Bagaimana jika di hari ulang tahunmu, tidak ada satu orang pun yang ingat dan tak seorang pun yang merayakannya?
Inilah ceritaku tentang aku yang tidak pernah dirayakan.
***
Saat aku menuliskan ini, aku sedang merayakan ulang tahunku yang kesekian seorang diri. Aku merayakannya dengan menikmati secangkir peach tea di sebuah kedai teh sederhana di perbatasan negara yang kini jadi tempat tinggalku untuk beberapa tahun. Beberapa kali kedai teh kecil ini sempat terlihat olehku, namun baru hari ini aku menyempatkan mampir dan menikmati suasana di dalamnya.
Setelah kuparkirkan motorku, kemudian aku turun dan mengambil sesuatu dari dalam jok motor yang dibuka dari samping; tas kecil berserta alat perang menulisku. Ketika aku melangkah mendekati pintu kedai teh yang sepenuhnya terbuat dari kaca, seorang pria dari toko sebelah datang mendekatiku. Dibukakannya pintu kaca itu dan menyuruhku agar tak melepaskan alas kaki jika hendak masuk.
Iya, negara ini punya budaya yang kurang lebih sama dengan Indonesia; ketika hendak memasuki suatu tempat, kita mesti membuka alas kaki. Setidaknya Indonesia pernah mengalami masa-masa itu; masa di mana kesopanan dan etika jadi hal yang paling dijunjung bersama. Namun kehidupan modern perlahan menggerus budaya itu sebab ada sebagian orang merasa membuka alas kaki adalah hal yang paling merepotkan; apalagi jika mengenakan sepatu. Iya, itu aku. Akulah salah satu dari banyak orang yang merasa hal-hal seperti itu amat merepotkan.
Lagipula untuk apa aku membahas hal itu di tulisan ini? Kan ini tulisan tentang aku yang merayakan ulang tahun sendirian; tanpa ucapan dan tanpa dirayakan. Tak apa, biar kalian juga bisa memahami betapa rumitnya isi kepalaku. Nikmati saja alur yang berantakan ini agar kalian bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi dalam diriku sampai-sampai aku sempat vakum beberapa tahun dan tak melahirkan karya baru.
***
Pria itu memberikan menu dari ponselnya yang tak bisa kubaca. Menu yang berupa gambar itu bertuliskan huruf negara asing yang berbeda; bukan Indonesia, bukan Inggris, bahkan bukan bahasa di negara yang kutempati saat ini.
Memang sudah jadi hal lumrah terjadi di negara perbatasan; tempat kedua negara bercampur baur dan hidup bersama. Seperti hidup dalam sebuah koloni, mereka menjalankan bisnis dengan menunjukkan identitas; yang bertujuan agar bisa saling dukung antar sesama warga negara di negara berbeda. Ditambah, kota kecil ini adalah kota bisnis yang sedang tumbuh begitu pesatnya.
Sesaat ia tahu aku tak bisa membaca tulisan itu, pria itu menggeser layar ponselnya dan menampilkan menu berbahasa Inggris. Aku pun langsung memilih Ice Peach Tea dan kemudian duduk di sebuah kursi dengan desain seperti yang ada di rumah-rumah barbie.
Dan di sinilah aku,
merayakan hari lahirku seorang diri.
***
Sejak dahulu, aku tak pernah suka dengan hari ulang tahun. Hidup dalam sebuah keluarga yang hancur dan dingin membuatku asing dengan hal-hal yang mestinya dirayakan.
Tidak ada yang peduli; atau lebih tepatnya mereka tidak pernah mau peduli dengan hal-hal seperti ini. Itu yang buatku memilih untuk mengasingkan diri saat hari itu tiba; dan aku tak pernah benar-benar terbuka pada seseorang ketika ditanya tentang hari lahirku ke dunia.
Selalu, di setiap tahun, saat mendekati hari lahirku, aku diselimuti rasa was-was dan berharap agar tidak ada satu orang pun yang tahu perihal kapan hari ulang tahunku tiba. Aku berharap tidak ada ucapan dan perayaan seperti yang terjadi di hidup orang-orang pada umumnya.
Bukan karena enggan, tetapi aku bingung bagaimana harus bersikap ketika hal itu terjadi pada hidupku.
***
Ini terbukti saat aku ulang tahunku empat tahun lalu.
Menjelang sore hari yang teduh sebab selatan Jakarta baru saja selesai diguyur oleh hujan, aku gelisah dan hendak pergi dari markas Kapitulis.
Pada tahun itu, aku memang tinggal di sana.
Tahun-tahun yang suram akibat wabah korona, memaksaku untuk tetap tinggal di Jakarta dan menghabiskan waktu setengah tahun akibat pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah negara. Saat kutahu pembatasan mulai dilonggarkan dan penerbangan sudah mulai dibuka dengan beragam persyaratan, aku sudah merencanakan untuk pergi ke Bogor kota; hendak menitipkan kucing kesayanganku Loca selagi aku kembali ke kota lahirku pada keesokan harinya.
Kami duduk di ruang tamu.
Saat itu hanya ada tiga orang termasuk aku; ada Zarry Hendrik selaku pemilik Kapitulis yang sedang menulis konten untuk media sosialnya, ada juga Agung Pamukti seorang tukang gambar asal Kendal yang jadi ilustrator Kapitulis paling diandalkan, dan aku yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk dan ikut duduk bersama mereka di meja ruang tengah.
Ada debar-debar yang mengucap harap jangan sampai ada yang tahu perihal ulang tahunku.
Namun sialnya, Zarry yang sedang aktif di Twitter tak sengaja berkunjung ke akunku dan melihat ada balon-balon di sana; menandakan si pemilik akun sedang memasuki hari lahirnya.
Geger!
Zarry kemudian mengumandangkan ke grup Whatsapp. Semua ucapan deras mengalir.
Tak berlangsung lama, Deva Mahenra — seorang aktor kawakan Indonesia yang juga jadi salah satu petinggi di Kapitulis — datang membawa kue lengkap dengan tulisan dan juga lilin.
Hari itu, aku benar-benar dirayakan.
Antara senang dan bingung, aku tak bisa menampilkan reaksi seperti orang-orang umum; bahagia dan canggung campur aduk yang menghadirkan ekspresi kikuk. Kali pertama dirayakan dengan seperangkat kue ulang tahun dan dirayakan oleh publik figur.
Sebelum makin ramai, aku izin pamit karena sudah ada janji ke Bogor kota untuk bertemu dengan teman yang berkenan dititipkan hewan peliharaan.
***
Itulah hari di mana ulang tahunku begitu semarak. Tak hanya sekadar ucapan di media sosial, namun perayaan di kehidupan nyata.
Dan tahun-tahun berikutnya, hal-hal itu tak lagi pernah ada. Iya, karena aku sudah merencanakan hilang sementara dari kehidupan, sehari sebelum ulang tahunku tiba.
Seperti tahun berikutnya, aku menghilang ke dataran tinggi di Sumatera Utara dan menghabiskan waktu di tempat penginapan yang kusewa dua malam.
Aku tak ingin hal-hal itu kembali ada; sebab aku takut akan ada kekecewaan yang besar saat mengharapkan hal itu terjadi lagi dan nyatanya tidak ada yang peduli sama sekali.
Kan semua ada masanya.
Pertemanan pun begitu juga.
Orang-orang akan ingat saat kita dekat, orang-orang akan peduli saat kita terlihat. Tapi, semua itu ada waktunya.
Bertahun-tahun aku belajar untuk mematikan harap agar tidak kecewa; salah satu caranya ialah dengan menghindari hal-hal yang nantinya akan menimbulkan harapan di hati kita.
Perayaan ulang tahun adalah salah satunya.
Aku tak ingin berharap banyak dengan ucapan dan perayaan yang suatu waktu akan tiba masa di mana kita merayakannya dengan sepi; dan aku tak perlu bersedih, kan biasanya memang tak diucapkan dan dirayakan.
***
Setelah secangkir peach tea yang kupesan sudah habis kuminum, aku menutup alat perang menulisku dan kembali ke asrama kantor.
Kurebahkan badanku ke atas kasur tipis sebagai alas besi-besi yang terlihat ringkih tapi gigih dan hanyut dalam tidur.
Akhirnya, tujuanku berhasil.
Seharian di hari ulang tahunku, tidak ada yang sadar kalau hari ini adalah hari lahirku.
Aku sempat sedikit was-was karena ada rekan kantor ada yang tahu tanggalnya dari hasil pencariannya di internet. Untungnya, di hari ini dia tidak masuk kerja dan tak ada yang membunyikannya ke rekan-rekan yang lain. Kedamaian di hari lahirku pun bisa kunikmati dengan kesepian dan kesendirian.
Inilah ketenangan yang kubutuhkan.
Aku ingin tak ada yang peduli dengan diriku; sampai-sampai saat aku tiba-tiba mati dan tak ada lagi di dunia ini, orang-orang tidak ada yang sadar dan tak ada yang coba mencari bahkan untuk bertanya dalam pikiran sekalipun.
Mengenaskan? Tidak juga.
Inilah yang kuinginkan.
— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.
📝Tulisan ini terbit pertama kali di Medium,
14 Agustus 2024.

Tinggalkan komentar