“Terima kasih, ya. Selama ini kamu selalu dukung aku. Bersyukur banget tau karena aku udah dikasih orang paling baik di dunia.”
Sesaat setelah pesan singkat itu kubaca, aku menangis haru.
Sudah lama air mataku tak tumpah, sudah lama hadirku tak pernah dihargai sebegininya. Lakrimasi air mata itu akhirnya kembali bekerja setelah sekian lama; menghadirkan secercah harap tentang adanya ruang yang barangkali akan ia siapkan untukku.
***
Kami sudah cukup dekat, barangkali itu yang buat kami tak jadian.
Kulihat pesan itu berulangkali, kubaca, dan kuresapi. Bulir air mata tetap saja tak bisa menahan diri untuk tak keluar dari persembunyiannya.
Jujur, sampai detik ini; detik aku membaca pesan itu, masih saja aku tak bisa mengartikan apa maksud dari semua yang terjadi akhir-akhir ini. Apakah ia sudah menyediakan ruang untukku? Atau sebenarnya ia hanya menganggapku sekadar orang baik yang hadir di hidupnya tanpa pernah menganggapku sebagai laki-laki yang akan menemani seumur hidupnya.
Beginilah aku, sudah bertahun-tahun hidup, masih saja tak bisa membaca tanda-tanda; masih saja polos seperti anak-anak remaja.
***
Sewajarnya kisah-kisah cinta pada umumnya, ada saja penghambatnya. Kami belum jadi apa-apa, namun rekan kerjaku sudah berulangkali memperingatkan agar aku tak lagi melanjutkan hubungan yang aku sendiripun tak tahu akan ke mana ujungnya.
Namun, aku dengan kebebalanku, masih saja bertahan dengan perasaan yang bahkan tak tahu apakah akan berbalas atau tidak.
Seperti pada umumnya manusia yang sedang dimabuk cinta, mau diberi nasihat apapun, ia akan tetap bertahan dengan bebalnya. Bahkan bebalku sudah sampai di tahap enggan peduli dan tak mau tahu apa yang mereka katakan padaku.
Saat ini, aku hanya fokus pada dia yang kucinta; aku akan mempercayai semua ucapannya dan semua perlakuannya, meski aku tak tahu apakah itu yang sebenar-benarnya atau justru benar yang dikatakan rekan-rekanku, kalau sebenarnya ia sedang memperdayaku saja.
***
Tapi, aku tidak peduli. Saat ini, aku mencintainya tanpa tapi.
Tahu apa mereka tentang wanita mungil yang buatku jatuh hati? Mereka hanya tahu apa yang tampak di luar tanpa tahu yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya tahu nama, namun tidak tentang hidupnya. Aku yang selalu menjadi pendengar untuk semua ceritanya, jelas lebih mempercayainya dibanding rekanku yang hanya melihatnya dari jauh; yang tak kenal bagaimana dan apa yang sudah dilalui wanita itu dalam perjalanan hidupnya.
Bukan aku tak menghargai pedulinya teman-temanku.
Tapi, bukankah hidup ini tentang membuat sebuah pilihan? Tak ada yang mutlak benar. Memilih adalah tentang menerima sebuah risiko di masa depan, dan aku sudah siap dengan apapun risikonya; meski kelak apa yang dikatakan teman-temanku benar terjadi dalam kisahku.
Selagi di hatiku masih ada cinta untuknya, aku akan mempercayainya. Peduli setan dengan ucapan orang-orang, aku tetap percaya padanya.
— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.
📝Tulisan ini terbit pertama kali di Medium,
4 Agustus 2024.

Tinggalkan komentar