Sesuai dengan janji pada postingan pertamaku di Medium, aku akan kembali aktif menulis jurnal; sebagai sarana latihanku agar skill menulis tidak kian tergerus. Dan aku akan memanfaatkan fitur ‘artikel’ dari Twitter ini untuk mempublikasikan jurnal harianku.
Mungkin tidak ada yang bertanya-tanya kenapa beberapa bulan belakangan ini aku gencar ngomongin politik di sosial media; terutama Twitter (aku masih tidak sudi menyebutnya X).
Buat yang tidak penasaran, sini aku kasih tahu.
Jadi, aku menyadari, sebagai penulis, aku sudah tidak relevan lagi.
Begitu juga sebagai orang yang aktif dan selalu mendapat exposure tinggi, aku sudah tak laku lagi karena ada banyak orang yang bisa menggantikanku; dengan konten-konten yang lebih baik dan lebih bagus dariku.
Tapi, bukan itu alasan utamanya.
Kalau ketertarikan dengan politik, jelas sudah lama aku tertarik. Bahkan ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, aku sudah punya ketertarikan dengan topik ini.
Kemudian, setelah menginjak usia dewasa, aku heran kenapa sejak kecil aku sudah punya ketertarikan itu. Kuingat-ingat lagi lebih dalam, ternyata salah satu faktornya karena pamanku suka membawa pulang koran terbitan terbaru dari kantornya. Saat itu jugalah minat bacaku mulai tumbuh.
Tidak hanya itu saja, kala itu, pamanku juga aktif menjadi anggota Partai Persatuan Pembangunan. Bahkan, di rumah nenek kami terpajang papan nama yang tertulis DPC PPP.
Dua hal itu, membaca koran terbaru dengan banyak topik politik di dalamnya dan pamanku yang waktu itu menjadi anggota partai, membuat ketertarikan pada politik cukup besar.
Dan sampai detik ini, ketertarikanku akan politik jelas masih besar.
Orang-orang yang kenal denganku secara personal pasti tahu akan hal ini, karena aku cukup sering melempar topik politik jika sedang nongkrong.
Jadi, tidak pernah bicara politik di media sosial, bukan berarti aku tidak paham dan tidak punya ketertarikan; bukan pula karena aku ingin ambil momen karena aku sudah tak laku dan tak lagi relevan.
Sebagai orang yang punya banyak pengikut di media sosial (saat itu), selama ini aku hidup dari hasil kerja sama iklan dengan brand atau agency dan aku mesti menjaga kepercayaan mereka dengan tidak membicarakan politik di akunku. Karena brand atau agency sangat menghindari menggunakan jasa influencer yang ada kaitannya dengan politik; ini bisa menghadirkan dampak buruk untuk image brand.
Itulah alasan kenapa aku tidak menjadi diriku sendiri di akunku.
Aku punya ketertarikan pada politik dan ingin membicarakannya, namun demi menjaga pendapatanku, aku menghindari mengeluarkan pendapatku; dan membicarakan topik politik hanya di tongkrongan tertentu saja.
Pernah suatu waktu aku ambil kesempatan membicarakannya; dan benar saja, sempat beberapa kerja sama cancel karena itu.
Kalau ditanya apakah karena akunku mulai sepi makanya aku cari exposure dengan ngomongin politik? Aku tidak bisa membantah hal sepenuhnya, aku cuma bisa bilang itu kurang tepat.
Justru, karena akunku mulai sepi, itulah kesempatan untuk aku bisa bersuara dengan bebas. Karena sepi artinya tidak mungkin ada kerja sama iklan dari brand atau agency yang masuk.
Jadi daripada aku terus menjaga sumber pendapatan yang jelas sudah tidak ada dengan tidak membicarakan politik di media sosial, lebih baik aku mulai jadi diri sendiri dan bersuara dengan bebas; sesukaku tanpa harus takut dan memikirkan ini juga itu.
Jadi, bukan karena ingin mencari engagement, tetapi aku sedang menjadi diriku karena aku memang sudah tak lagi relevan menulis tulisan romansa. Jelas, soalnya bertahun-tahun hidup kulewati dengan mati rasa tanpa pernah jatuh cinta pada seorang wanita.
Jiirrr nape curhattt. Lah inikan jurnal harian, emang tempat buat curhatlah!
Kembali ke topik awal kenapa aku bicara politik di media sosial.
Awalnya, aku tak mau ambil pusing membicarakan topik pilpres, karena kontestasi pemilihan presiden kali ini akan berjalan tidak seru (setidaknya ini sebelum heboh pemilihan calon wakil presiden), baru sebatas nama-nama tokoh yang digadang-gadang akan mencalonkan diri menjadi presiden di republik tercinta ini.
Bahkan prediksi awalku sudah kuat kalau periode ini adalah periodenya Prabowo Subianto untuk memimpin negeri setelah beberapa kali gagal nyapres.
Aku juga berpikir untuk mencoblos beliau atau tidak datang ke TPS karena mager alias sudah jelas siapa yang akan jadi pemenangnya, jadi sudahlah biarkan saja orang lain yang mencoblosnya.
Setidaknya itu sebelum heboh soal penentuan calon wakil presiden.
Sepertinya hal ini tidak hanya dialami olehku saja, tetapi oleh beberapa orang juga mengalami fase yang sama. Kita mulai terganggu saat Prabowo Subianto memilih anak presiden yang masih menjabat menjadi cawapresnya.
Itu saja menurutku sudah tidak beretika, karena bapaknya masih menjabat sebagai presiden dan sudah dapat dipastikan akan ada intervensi atau pemanfaatan kekuasaan sang bapak. Ditambah, prosesnya sampai mengubah konstitusi. Ini yang buatku makin terganggu dan mulai memposting cuitan ini:
(cuitannya hilang karena akun lamaku kena suspend)
Setelahnya, makin banyak hal-hal aneh di luar nalar terjadi dan yang bikin geram, pendukungnya menutup mata dan tetap mendukung seolah-olah beliau adalah nabi suci tanpa dosa sama sekali.
Saat itu, aku belum menentukan pilihan, tetapi aku sudah bisa memutuskan siapa yang tidak akan aku pilih.
Sejujurnya, cuitan di atas adalah bentuk kekecewaanku pada Prabowo Subianto yang sebelumnya memang ingin kupilih; memberikan kesempatan beliau untuk memimpin negeri ini, namun dengan adanya pelanggaran etik yang menurutku tidak bisa ditoleransi, aku jadi antipati dan mulai bersuara menentang agar tidak memilih beliau.
Kemudian, aku berpikir ulang.
Tak adil rasanya aku bersuara menentang satu paslon tanpa mengenali dan mendalami paslon lain.
Akhirnya, aku coba mencari tahu tentang Anies dan Ganjar.
Mulai kuikuti pergerakan mereka di media sosial dan membaca gagasan visi-misinya.
Akhirnya, saat itu, aku tautkan pilihanku ke Anies Baswedan karena ada banyak gagasan visi-misinya mewakili prinsip dan nilai-nilai yang ingin kuperjuangan; terutama untuk kelas menengah dan pekerja informal yang jarang diperhatikan.
Jadi, kalau ada yang mengira aku pendukung fanatik Anies Baswedan, itu salah besar. Karena aku juga tahu kalau aku mendukung paslon yang sudah jelas bakal kalah; yang sedari awal sebenarnya tidak masuk perhitunganku karena elektabilitasnya terlalu kecil untuk maju.
Awalnya aku mengira Anies Baswedan ini ikut ke pertandingan hanya sebagai pemecah suara saja; karena kukira, ini pertarungan antara Prabowo Subianto dengan Ganjar Pranowo, apalagi politik mulai seru sejak Mahfud MD menjadi calon wakilnya Ganjar.
Duh, sebenarnya ingin kuselesaikan tulisan ini, tetapi aku mendadak mager. Jadi, segitu saja dulu untuk hari ini, karena aku harus melanjutkan pekerjaanku; bukan sebagai penulis, tetapi sebagai ‘kuli’ di negara orang lain.
Sampai bertemu di jurnal-jurnalku yang lain.
Tulisan ini terbit pertama kali di Medium, 29 Februari 2024.
Dayat Piliang
Tinggalkan komentar