Halo, kembali lagi kita dalam Jurnal Dayat Piliang, sebuah tulisan yang kubuat untuk mencatat apapun yang terjadi dalam hidupku.

Mungkin tulisan ini tidak menarik untuk dibaca olehmu, tapi ini tetap akan kulakukan demi perlawanan melawan lupa ketika usia menua; dan melawan rasa malas pada diriku agar tak hilang skill menulis yang perlahan mulai terkikis.


Pagi ini, aku dibangunkan oleh alarm-ku yang sudah berbunyi berkali-kali sejak pukul lima pagi. Aku bangkit dari kasur kualitas murah yang belum lama dibeli, tetapi sudah amblas tengahnya. Bergegas aku mandi dan kemudian pergi menjalani hari sebagai pekerja di negara orang.

Ini hari ke-22 aku menjalani kehidupan sebagai manusia yang terlahir kembali di negara yang asing dan sama sekali tak kukenali.

Memang, di tempatku tinggal ada banyak orang Indonesia, tetapi mereka tidak mengenaliku dan aku juga tak berminat mengenalkan siapa aku ke mereka; karena aku bukan siapa-siapa juga.

Di sini, sebagian besar orang hidup menjadi manusia individualis yang bekerja dari pagi hingga malam hari, kemudian pulang dan merebahkan tubuhnya pada kasur murah di asrama yang disediakan oleh perusahaan.

Aku jarang berbaur, meski pernah beberapa kali bergabung untuk sekadar tukar cerita.


Inilah realitas kehidupan.

Tak hanya aku, sebagian besar orang Indonesia yang ada di sini juga terpaksa bekerja jauh ke negara orang demi mendapat penghasilan yang lebih baik tuk dikirim ke orang rumah agar tidak hidup dalam kesulitan.

Bagi mereka, tak masalah menjadi buruh di negara orang, asal ketika upah diberikan dan dikonversi menjadi rupiah, penghasilannya akan jauh lebih besar daripada mereka harus bekerja di Indonesia yang pendapatannya tak seberapa, namun mesti bersaing dengan orang banyak untuk mendapatkan pekerjaan layak. Belum lagi persyaratan kerja yang tidak masuk akal dan tidak ramah untuk orang yang menginjak usia tiga puluhan.

Sempat kuceritakan pada tulisan sebelumnya, penyebab aku meninggalkan Indonesia karena tabunganku sudah menipis dan aku tak bisa melanjutkan rencana-rencanaku di Indonesia, karena itu tidak realistis.

Ditambah peluang-peluang baik tak kunjung datang; yang buat aku harus segera memutuskan langkah dan jalan mana yang harus aku pilih.

Tetap di Indonesia tapi hidup terlunta-lunta atau mengalah sejenak dengan idealisme dan menambang pundi-pundi uang di negara orang?


Dan aku memilih opsi kedua.

Sempat aku tetap pada idealisme ingin menjadi penulis penuh waktu dengan merelakan pekerjaanku sebagai personal assistant seorang direktur di rumah produksi film layar lebar di kota hujan. Apa hasilnya? Hidupku mengambang seperti tahi yang terjebak pada sudut kali, tak membawanya ke mana-mana; tetap di tempat dan membusuk sehingga mulai mengganggu orang-orang terdekat.

Menjadi penulis di Indonesia, kita tidak bisa mengharapkan hidup dalam kekayaan yang berlimpah. Coba saja sebut ada berapa banyak penulis Indonesia yang bisa kaya dari menjual karyanya?

Aku tidak sedang membicarakan penulis dalam profesi komersil seperti copy writer dan sejenisnya. Aku sedang membicarakan penulis yang murni kaya dari menjual karya tulisnya.

Hanya sedikit penulis yang bisa hidup kaya raya dari karya yang ia hasilkan. Kalaupun ada penulis lain yang kaya, biasanya sumber pendapatan terbesar mereka bukan dari menjual karya tulis buku, tetapi karya mereka yang lain; seperti Fiersa Besari sebagai musisi, Wira Nagara sebagai komika dan konten kreator, atau juga Raditya Dika dan Ika Natassa yang hidup berkecukupan sebelum mereka mulai berkarya.

Itulah kenapa saat ini aku berlayar dan terdampar ke negara orang. Meski sempat ada masa di mana aku merasakan jaya dengan banyak exposure yang datang padaku—yang menghadirkan pundi-pundi uang dari kerja sama iklan dengan sebuah brand, tetapi fase itu sudah terlewatkan.

Seperti yang kukatakan pada tulisan sebelumnya; aku sudah tak lagi relevan dan aku dapat dengan mudah digantikan.


Eraku sudah berlalu, dan kini aku harus menata ulang hidupku dan mencari pundi-pundi uang agar aku bisa pensiun dan menikmati masa tua dengan tenang; entah saat itu tiba aku masih sendiri dan belum menikah atau aku lebih dulu mati sebelum menuju hari-hari tua yang mungkin akan berjalan begitu membosankan.

Aku juga sudah pasrah dengan kehidupanku sekarang dan tak lagi punya rasa takut untuk mencoba hal-hal baru. Siapa tahu aku bisa punya banyak cerita yang bisa kuceritakan dan kemudian menjadi karyaku yang baru.

Kalau boleh jujur, sebetulnya aku masih belum move on dengan kehidupanku kemarin sebagai mahasiswa; untuk kali pertamanya mendapat kesempatan merasakan kuliah saat usia mendekati kepala tiga.

Tapi, mau bagaimana lagi? Kita hidup dalam realitas dewasa; yang memaksa kita harus mencari sumber penghidupan demi bisa bertahan hidup meski hidup yang kita rasakan terasa menyebalkan.

Mungkin sampai di sini dulu jurnalku hari ini, lain waktu mungkin akan kuceritakan lebih detailnya; tentang di negara mana aku tinggal dan pekerjaan apa yang kujalani di negara orang.

Sampai bertemu di jurnal-jurnalku selanjutnya.


Disclaimer:
Tulisan ini terbit pertama kali di Medium, 1 Maret 2024.

Tinggalkan komentar