menjalani hidup tak sesuai dengan keinginan mereka. Intinya, aku ingin lepas dari keluarga; hidup mandiri dengan caraku sendiri.
***
Bertahun-tahun kemudian, setelah berhasil melahirkan dua buku yang ditulis secara kolektif dengan beberapa penulis lain, sempat aku dapatkan tawaran dari penerbit baru yang didirikan oleh editor senior yang kala itu menghentikan perjalanan kariernya dari penerbit besar dan memulai lembaran cerita baru dengan membangun penerbit sendiri.
Tawaran itu berupa ajakan menjadi penulis yang bukunya akan diterbitkan pada awal-awal mereka berdiri dan mendebutkanku menjadi penulis sungguhan; dengan nama tunggal tertera pada sampul halaman dan acara peluncuran buku yang waktu itu belum pernah aku rasakan.
Impian itu menjadi kenyataan. Bahkan melampaui apa yang kuekspektasikan.
Karya debut perdanaku akhirnya tersebar di seluruh toko buku tanah air. Bahkan ketika kudatangi salah satu toko buku di sebuah pusat perbelanjaan di Bogor Kota, aku melihat buku itu terpajang pada rak utama yang letaknya tepat di depan pintu masuk.
Ada debar yang tak bisa dijelaskan ketika melihat karya yang kutulis berbulan-bulan dan sudah tak terhitung berapa banyak gelas kopi yang sudah kuhabiskan, bisa terpajang rapi di rak toko buku ternama dan bersanding dengan buku-buku lainnya.
Belum juga selesai merasakan bahagia sebab buku yang kutulis bisa tersebar ke seluruh penjuru Indonesia, awal tahun 2018, debar yang tak bisa kujelaskan kembali muncul, bahkan getar debarnya lebih dari yang sebelumnya; penerbit menghubungiku tiba-tiba dan membahas perihal janji tentang peluncuran buku.
Hatiku benar-benar bahagia bukan main.
Jelas saja, ini belum pernah terjadi dalam hidupku.
Dan, yang semakin menambah rasa gembira di dada, peluncuran buku itu diadakan di toko buku terbesar di Indonesia, Gramedia Matraman, Jakarta.
***
Acara peluncuran buku itu, tidak hanya terkhusus untukku.
Penerbit punya ide yang lebih besar lagi, mengadakan peluncuran buku kolaborasi dengan penulis lain.
Ada tiga penulis.
Pertama, Fauzan Mukrim, seorang jurnalis senior dari salah satu media besar ternama di Indonesia.
Kedua, Boy Candra, seorang penulis yang amat begitu dikenal dengan beragam karyanya yang memenuhi rak-rak Gramedia.
Iya, Boy Candra yang kutipannya tersebar luar di seluruh penjuru internet; yang tulisannya sudah dibaca oleh jutaan mata.
Dan, terakhir, yang ketiga, diriku sendiri, Dayat Piliang, bukan siapa-siapa; hanya seorang pemuda yang baru saja meraih impiannya.
Mulanya, aku sempat ragu saat penerbit rencana itu dengan detail padaku. Di saat itu juga kuutarakan ragu lewat saluran telepon pada Gita Romadhona, pimpinan redaksinya.
Namun, Mbak Gita memberikanku dorongan penyemangat dengan kata-katanya; yang buatku tergerak dan segera mengatakan siap sedia terlibat dalam konsep acara yang sudah dirancang sedemikian rupa, sehingga tugasku hanya datang saja menjadi tamu acara.
***
Singkat cerita, akhirnya aku telah meraih apa yang kuimpikan sejak dulu; bahkan prosesnya lebih cepat dari yang kubayangkan.
Di saat banyak penulis berjuang agar naskahnya bisa diterbitkan oleh penerbit mayor, aku sudah berada pada titik mendapatkan tawaran menulis dari berbagai penerbit ternama di Indonesia.
Iya, aku tahu, ada faktor lain, yakni eksposur media sosial yang membuatku dapat semua kesempatan itu. Namun, itu tak bisa dianggap remeh dengan pernyataan “kan dia bisa begitu karena punya banyak pengikut”.
Perlu kita tahu, untuk mendapatkan banyak pengikut di media sosial, jelas itu bukan hal mudah; dan aku membutuhkan waktu yang tidak sebentar membangun semua itu.
Ada proses yang panjang dan ada usaha yang tak kenal lelah serta konsistensi yang pantang surut di saat hidup sedang lelah-lelahnya.
***
Meski sudah mencapai apa yang kuimpikan, namun kini, aku justru tidak benar-benar bahagia.
Maka, benarlah kata orang, jauh lebih sulit mempertahankan sesuatu daripada mendapatkannya.
Berbulan-bulan setelah aku mendapatkan itu semua, aku dilanda depresi yang luar biasa; aku dilenyapkan oleh tenar dan pencapaian yang fana dan tak lagi menjadi diri sendiri; aku tak lagi menulis untuk diriku, aku dihancurkan oleh larutnya aku pada hal-hal yang semu.
Benar memang aku sudah meraih apa yang kuimpikan, akan tetapi ini seperti anak ikan yang punya impian ingin berenang di lautan, namun ia tak sadar sebenarnya sudah berada di sana.
Aku sadar sudah sampai pada titik impianku, tapi aku lupa kalau semua harus dipertahankan.
Bukan tenarnya, melainkan kesehatan nalar.
Terbukti, setelahnya, aku tak merasakan apa-apa.
Euphoria itu kemudian hilang dan lenyap ditelan realitas kalau aku sebenarnya bukan apa-apa, bukan siapa-siapa; kalau sebenarnya setelah mencapai titik itu mestinya aku mempertahankan diriku, bukan larut pada tenar yang berujung pada hilangnya jati diri dan prinsip-prinsip hidup yang selama ini kupegang teguh.
***
Setelah dua jam melintasi jalur lintas dari kota kecil, akhirnya aku sampai di kedai kopi yang berada tepat di sebelah istana raja.
Kuparkirkan motor dan bergegas masuk untuk memesan secangkir es kopi susu. Sebagai perokok aktif, kuputuskan untuk menempati meja di selasar dengan pemandangan sungai besar yang bercabang.
Di tempat aku menuliskan ini, aku bisa melihat orang-orang berlalu lalang dengan beragam kesibukan, jalan yang bersebelahan dengan sungai, dan gerombolan burung-burung merpati yang selalu siap diberi makan oleh orang-orang yang membeli butir jagung kering dari pedagang.
Suasana ini sudah lebih dari cukup tuk membuat tenang dan meredakan pusing dari peranku yang saat ini menyamar menjadi seorang pekerja di negara orang; meredakan pelik-pelik pikiran perihal masa lalu yang kini hanya bisa kukenang.
Jujur, aku benar-benar ingin melepaskan diri dari impian itu dan hidup menjadi orang biasa seperti orang-orang pada umumnya.
***
Aku tak tahu apakah tulisanku kali ini menarik, punya alur, dan ada makna yang bisa dipetik.
Tak apa, kini aku tak perlu memikirkan hal itu; kan tujuanku kini hanya ingin menumpah apa yang ada dalam pikiran, dan ini sebagian kecil dari bising-bising pikiranku yang amat rumit dengan tata bahasa serta alur yang barangkali bikin kamu pusing saat membaca.
Sampai bertemu di jurnalku selanjutnya.
— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.
📝Tulisan ini terbit pertama kali di Medium,
21 Agustus 2024.

Tinggalkan komentar