Kini, aku tinggal dan menetap di perbatasan antara dua negara yang masih terbilang kalah dan tertinggal dari Indonesia; setidaknya dalam peringkat GDP atau pendapatan negara.
Tidak banyak yang mengetahui hal ini. Bahkan keluargaku tak kuberitahu kalau sekarang aku berkelana merantau ke tempat yang lebih jauh.
Bukan apa-apa, memang aku tak begitu akrab dengan keluarga sampai-sampai menceritakan ini ke mereka adalah sebuah keharusan. Aku hanya memberitahu kakak sepupuku yang keadaan juga sama sepertiku; tak terlalu akrab dengan keluarga.
Beginilah kondisi keluargaku, kaku dan jarang berkomunikasi satu sama lain. Bahkan untuk sekadar merayakan hari ulang tahun pun hampir tidak ada.
Itulah kenapa setiap mendekati tanggal ulang tahun, biasanya aku menjauh dari keramaian, menyendiri, dan berkontemplasi di tempat yang tidak ada siapapun yang mengenali. bukan berarti aku terlalu percaya diri akan ada yang memberikan kejutan, tetapi aku menghindarkan diri dari kemungkinan hal itu bisa terjadi. Sebab, pernah ada satu momen ketika itu terjadi, seketika aku merasa canggung, tak nyaman, dan bingung harus menanggapinya.
Bicara soal keluarga, memang sedikit sensitif.
Dan sepertinya tidak untuk diceritakan dalam postingan ini.
Aku tahu tidak akan ada yang bertanya mengapa kali ini aku berkelana jauh dan menetap di negeri orang?
Ada banyak faktor yang buat aku mengambil keputusan ini; salah satunya karena seorang teman sudah lama mengajakku untuk tinggal dan mencari penghasilan di negeri ini. Tapi, saat itu aku masih ada beberapa plan yang harus aku jalani; dan aku juga masih diselimuti banyak ragu, apakah bisa survive di negara orang? Sedang di negara sendiri saja kesulitan berkembang, selepas aku melewati masa jaya yang nyatanya hanya berlalu sebentar saja.
Selain faktor ekonomi dan hidup yang tak kunjung membaik, mencari pengalaman baru juga jadi salah satu faktor penting yang buat aku mengambil keputusan ini.
Aku harus punya berani!
Sebagai seorang penulis — meski sudah tak relevan lagi, aku harus memberanikan diri mencoba hal-hal baru; meski pun hal itu bisa saja berujung pada petaka; seperti menjadi korban perdagangan manusia atau disekap dan dibunuh untuk dijual organ dalamnya.
Aku tahu soal penjualan organ dalam itu terlalu berlebihan. Agaknya mustahil sebab organ dalamku — dengan pola hidup yang buruk — tentu tidak dalam kondisi baik tuk dijual.
Tapi, tetap saja ada pertimbangan yang cukup besar dan serius jika aku mengambil keputusan itu.
Pindah negara tak sesederhana memindahkan raga saja, bukan? Ada banyak hal yang mesti dipikirkan dan diurus agar aku tidak menjadi warga ilegal.
Aku tahu, temanku memang sudah lebih dulu ke negara antah berantah ini. Dan asal kalian tahu, secara tak langsung dan mungkin tanpa temanku sadar, dialah yang menginspirasiku untuk kembali punya berani dalam hidup yang makin hari semakin bajingan.
Temanku, yang tak akan kusebutkan namanya, kembali memulai hidup baru dari ketiadaan. Sejak ia mengalami masalah yang cukup besar di Indonesia dan disingkirkan dari circle bisnisnya, temanku mesti survive seorang diri dan kembali memulai hidup dari nol lagi; tanpa uang dan tanpa koneksi.
Kerajaan bisnis yang sempat ia bangun bersama temannya di Indonesia, menghancurkan hidupnya setelah ia terdepak; begitu juga dengan rekan bisnis, semua mulai menjauhinya. Dengan terpaksa, dia mesti mengambil keputusan berani, merantau ke negeri lain dan memulai hidup dari awal.
Dan benar saja, belum dua tahun di negara ini, temanku sudah punya dua outlet ayam yang menjadi tempat makan favorit orang-orang di sini karena terkenal enak dan murah. Bahkan, kini, temanku juga menikah dengan warga asli negara ini dan sekarang istrinya tengah mengandung anak pertamanya yang baru berusia tiga bulan ketika aku menuliskan ini.
Itu juga jadi salah satu alasan aku memberanikan diri.
Temanku, umurnya dua tahun di bawahku dan dia sudah melesat dari kehancuran hidup yang memaksanya memulai kembali dari bawah; sedangkan aku, bertahun-tahun setelah melewati masa jaya yang tak seberapa, masih saja tak bisa berbuat hal yang berani; malah makin hari, hidupku semakin berantakan.
Dia menginspirasiku untuk punya berani dan jangan terlalu memikirkan itu dan ini; sebab, terlalu memikirkan ketakutan-ketakutan yang belum tentu akan terjadi akan menghambat perkembangan diri kita sendiri.
Karena, hidup harus punya berani!
Kita harus berani mengambil langkah untuk hidup kita sendiri.
Terlalu banyak takut justru bikin kita jadi sulit berkembang dan akan selalu hidup di titik yang sama. Sebenarnya, berada pada titik yang sama, bukan masalah besar jika memang kamu nyaman berada di sana, namun kalau kamu tak nyaman, maka harus berani buat langkah.
Aku sadar, makin usia bertambah, itu artinya semakin menua.
Hidup harus kutata dan mulai realistis mengikuti alur kehidupan manusia pada umumnya; menikah, punya anak, membangun keluarga, serta menikmati masa pensiun hari tua tanpa menjadi beban orang sekitar.
Dan aku, sebagai penulis, ingin punya banyak cerita yang kelak bisa kutuliskan menjadi sebuah karya yang luar biasa; setidaknya untuk legacy hidupku sendiri.
Itu yang buat aku mengambil keputusan berani.
Karena terbatasnya waktu dan energi, aku tak bisa melanjutkan tulisan ini. Kita lanjutkan pada jurnal-jurnalku yang lain, ya.
Sampai bertemu di sana.
— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.
📝Tulisan ini terbit pertama kali di Medium,
4 Maret 2024.
Tinggalkan komentar