(81) Berkendara di Negara Orang

Belum lama aku tiba di kedai kopi kota ini, hujan langsung mengguyur membasahi seluruh jalanan.

Sejuk yang hadir menjadi sesuatu yang patut aku syukuri, namun kesal mendadak muncul sesaat kuingat kalau aku baru saja mencuci motor pagi tadi.

Sungguh $1.25 terbuang sia-sia.

***

Lebih kurang dua jam waktu yang harus kutempuh menuju pusat kota dari kota tempat tinggalku di negara ini.

Tanpa rencana, kupacu motor Zoomer X yang kubeli bekas seharga $750 dengan cara mencicil tiga kali ke salah satu orang Indonesia yang punya bisnis bengkel sekaligus jual beli motor.

Bisnisnya termasuk sukses di negara ini dan kenalannya pun bukan sembarang orang, jadi, tak salah dia bisa mendapatkan barang-barang bagus yang bisa dijual tuk mendapatkan keuntungan dari selisih nilai beli dan jual.

Enam bulan sudah aku hidup di negara antah berantah ini.

Belum terlalu lama memang, namun tak bisa dikatakan sebentar.

Bosan yang hadir perlahan menggerogoti diri; yang buat pikiran itu tiba-tiba saja muncul, apakah kali ini sudah benar langkah yang kupilih?

***

Memang sudah fasenya, saat aku menjalani sesuatu lebih dari enam bulan, mulai banyak tanya yang muncul di kepala tentang benar atau salah langkah-langkah yang sudah kupilih selama ini.

Bahkan, saat aku bekerja menjadi personal assistant seorang direktur perusahaan film tanah air, aku juga pernah berada dalam fase yang sama.

Kejadian itu memaksaku untuk menghubungi beberapa rekan yang punya latar belakang psikolog agar bisa berkonsultasi perihal masalah batin yang kuhadapi.

Aku sadar, itu terjadi karena rutinitas kerja yang membosankan dan dibarengi dengan banyaknya luang waktu; membuat perasaan itu muncul tiba-tiba.

Memang, hidup jangan terlalu monoton, agar kita bisa menikmati eskalasinya sebagai variasi kehidupan.

***

Karena tak ingin digrogoti oleh pikiran pelik seperti yang pernah kurasakan di masa lalu, kuputuskan tuk mencari kegiatan lain pada hari liburku.

Bulat keinginanku mencari kegiatan baru, berkelana menyambangi kedai kopi yang ada di negara ini; mulai dari yang terdekat dari kota tempat tinggal, bahkan sampai yang jauh.

Inilah cerita perjalananku melintasi jalanan di negara orang; menempuh dua jam perjalanan dengan menggunakan motor matic sederhana.

***

Mulanya, aku hendak menyambangi kedai kopi yang tak jauh dari kota tempat tinggalku. Butuh tiga puluh menit saja untuk ditempuh. Namun, tiba-tiba saja aku melewatkan kedai kopi itu dan melanjutkan perjalanan menuju pusat kota.

Lagi-lagi serba mendadak, tanpa rencana.

Demi aman kepala yang berisi pikiran-pikiran yang mesti kutumpahkan dalam tulisan; juga demi menghindari hal-hal yang berkaitan dengan hukum di negeri ini, kuputuskan tuk menepi dan mampir ke sebuah toko, membeli satu helm yang harganya sekitar $15.

Ini bukan kali pertama aku berkendara yang jauh menggunakan motor.

Di Indonesia, sudah biasa kulakukan itu; menempuh perjalanan jauh. Dari Medan ke Danau Toba, dari pulau Lombok ke pulau Dewata. Terlalu sering aku berkelana di dalam negeri, jadi melakukan sebuah perjalanan yang jauh sekalipun, bukan hal yang menegangkan dan tak lagi perlu kutakutkan.

Iya, jika itu di Indonesia.

Tapi, kalau di negara orang? Jelas beda ceritanya.

Berangkat dari toko helm, butuh satu setengah jam lagi aku untuk sampai ke kota. Meski hanya sendiri, aku menikmati perjalanan ini.

Kembali kupacu motorku dengan kecepatan yang tidak kutahu, karena speedo meterku tak lagi menyala. Maklum, kubeli bekas. Pasti ada saja kurangnya.

Sepanjang jalan, kulihat peradaban lain; peradaban yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Setelah kuperhatikan dengan seksama, ternyata negara ini tak jauh berbeda dari Indonesia; hanya beda sedikit dari budaya dan bahasa.

Selebihnya, sama saja.

Gambarannya mungkin seperti Indonesia sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Cukup tertinggal memang.

***

Setelah menempuh dua jam perjalanan, sampai juga aku di pusat kota. Bergegas kucari kedai kopi yang paling banyak rekomendasi.

Beruntungnya, aku hidup di era teknologi yang sudah berkembang jauh — bahkan aku hampir tak bisa mengikutinya.

Dengan teknologi canggih di era 4.0 ini, kita hanya perlu membuka aplikasi mesin pencari untuk mencari tahu apa yang kita butuh; atau kalau mau lebih detail lagi, saat ini kita bisa membuka aplikasi Tiktok untuk melihat konten-konten review tempat dari influencer yang ada di setiap negara.

Kubuka ponselku dan kucari pada mesin pencari ternama itu. Kulihat urutan pencarian paling atas dan bergegas aku menuju tempat yang pas.

Baru saja tiba, aku sudah dibuat takjub dengan satu hal yang mungin jarang kita temukan di Indonesia.

Jika di Indonesia, mayoritas tukang parkir tak ubahnya seperti preman yang memalak, tukang parkir di negara ini benar-benar bekerja dengan baik.

Saat aku hendak memarkirkan motorku, tukang parkir itu memberi isyarat dengan bahasa tubuh; menyuruhku untuk turun dari motor dan menyerahkan motorku padanya.

Diparkirkannya motorku dengan baik dan kuucapkan terima kasih dengan bahasa mereka.

Sedikit-sedikit, aku bisa.

Enam bulan waktu yang cukup bagiku untuk mempelajari kata-kata dasar yang bisa diucapkan dan dihafalkan dengan mudah.

Begitupun saat aku hendak pergi, tukang parkir itu menyuruhku untuk menunggu di tepian jalan, ia mengambilkan motorku dan menyerahkannya tepat di depanku sembari membersihkan jok motorku yang tadinya basah setelah diguyur hujan.

***

Mari kita kembali pada waktu aku baru tiba di kedai kopi ini.

Setelah mengucapkan terima kasih, aku berjalan menuju pintu masuk dan lekas membukanya. Kudapati ruang dengan interior yang asri dan suasana yang berhasil menghadirkan tenang. Nuansanya buatku merasa nyaman. Jelas begitu jomplang dengan keadaan luar yang bising sebab deru kendaraan.

Kujatuhkan tubuhku di salah satu kursi empuk yang disediakan. Pramusaji dengan sigap menghampiriku dan memberikan menu.

Kubuka buku menu itu dan melihat apa saja yang mereka sediakan.

Untuk harga, terbilang mahal jika dibandingkan dengan kedai kopi di kota tempatku tinggal. Rata-rata di atas $2.5.

Tapi itu bukan masalah besar.

Wajar saja, harga pusat kota tak bisa kita bandingkan dengan kota kecil di negara yang sama.

Bukankah di Indonesia begitu juga?

Setelah lama kuperhatikan menu, pilihanku jatuh pada ice coffee sweet milk dan french fries. Aku suka dengan hal-hal yang berbau sweet, karena aku adalah pria yang sweet untuk wanita yang kucinta, ehehehe.

***

Kuhabiskan waktu tiga jam berada di tempat ini, menyelesaikan tulisan jurnal yang sudah kupublikasikan di akun Medium-ku.

Ini adalah hari yang cukup menyenangkan bagiku.

Tidak salah keputusanku mencari kegiatan baru di satu hari dalam satu minggu.

Sesekali, aku keluar untuk membakar rokok Esse Change yang harganya hanya $1 saja, sembari menikmati suasana sekitar; melihat-lihat dan memperhatikan hal-hal yang sekiranya bisa kujadikan tulisan.

Tiga jam berlalu, aku harus kembali sebelum langit gelap. Karena akan sangat berbahaya bila aku berkendara pada malam hari di jalanan yang tidak begitu aku kenali.

Dua jam perjalanan untuk kembali dengan menelusuri beberapa jalanan gelap dengan banyak bahaya seperti perampokan pada warga pendatang, tidak bisa kita anggap remeh. Harus benar-benar waspada dan menjaga diri dengan tidak berkendara pada malam hari.

***

Begitulah perjalananku menghabiskan waktu libur dengan berkendara yang jauh di negara orang.

Aku tahu, tidak ada yang spesial dari tulisan ini.

Akupun tidak yakin apakah ada makna yang bisa didapatkan oleh kamu yang membaca ceritaku. Tapi, setidaknya inilah yang hendak kutumpahkan ke dalam sebuah tulisan.

Tak lagi aku peduli apakah ada yang membaca atau tidak.

Namun, agar tulisan ini bermakna, akan kusertakan kesimpulan dari perjalanan dan tulisan ini.

Dalam kehidupan yang bajingan ini, tentu akan ada fase di mana kita merasa lelah dan bosan dengan rutinitas yang sedang kita jalani; akan hadir perasaan di mana kita merasa memilih langkah yang salah; apalagi jika lingkungannya cukup menyebalkan dan tidak sehat bagi mental.

Bukankah realitas memang selalu seperti itu?

Mau ke manapun kita, hal-hal seperti itu tak bisa kita hindari. Itulah risiko yang mesti kita hadapi dalam kehidupan sosial dengan manusia-manusia lainnya; pasti ada saja dramanya.

Nikmati saja alurnya.

Jika merasa stress, cobalah cari kegiatan lain yang bisa buat kita melupa sejenak dari masalah-masalah kita.

Tak harus mabuk-mabukan di club malam; cukup berkelana yang jauh dan sesaat kembali lagi ke tempat kita semula; kembali menjalankan rutinitas membosankan yang barangkali sudah ada di tahap menyebalkan bagi kita.

Sabar-sabar saja, namanya juga hidup.

Semoga kita semua diberikan kuat-kuat yang banyak agar kita tetap kuat dan bisa menjalani hidup yang layak.

Sekian dan terima kasih untuk hari ini. Sampai bertemu di tulisan-tulisanku yang lain.

— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.

📝Tulisan ini terbit pertama kali di Medium,
10 Agustus 2024.

Tinggalkan komentar