Benar kata Falen.
Seorang editor salah satu penerbit besar di Indonesia itu mengatakan kalau kepalaku terlalu rumit berpikir; yang buat segalanya jadi terhambat.
Mestinya, aku sudah menjadi penulis besar saat ini; penulis produktif yang sudah melahirkan belasan karya; yang semuanya terpampang jelas di rak-rak toko buku ternama. Namun apa daya, kini semua telah sirna dan lewat begitu saja sebab aku sudah melewatkan banyak kesempatan yang selalu kusia-siakan.
***
Sejak tulisanku mulai diminati oleh masyarakat internet, banyak penerbit memberikan tawaran untuk menerbitkan karya tulisku bersama mereka. Setidaknya ada tiga penerbit besar yang pernah memberikan tawaran itu dan beberapa penerbit kecil lain yang siap mendukung mempublikasikan karya tulisku ke seluruh Indonesia.
Malangnya, tawaran itu mendadak lenyap seperti pesulap yang bisa menghilangkan objek dalam pertunjukkannya; atau kalau mau analogi lain yang lebih ekstrem, kita bisa gunakan seperti Soeharto yang melenyapkan orang-orang kritis di bawah rezim pemerintahannya.
Beginilah keadaanku sekarang, menjadi sampah di negara asing; seolah aku terbuang dari peradaban.
***
Aku belum bisa keluar dari fase quarter life crisis.
Sudah beragam cara kucoba, namun semua gagal; aku tak bisa menyelamatkan diriku sendiri.
Ini sebuah ironi.
Di saat ada banyak orang kuselamatkan dari masa-masa sulitnya dengan menyediakan telinga, justru aku semakin hilang arah dan terjebak pada jurang seram kalutnya pikiran.
Tak ada satupun yang memberiku ruang dan telinga untuk bercerita. Bukan salah mereka, barangkali aku yang tidak pernah terbuka dan selalu menutup diri dari dunia. Aku merasa bisa melewati semuanya sendiri, namun kian hari justru semakin tergerus dan tak lagi bisa jadi diri sendiri.
***
Sudah satu jam lebih aku dan Falen mengobrol lewat saluran telepon. Malam ini, Falen berperan sebagai seorang teman, bukan sebagai editor yang sedang memberikan konseling dan masukan pada penulisnya.
Jelas saja, berkali-kali Falen menawariku menerbitkan buku, berkali-kali pula aku menghilang dan melarikan diri entah ke mana.
Terakhir, saat aku hampir menyelesaikan janji, namun sialnya naskah itu mendadak hilang karena kesalahan teknis dan tak bisa kembali. Begitu juga denganku yang akhirnya menghilang dan tak pernah menulis lagi.
Hidup memang lucu. Di saat banyak orang mendambakan kesempatan seperti yang kudapatkan, aku justru melewatkannya begitu saja.
***
Falen pernah mengatakan hal serupa.
Kalau saja aku tak melewatkan kesempatan-kesempatan yang dahulu datang padaku, ada banyak peluang besar lain yang bisa kudapatkan dari potensiku; menjadi penulis besar yang karya tulisnya diangkat ke layar lebar, yang diperankan oleh aktor-aktor ternama seperti Reza Rahadian.
Iya, aku tahu ada yang kesal kenapa harus Reza lagi Reza lagi. Tapi, itulah potensi dan peluang dari seorang aktor kawakan yang punya nama besar juga skill akting di atas rata-rata.
Totalitas dalam sebuah bidang itu memang diperlukan. Jangan terlalu perhitungan jika ingin mendapatkan banyak peluang-peluang baik dalam hidup. Jalani saja semampunya dan totalitaslah pada pekerjaan yang saat ini sedang kita geluti, sebab itu bisa saja mendatangkan peluang-peluang yang tak kita sangka-sangka.
***
Kalian pernah dengar perihal kalau keberuntungan itu sebenarnya tidak ada? Semua punya rumusnya. Skill yang layak dan dipertemukan degan kesempatan, itulah rumus dari keberuntungan. Kita hanya perlu dapatkan satu kesempatan untuk mendatangkan peluang yang lebih besar lagi.
Namun sebelum itu, kita harus buktikan kalau skill yang kita punya layak untuk bersaing dalam industri yang sedang kita geluti.
Seperti Rigen Rakelna yang kini ada di banyak televisi, kesempatan melesatnya di dapatkan dari video kompilasi marah-marah yang dibuat oleh Pandji. Bermula dari situ, ada banyak pintu yang Rigen dapatkan dan itu tak semata karena video itu, skill Rigen terbukti layak untuk punya ruang di televisi.
Begitu juga dengan manusia-manusia lainnya, termasuk kita; jika kita serius dan ingin mendapatkan hal itu.
Sebenarnya aku sedang menulis apa sih? Hahaha.
Jujur, aku tak tahu ke mana arah tulisan ini.
Aku hanya ingin menumpahkan apa yang ada dalam kepalaku sembari melatih skill menulisku agar tak lenyap karena tak pernah dilatih lagi dalam menata kata menjadi kalimat, paragraf, dan alinea.
Mari kita tutup tulisan ini dengan titik terakhir.
— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.
📝Tulisan ini terbit pertama kali di Medium,
7 Agustus 2024.

Tinggalkan komentar