Kembali lagi dalam Jurnal Dayat Piliang, sebuah tulisan yang aku khususkan untuk mencatat hal-hal yang terjadi dalam hidupku. Tulisan ini mungkin tidak begitu penting untuk kamu baca, tetapi ini tetap harus kulakukan demi perlawanan melawan lupa yang akan terjadi jika aku semakin menua.

Kalau kemarin aku menceritakan kenapa aku membicarakan politik, di tulisan kali ini mungkin aku akan bercerita kenapa aku memutuskan untuk berkuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di salah satu kampus swasta di Pulau Lombok.

Ini dia ceritanya.

Disclaimer: Tulisan ini terbit pertama kali di Medium, 29 Februari 2024.


Banyak orang bertanya-tanya dengan keputusanku, salah satu tanya yang dilontarkan padaku ialah, ‘kenapa kepikiran kuliah lagi?’.

Sekadar informasi, itu momen kali pertama aku menikmati bangku perguruan tinggi. Jadi, kalau pertanyaannya ‘lagi’, tentu tidak tepat karena sebelumnya aku belum pernah merasakan bangku kuliah.

Setelah aku lulus dari bangku Sekolah Menengah Atas di PGRI 2 Denpasar, aku kembali ke kota lahirku dan tak ku temukan nyaman di sana. Akhirnya, kuputuskan untuk merantau ke sebuah kota yang saat itu sedang dipimpin oleh Wali Kota yang punya latar belakang seorang arsitek dan berusaha mencari pekerjaan di sana, hanya dengan bermodal ijazah SMA.

Aku sadar diri kalau aku bukan berasal dari keluarga yang berkecukupan dan aku juga enggan bikin repot keluarga yang nantinya akan mengungkit-ungkit kebaikan yang mestinya sudah menjadi sebuah kewajiban. Itulah kenapa saat masuk tahun ketiga, ketika anak-anak lain sibuk memilih jurusan dan perguruan tinggi yang akan mereka pilih, aku hanya fokus pada apa yang ingin kukejar; menjadi seorang penulis.


Menjadi seorang penulis, kita tak membutuhkan ijazah dan tak mesti harus berkuliah. Dan aku sudah memantapkan diri untuk mengambil langkah itu; seperti yang kukatakan, karena aku sadar diri dan aku juga takut hanya membuang-buang uang keluargaku yang tak seberapa dengan menjalani pendidikan yang belum tentu aku nyaman berada di sana, alias aku takut kalau pikiranku seperti mahasiswa fresh graduate pada umumnya yang masih kepikiran untuk main-main dan punya rasa senang saat dosen memutuskan untuk tak masuk mengajar.

Kemudian, di usiaku hampir menginjak kepala tiga, kesempatan itu akhirnya datang padaku. Walau kini aku harus merelakan kesempatan itu karena realitas hidup berkata lain; aku harus mencari pendapatan dan mengisi tabunganku lagi di saat aku baru menyelesaikan satu semester di sana, tabunganku sudah menipis dan tak realistis untuk tetap dilanjutkan.

Aku menikmati masa-masa itu.

Meski hanya enam bulan menjalani kehidupan sebagai seorang mahasiswa, namun momen-momen itu adalah momen yang sangat berkesan di hidupku.

Di sana, aku menjadi mahasiswa yang aktif dan vokal; baru semester satu saja, ada dua dosen yang kulawan karena hal-hal yang tidak sesuai dengan kesepakatan pengajaran. Bahkan indeks prestasi semester satuku termasuk dalam IP terbaik di antara mahasiswa lainnya; dengan nilai rata-rata 4.00.


Sebetulnya, ketika aku memutuskan untuk terbang ke Pulau Lombok, tidak pernah terbesit dalam pikiran berkuliah di sana. Semua mengalir begitu saja.

Awalnya, aku ke sana karena hendak bekerja sama dengan seorang kenalan yang punya agensi lokal, dan kami ingin memaksimalkan aset sosial media yang kupunya dengan memproduksi sebuah konten yang nantinya bisa dimonetisasi bersama.

Namun, karena tidak berjalan sesuai dengan harapan, akhirnya sebuah peluang baru datang padaku dan ini harus aku sambut dengan serius.

Bagian cerita peluang baru yang datang ini sebenarnya cukup kompleks dan bisa saja ku ceritakan langsung di sini, tapi sepertinya akan terlalu panjang. Jadi, kita sederhanakan saja, ya?


Siang hari yang tak terlalu terik, aku biasa bekerja di co-working space yang jadi basis kantor agensi temanku, tiba-tiba, datanglah segerombolan bapak-bapak dan ibu-ibu. Tujuan mereka untuk bertemu dengan pemilik co-working space yang ternyata juga ketua yayasan kampus tempatku berkuliah saat itu; dan yang hadir ke co-working space itu rektor beserta jajarannya.

Sudah cukup lama aku kenal dengan pemilik co-working space itu. Tentu saja, karena hampir setiap hari aku berada di sana; bekerja dan berkarya.

Di tengah-tengah perbincangan mereka, pemilik co-working space itu memanggilku dan mengajakku ikut bergabung dengan perbincangan mereka. Beliau mengenalkanku dengan sangat detail. Bahkan saat itu aku langsung ditodong oleh salah satu wakil rektor untuk mengisi seminar yang akan mereka adakan di kampus. Aku sempat enggan, karena aku bukan orang yang cakap berbicara di depan umum. Tapi, karena tak enak menolak, akhirnya tawaran itu aku iyakan saja.

Setelah aku mengiyakan dan akhirnya jadi pembicara di kampus tersebut, aku mulai mencari tahu tentang kampus itu lewat internet.

Di tengah risetku, akhirnya aku sampai pada kesimpulan kalau kampus ini kurang dalam mengenalkan universitas mereka ke khalayak ramai. Padahal, mereka bukan kampus baru. Mereka adalah universitas swasta tertua di Lombok. 40 tahun sudah berdiri dan sudah melahirkan banyak mahasiswa berprestasi dan punya jabatan tinggi; ada yang menjabat sebagai bupati.

Akhirnya, kucoba menawarkan diri untuk membantu mengenalkan kampus ini dengan aset sosial media yang kupunya; dan aku juga berencana akan mengelola media sosial mereka yang saat itu jeleknya nauzubillah. Mereka menyambut baik dan aku disarankan untuk menjadi staff ahli wakil rektor III.

Kemudian, sebuah ide, terbesit dalam pikiranku.

Jika aku ingin mengenalkan kampus ini ke masyarakat luas dengan cara yang natural, maka aku harus tergabung menjadi bagian paling penting di sebuah universitas.

Bukan, bukan menjadi rektor, tetapi menjadi mahasiswa.

Hal yang paling penting dari sebuah universitas adalah mahasiswanya. Itulah aset paling berharga yang dimiliki oleh sebuah universitas di seluruh dunia.


Ide itu ku ajukan dan akhirnya diterima; aku resmi menjadi mahasiswa baru.

Aku mengikuti seluruh prosesnya. Statusku sama seperti mahasiswa lain; harus melewati masa pengenalan kampus dan menjalani pembelajaran sesuai dengan jadwal yang sudah disepakati oleh para dosen yang kelak akan mengajar.

Saat jam perkuliahan, aku seorang mahasiswa. Namun, ketika di luar jam perkuliahan, statusku ialah staff ahli wakil rektor III; dan sebetulnya banyak dari orang di kampus tidak tahu akan hal ini. Termasuk dekan, kaprodi, dan para dosen. Yang mereka tahu, aku adalah seorang mahasiswa yang punya banyak followers, hahahaha


Jadi, begitulah ceritanya kenapa aku bisa berkuliah.

Aku senang dan benar-benar menikmati hal itu; menjalani kehidupan sebagai mahasiswa, sebab, kepalaku kembali diisi dan seolah merunut kan ilmu-ilmu yang sudah aku dapatkan selama bertahun-tahun aku menuntut ilmu di Universitas Kehidupan.

Seperti biasa, ingin ku ceritakan semuanya dengan detail di sini, namun karena keterbatasan waktu dan tenaga, akhirnya harus kuselesaikan sampai di sini saja. Barangkali kelak tulisan jurnal-jurnalku bisa jadi draft naskah yang nantinya akan kubuatkan detailnya menjadi sebuah podcast.

Tapi, itu masih wacana HAHAHAHAHA.

Sekian untuk hari ini, sampai bertemu di jurnalku selanjutnya.

Tinggalkan komentar