Siang itu, New Orleans sedang terik-teriknya. Di ujung jalan terlihat seorang pemuda memasuki sebuah bar, tepat selepas ia melihat spanduk promosi bertuliskan ‘Makan siang gratis untuk semua, tanpa syarat dan cuma-cuma.’
Pemuda itu akhirnya duduk menunggu hidangan gratis yang akan masuk mengisi perutnya yang sudah kosong sedari pagi. Tak lama, pramusaji datang menghidangkan kentang goreng yang diiris cukup tebal dan telor mata sapi yang ditaburi sayuran kecil di atasnya. Rasa lapar yang sudah lama ia tahan, membuat pemuda itu segera menyantap hidangan itu tanpa ia sadar kalau tak ada minum apapun di mejanya.
“Hei, mana minumanku?” ujar sang pemuda.
“Tidak ada. Kami hanya menyediakan promo makan siang gratis. Untuk minumnya, kau harus membelinya.” jawab pramusaji.
“Oh, shit!” pekik pemuda itu.
Dengan terpaksa, pemuda itu mengeluarkan dompetnya dan memesan minum paling murah di sana yang ternyata jauh lebih mahal dari harga makanan yang ia santap jika ia beli di kedai lain. Meski begitu, ia tetap memesan minuman karena tenggorokannya kering dan terganggu akibat hidangan makanan yang tinggi garam.
Begitulah adegan imajiner yang terjadi pada tahun 1872 di beberapa bar yang ada di New Orleans, yang membuat ungkapan “No free lunch” menjadi populer pada tahun 1800-an.
Memang, pada tahun 1872, di New Orleans, Amerika, sedang marak-maraknya bar menyediakan promosi makan siang gratis untuk menarik minat pelanggan. Sebagian pelanggan mungkin senang dengan promosi seperti ini, namun pelanggan yang lain yang punya uang pas-pasan jelas mereka merasa dijebak. Tak hanya siang terik yang bikin kita dehidrasi, makanan yang tinggi garam pun buat kita mau tidak mau harus memesan minum langsung di tempat; tak bisa menunda-nunda.
Itulah mengapa ungkapan “No free lunch” mulai populer karena yang katanya gratis, nyatanya tidak benar-benar gratis.
Bahkan ungkapan ini tak hanya populer di New Orleans saja.
Di bagian yang lain dan di waktu bertahun-tahun kemudian, ungkapan itu juga kembali populer di New York. Saat itu, mantan walikota menggunakan frasa Italia “È finita la cuccagna!” yang artinya “Tidak ada lagi makan siang gratis!”.
Ungkapan itu digunakan oleh mantan walikota dalam kampanyenya untuk melawan kejahatan dan korupsi.
Bahkan dalam kasus-kasus lain pun kurang lebih pemaknaannya akan seperti itu; seperti ungkapan ada udang di balik batu.
Hal-hal yang diberikan secara cuma-cuma, tentu ada sesuatu di baliknya. Maka tidak salah dan bahkan wajib untuk kita skeptis dan mempertanyakan lebih dalam tentang sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma.
Sebetulnya, tak perlu kita berkelana jauh sampai ke tahun 1872 atau 1933 pada saat mantan walikota New York, Fiorello H. La Guardia mengumandangkan frasa Italia itu untuk mendalami idiom ‘tidak ada makan siang gratis’, cobalah lihat dalam kehidupan kita sehari-hari.
Saat kita diajak makan siang oleh teman dan kita ditraktir, tentu ada rasa sungkan di hati kita; yang buat kita terbesit pikiran untuk membalas traktiran makan siang itu. Dan ini juga sama ketika kita ditraktir makan oleh atasan.
Di kalangan politisi, hal ini sudah jadi cerita yang umum. Maka dari itu, petugas KPK sempat memiliki aturan untuk tidak menerima apapun dari orang lain yang mereka temui; bahkan untuk sekadar makan dan minum.
Itu semua dilakukan demi menghindari rasa sungkan yang mengharuskan kita balas budi; karena itu adalah celah yang kelak bisa merusak prinsip dan ketegasan dalam penegakan aturan.
Jadi, apakah makan siang gratis itu benar-benar ada?
Itu kembali lagi ke diri kita.
Tulisan ini kubuat agar kita bisa mempertanyakan lebih dalam tentang sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma. Apakah benar begitu adanya? Atau ada tujuan lain di baliknya? Mari kita renungi bersama-sama.
— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.
📝Tulisan ini terbit pertama kali di Medium,
1 Maret 2024.
Sumber informasi idiom ‘tidak ada makan siang yang gratis’ ini aku baca dalam artikel Tempo, tanggal 16 Juni 2022.
Tinggalkan komentar