Sering aku bertanya pada diri sendiri, apakah semua keputusan dari sebuah pilihan yang kubuat setiap hari itu benar-benar datang dari dalam diri? Atau mungkin, itu dibentuk oleh algoritma yang setiap hari semakin canggih?
Tak menutup kemungkinan itu terjadi.
Sebab, playlist yang kudengarkan setiap pagi, semua disusun oleh sistem rekomendasi yang mengamati jenis lagu yang aku pilih. Begitu juga dengan video yang muncul di linimasa; konten motivasi, tips itu dan ini, bahkan curahan hati orang asing yang muncul pada saat layar tergulir, semua dipilihkan oleh satu mesin yang tentu tahu lebih banyak tentang kebiasaan kita, dibandingkan diri kita sendiri.
Lucunya, aku merasa sudah melakukan pilihan.
Padahal, aku hanya mengikuti apa yang disarankan.
Ini sama seperti perpolitikan di negeri ini; kita seolah memilih calon pemimpin yang kita pilih, tanpasadar kalau figur publik politisi itu sudah melewati kurasi dari elit-elit yang kita tak tahu siapa yang sebenarnya di balik mereka.
Bahkan, saat aku berpikir sedang membuat keputusan yang besar; seperti membeli buku baru, memilih topik tulisan, atau memutuskan ingin memulai hidup baru yang lebih mindfiul, bukankah semuanya dipengaruhi dari apa yang aku konsumsi?
Kita menyebut itu semua sebagai prefensi pribadi, tapi aku mulai meragukan hal itu; apakah itu benar-benar keinginan sendiri? Atau ini hanya bias yang terus menerus dijejali oleh sebuah sistem sampai terasa seperti keinginan otentik dari dalam diri?
***
Dahulu, aku begitu suka menulis senandika; sebuah susunan kata menjadi sebuah kalimat yang tak selalu logis, namun bisa menyentuh bagian dalam diriku sendiri.
Bagiku, menulis senandika terasa seperti sedang berbicara pada diri sendiri, tanpa perlu ada seorang pun yang mengerti.
Tapi, algoritma berkata lain.
Senandika sudah tak relevan lagi.
Yang viral dan mendapat atensi banyak orang ialah curhat emosi yang penuh dengan konflik drama; tips singkat dengan caption yang relatable, atau bisa juga kombinasi video yang penuh dengan estetika dan audio yang sedang trending.
Itulah yang buatku mengubah cara, gaya, dan topik menulis.
Bukan kehilangan cinta pada senandika, tapi aku takut jika tak ada yang melihatnya; takut tak lagi relevan dan takut tak lagi menjadi bagian dari riuh pembicaraan orang-orang di maya.
Bukankah itulah yang ditakuti oleh banyak orang?
Menjadi tidak terlihat.
***
Kini, kita hidup pada sebuah zaman di mana menjadi terlihat, seolah-olah penting dan berharga.
Jumlah views, likes, dan banyaknya komentar menjadi validasi bahwa apa yang kita lakukan sudah benar.
Namun, ketika angka-angka itu tak sesuai dengan apa yang kita ekspektasikan, kita mulai meragukan diri sendiri; padahal, boleh jadi yang salah hanya waktu posting atau topik konten yang barangkali kurang relate untuk orang lain.
Mari kita kembali pada pertanyaan: benarkah semua ini murni dari diri kita sendiri?
Dan, bisa jadi, rasa ingin tahuku tentang ini juga tidak murni.
Boleh jadi pembahasan ini bukan karena aku amat sangat tertarik, tapi karena trennya memang sedang ke arah sana.Topik-topik yang sedang hangat, membuatku merasa tertinggal kalu tidak lekas ikut terlibat, meski sebenarnya aku tak punya ketertarikan apa-apa dengan isu ini.
***
Jujur saja, sedari awal aku mulai menulis, aku tak pernah peduli soal ada yang baca atau tidak; semua murni karena aku ingin menumpahkan apa yang ada di dalam hati dan kepala.
Namun, seiring berjalannya waktu, semua berubah.
Algoritma, ia tidaklah jahat; ia tak ada punya niat.
Algoritma hanya sebuah sistem yang menjalankan perintah tuk mempertahankan perhatian orang-orang selama mungkin, agar matanya tak lepas dari layar kaca.
Ia menganalisis klik, gulir layar, dan jeda mata kita pada ponsel pintar yang kita punya; kemudian, menciptakan pengalaman yang buat kita merasa sedang menemukan hal baru, padahal, sebenarnya, kita sedang diarahkan entah ke mana.
Algoritma tidak berbahaya; namun, ketika kita abai kemudian berhenti bertanya, apakah ini sungguh sesuatu yang aku pilih? menurutku itulah saat di mana kita sedang berada pada titik paling bahaya.
Bukan aku ingin jadi orang yang paranoid pada teknologi.
Bahkan, sampai detik ini, aku masih mengandalkan internet untuk belajar, bekerja, dan terkoneksi dengan banyak orang. Tapi, aku juga tak ingin kehilangan sebagian diri hanya karena takut jadi tak relevan lagi.
***
Hari ini, aku menulis bukan karena ada sesuatu yang sedang trending, atau, bukan karena ada keyword yang punya potensi tinggi tuk dimanfaatkan.
Aku menulis, karena ingin mengingat diri kalau aku masih bisa dan harus bisa memilih yang benar-benar dari hati, bukan dipengaruhi oleh sesuatu yang sebenarnya tak kukenali.
Tulisan ini, tentunya tak akan viral dan aku juga tak peduli akan ada yang membacanya atau tidak. Tanpa sebuah poles, tanpa dipikirkan matang-matang demi menunjang syarat algoritma.
Aku menulis ini, hanya ingin menumpahkan apa yang membuat aku resah tentang dunia yang hampir tak bisa kuikuti. Dan, aku juga sedang belajar untuk lebih jujur pada diri sendiri.
Barangkali, ini adalah bentuk perlawanan kecilku, memilih untuk tetap jujur di tengah dunia yang semua terasa palsu karena mengandalkan kecerdasan buatan tipu-tipu.
Aku, tak selalu bisa lepas dari jeratan algoritma.
Namun, setidaknya, aku tetap bisa sadar kalau hidupku tidak dimiliki oleh sebuah sistem; dan, aku tetap punya kuasa untuk memutuskan apa yang ingin kudengar, lihat, dan tulis.
Dan, cukup dulu untuk hari ini.
— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.
📝Tulisan ini terbit pertama kali di Medium,
4 Mei 2025.

Tinggalkan Balasan