Sejujurnya, aku bingung dengan keadaanku saat ini.
Sebagai seorang penulis, aku tidak lagi produktif. Bertahun-tahun setelah buku Distraksi Patah Hati terbit dan rilis, tidak ada satu pun buku yang bisa kuselesaikan; dan aku benar-benar membenci fakta kalau diriku terlalu banyak membuang waktu karena terlalu larut pada perasaan sedih, kecewa, dan depresi yang semakin menjadi.
Produktifitas menurun karena depresi yang pernah kualami, akhirnya menyadarkanku untuk segera bangkit dan kembali mencoba hal-hal baru
Padahal perjuanganku demi bisa menjadi penulis penuh waktu tidaklah mudah. Bahkan aku rela keluar dari pekerjaan utamaku sebagai personal assistant salah seorang direktur di rumah produksi film layar lebar.
Memang ada faktor lain, namun itulah salah satu alasan kenapa aku mengundurkan diri.
Alasan lainnya, aku sudah tidak nyaman bekerja di sana. Ada beberapa hal yang tidak bisa aku toleransi dari karakternya. Bukan berarti buruk, hanya saja memang tidak sesuai dengan kepribadian yang kumiliki.
Menjadi seorang personal assistant, artinya kita harus siap menghabiskan sebagian besar waktu kita untuk mendampingi, melayani, dan melaksanakan apa yang dipertintahkan oleh atasan.
Ketika aku masih bekerja, hampir seratus persen waktu kuhabiskan bersama atasan. Belum lagi pada saat itu memang jadwal atasanku sedang sibuk-sibuknya; harus berkunjung ke-40 kota, mendatangi, dan bertemu dengan banyak orang.
Dalam agenda yang padat dan melelahkan itu, aku hanya punya waktu dua jam untuk tidur di atas kasur yang nyaman; sisanya hanya bisa mencicil istirahat sedikit demi sedikit di tengah perjalanan, yang jelas tidak nyaman.
Jujur, aku mencintai pekerjaan itu, namun tidak dengan karakter atasannya.
Tidak senang dengan karakter atasan, bukan berarti atasanku ini busuk dan brengsek, ya. Sama sekali tidak.
Ini hanya masalah ketidaksesuaian karakter saja.
Seperti saat kita sedang menjalin hubungan dengan seseorang dalam konteks pasangan, kita harus mencari yang sesuai dan sefrekuensi demi menghindari dan meminimalisir konflik-konflik yang tidak perlu. Dan kalau kita bertemu dengan orang yang tidak sesuai, kan tidak selalu mereka buruk, hanya saja memang orang itu tidak tepat saja buat kita. Begitulah situasi dengan atasanku. Karakter kami memang tidak cocok disatukan bersama dengan waktu yang cukup lama.
Jujur, sebenarnya aku bingung hendak menuliskan apa dalam tulisan ini; tulisan pertama saya di Medium. Sejauh ini, hanya itu saja yang terbesit dalam pikiran. Bahkan dalam paragraf ini, aku mulai nge-blank. Kurasa begitulah realitas kehidupan seorang penulis yang tidak lagi produktif; yang tidak melatih dirinya menulis dan tidak berusaha mengembangkan dirinya; yang tidak lagi bergerak mencari banyak pengalaman dan tak lagi banyak membaca bahan bacaan.
Mati! Semua mati!
Bahkan, aku yang biasa menuliskan hal-hal yang berbau asmara, kini sudah tidak lagi bisa merasakan hal itu. Iya, diriku telah mati rasa dan rasaku telah mati entah bagaimana.
Aku juga sudah tidak menulis kutipan-kutipan singkat yang biasa kutulis untuk diposting pada akun media sosial. Aku telah berhenti sejak lama.
Tapi, tenang. Perlahan semuanya sudah mulai membaik. Ada banyak pengalaman dan cerita yang akan kutumpahkan di sini. Saat ini, aku mulai melakukan banyak gebarakan; mulai dari kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Pulau Lombok, mencoba berbaur dengan orang-orang baru, dan sampai akhirnya saya terdampar di sebuah negara asing yang tidak pernah terbesit sedikit pun saya akan mendatanginya.
Iya, setelah semester satu perkuliahanku berakhir. Seorang teman menghubungi dan kembali menawarkan pekerjaan yang sama seperti penawaran dia satu tahun sebelumnya; untuk bekerja di negara lain. Terbesit pikiran nakal saya untuk mencoba suasana yang berbeda. Meski sebenarnya aku belum jenuh menjadi seorang mahasiswa, namun aku semakin tertarik karena pekerjaan itu bukan pekerjaan biasa.
Akhirnya, di sinilah aku; terdampar di negara asing dan menjalani kehidupan yang berbeda, kehidupan yang menegangkan dan selalu memicu adrenalin. Tapi, belum saatnya aku cerita dan membuka semuanya perihal negara dan jenis pekerjaannya. Tapi yang pasti, ini adalah cerita yang seru; yang tidak semua orang bisa lakukan.
Satu persatu, pasti akan kuceritakan. Mulai dari diriku yang akhirnya punya berani melangkahkan kaki untuk merantau dan berkelana kembali; bahkan kali ini lebih jauh dari perantauanku yang sebelumnya dan jauh lebih berani dari aku yang dahulu.
Semoga aku, dengan pergerakan yang tiada henti ini, senantiasa bisa konsisten tuk menumpahkan apapun dalam tulisan, terutama menulis di platform Medium ini. Dan semoga saja tulisan pertamaku ini bukanlah tulisan yang terakhir.
Tulisan ini terbit pertama kali di Medium, 27 Februari 2024.
Dayat Piliang
Tinggalkan komentar