“Beruntung banget tau orang yang dapetin kamu nanti.” ujarnya pada suatu malam di warung sate padang terenak di kota kecil ini.
Apa yang paling kau harapkan saat hatimu sedang mencintai seseorang? Tentu kebersamaan. Ketika sedang jatuh cinta, kita sangat menginginkan kebersamaan dengan seseorang yang dicinta. Entah sekadar berpapasan atau duduk berdua untuk waktu yang lama.
Itulah alasanku mengiyakan ajakannya ke warung sate, meski sebenarnya perutku sudah terisi penuh sebelum jam pulang kantor tiba.
***
Di sinilah aku sekarang, di warung sate padang.
Aku duduk berhadapan dengannya. Kami mengobrol panjang sembari menanti hidangan seporsi sate yang berharga lima dollar. Iya, kami tidak berada di Indonesia. Banyak hal yang ia ceritakan malam ini. Tentang sial yang dialami sahabatnya, tentang masa lalunya yang buruk hingga menghadirkan trauma, dan sesekali hal-hal remeh sebagai pencair suasana.
Aku mencintainya. Sangat.
Aku sendiri tak tahu apa yang merasukiku belakangan ini. Mengapa aku bisa suka dengan gadis bertubuh mungil yang saat ini ada di hadapanku; gadis kecil yang sedang menyantap sate sapi kesukaannya dengan penuh khidmat dan nikmat. Kenapa aku tak bisa melepaskan diri darinya meski sebenarnya aku merasa begitu lelah dengan perasaan yang sampai detik ini aku tak tahu apakah dia merasakan hal yang sama atau tidak.
Barangkali memang begitulah cinta. Kita tak bisa memutuskan pada siapa hati akan melabuhkan rasa. Meski logikaku sudah berkali-kali berkata untuk tak melarutkan rasa, namun semakin hari perasaan itu kian dalam saja tumbuhnya dan buat aku sulit untuk melupa.
Jujur, aku benci dengan situasi seperti ini. Aku benci dengan distraksi.
***
Di perantauanku yang cukup jauh kali ini — sampai harus mengadu nasib ke negara antah berantah — tak ingin kukacaukan dengan hal yang tidak sesuai rencana.
Aku ingin menata ulang hidupku, menata ulang semua yang berantakan sebab langkah-langkah salah yang pernah kupilih di masa lalu; di negara asalku. Aku ingin hidup seperti orang-orang pada umumnya; bekerja keras menjalani rutinitas yang membosankan dengan pendapatan bulanan yang pasti dan menabung agar bisa membeli hal-hal pokok demi tak dikatakan manusia gagal oleh society.
Berulangkali kucoba melepas dan menghilangkan rasa ini, berulangkali pula rasa itu tumbuh kembali di dalam hati. Makin hari, semakin menjadi-jadi.
Di tengah kecamuk hati dan betapa pusingnya diri, malam ini aku senang bisa menghabiskan waktu berdua dengannya. Aku senang bisa mendengar semua ceritanya, aku senang bisa mendengar segala sesuatu yang keluar dari bibir kecilnya. Meski malam-malam selanjutnya aku mesti kembali bergulat dengan kecamuk yang datang lagi dan lagi; mengacaukan malamku yang sunyi dan sepi.
***
“Seumur hidup, aku belum pernah menjalin hubungan asmara.” ujarku saat mendapat kesempatan menjelaskan sedikit tentangku.
Awalnya ia tak percaya dan aku bisa memaklumi reaksi itu.
Sudah jadi hal yang lumrah kudapati reaksi seperti itu ketika aku menjelaskan fakta kalau aku sama sekali tak pernah menjalin hubungan asmara. Lagipula di era 4.0 ini, mana mungkin ada manusia yang hampir menginjak kepala tiga tanpa pernah sekalipun menjalin hubungan dengan lawan jenisnya. Aku pun tak percaya dengan dongeng jadul itu.
Namun, begitulah adanya. Tanpa diada-ada.
“Beruntung banget tau orang yang dapetin kamu nanti.” ujarnya pada tengah malam di warung sate padang terenak di kota terpencil ini.
Sesaat ia berkata begitu, ada sesuatu yang tiba-tiba saja muncul dalam benakku. Apa maksudnya itu? Apa arti dari ucapannya barusan? Apakah ini semacam bahasa lain yang biasa dilakukan wanita untuk memberitahu sebuah peluang kalau aku ada di ruang hatinya? Atau mungkin enggan sehingga dikeluarkannya kata-kata orang yang bisa dapetin kamu nanti?
Sudah bertahun-tahun hidup, masih saja tolol perihal asmara.
Sedikitpun aku tak bisa menerjemahkan ucapannya.
Aku mencoba tetap tenang dan berusaha tak memberikan reaksi berlebihan. Meski sebenarnya dalam hati ada kata yang ingin kuucapkan dengan lantang, “Tidak maukah kau yang jadi orang beruntung itu?”
Tapi apalah daya, aku hanya laki-laki tolol yang selalu saja melewatkan banyak kesempatan. Aku hanya laki-laki yang penuh dengan ragu; yang selalu saja merasa tak layak mendampingi hidup wanita yang dicinta.
***
Malam mulai larut dan sudah waktunya untuk kembali ke asrama.
Kupacu motorku dengan dia yang duduk di kursi penumpang. Malam ini, aku tak ingin membawanya pulang; aku ingin membawanya berkelana ke tempat di mana hanya ada kami berdua di sana; di ruang hatiku dan di ruang hatinya.
Namun, ini hanya angan-anganku saja.
Entahlah bisa menjadi nyata atau tidak, malam ini, aku hanya ingin menikmati momen dan merasakan getaran cinta yang hadir kembali setelah sekian tahun aku hidup dalam hampa.
— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.
📝Tulisan ini terbit pertama kali di Medium,
29 Juli 2024.

Tinggalkan komentar