Di balkon asrama itu, aku tersenyum menikmati sebiji durian beku pemberianmu.
Sebuah pemberian yang kita dahului dengan perdebatan kecil tentang siapa yang akan bergerak mengambil; apakah kamu yang akan turun dan mengantarkannya padaku atau aku yang naik ke lantai atas dan mengambilnya langsung ke kamarmu.
Kamu bersikeras untuk turun sendiri sembari bertanya apakah ramai orang di lantai bawah? Tak mau kalah, aku juga memaksa agar aku saja yang naik ke atas sembari menanyakan hal serupa.
***
Jujur, aku tak tahu apa sebenarnya kita. Mengapa kita ragu-ragu untuk bertemu dan takut-takut jika dilihat orang-orang? Jika tak ada apa-apa antara kita, tak perlu kita takut dengan sangka-sangka.
Pun jika ada apa-apa mengapa kita mesti menghindari orang-orang yang gemar menduga-duga? Tak bisa kujelaskan tanya-tanya itu, sebab akupun takut bila dilihat oleh orang-orang.
Mungkin benar yang orang-orang katakan, kalau jatuh cinta buat kita seperti anak-anak yang gemar malu-malu dan menutup-nutupi perasaan jika ada sesuatu yang membahagiakan. Rasanya itu yang terjadi padaku saat ini.
Iya, aku mulai jatuh hati. Padamu.
Kapan semua ini bermula?
Mungkinkah setelah dijodoh-jodohkan oleh rekan-rekanku? Atau mungkin sedari awal aku melihatmu? — yang buatku menyangkal perasaan itu dalam diriku, karena terlalu banyak yang menaruh hati padamu.
***
Kembali ke balkon asrama, setelah perdebatan kecil kita, akhirnya kamu mengalah. Bergegas aku menuju lantai atas, tempat kamarmu berada.
Belum juga kuketuk, pintu kamarmu sudah terbuka. Kulihat wujudmu yang selalu cantik itu keluar sembari memegang kotak plastik transparan yang di dalamnya ada dua potong durian beku raksasa.
Kamu sodorkan padaku dan membiarkanku memilih salah satu. Kupilih potongan paling kecil dan kubiarkan potongan durian besar itu tetap menjadi milikmu.
Aku kaku. Bingung.
Apa yang harus kukatakan lagi selain terima kasih? Karena tak kunjung menemukan kata, akhirnya aku pamit dan kembali ke lantai bawah; ke balkon tempatku semula.
***
Kunikmati durian itu, senyum tak lepas dari wajahku.
Aku tak tahu itu durian jenis apa.
Apakah durian Thailand, Vietnam, atau Kamboja. Tapi yang kutahu, itu adalah durian paling manis yang pernah aku coba selama hidup di dunia.
Ponselku berbunyi dan kulihat notifikasi pesanmu. “Manis?” tanyamu “Apanya? Kamu?” jawabku dengan tanya “Duriannya” “Manis kok”
Aku tak henti-hentinya tersenyum. Bahkan ketika ada orang yang melewati lorong lantai asrama tempatku berada, begitu sulit aku menyembunyikannya.
Persetanlah jika dicap gila, toh aku memang sedang berbunga-bunga.
Baru kali ini aku merasakan bahagianya aku selama tinggal di distrik ini; distrik yang terpinggirkan dan jauh mau ke mana-mana. Distrik di sebuah negara yang bukan tempat lahir kita.
***
Sore telah hanyut digantikan oleh malam. Aku bergegas menuju tempat kerja. Paginya, aku baru membaca balasan pesanmu dari tanya yang sudah kukirim kan sejak semalam.
Karena ku tahu pagi ini kamu sedang bekerja, kukirim kan juga pesan semangat padamu dengan sengaja, sembari nasihat kecil agar kamu tak gampang kesal meski banyak orang yang buat kamu sebal.
Aku terdiam cukup lama, sepuluh menit barangkali.
Aku memikirkan apakah pesan yang sudah kurangkai dalam kepala mesti kutuliskan dan kukirimkan padamu?
Akhirnya, kuberanikan mengetik kata-kata itu, ucapan terima kasih kedua kalinya disertai kejujuran kalau itu adalah durian termanis yang pernah aku coba (karena kamu memberikannya dengan penuh senyum yang buat aku semakin jatuh cinta).
Kukirim pesan itu tanpa kata-kata yang ada dalam kurung tulisanku dan kamu membalasnya. Aku tersipu malu dan menutupi seluruh wajahku dengan selimut merah jambu.
Perlahan, aku larut dalam tidur dan menghadirkan mimpi-mimpi indah yang kuharap kisah kemarin bukanlah bagian dari mimpi panjangku.
***
Aku tak tahu akan jadi apa kita nanti.
Jadi atau tidak, setidaknya aku ingin menikmati bahagia ini; setidaknya tuk sementara waktu aku ingin merasakan bahagia di hidupku yang sudah lama abu-abu.
Apa yang kurasakan saat ini, aku juga punya harap yang barangkali terlalu berlebih; harapku, semoga kamu juga merasakan apa yang kurasakan, semoga rasaku kali ini tidak bertepuk sebelah tangan, semoga rasaku kali ini tidak berujung menyakitkan, semoga ada hubungan yang terjalin antara kita; hubungan kasih dan cinta yang takkan buat kita terluka.
— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.
📝Tulisan ini terbit pertama kali di Medium,
22 Mei 2024.

Tinggalkan komentar