#65: Jika Dunia Ini Hanya Punya Sedikit Orang Seperti Timothy

Di kehidupan yang brengsek ini, ada orang-orang yang lahir dengan kelembutan hati yang tidak sejalan dan seirama dengan zaman; mereka yang menatap dunia dengan hati bersih, namun sayangnya dunia menatap balik mereka dengan taring dan cakar, siap sedia menerkam siapapun yang tidak sama dan tidak sejalan.

Timothy Anugerah Saputra namanya, seorang anak mudah yang tak ingin menjadi terkenal, hanya ingin menjadi berguna.

Ia tidak hidup untuk sorotan mata,
hanya hidup demi makna.

Ia membaca dunia dengan cara yang lembut. Tidak dengan ego, melainkan dengan empati; dan dalam diamnya yang tenang itu, banyak orang yang tidak tahu kalau ia sedang memikul sesuatu yang berat,

beban menjadi manusia yang terlalu peka di dunia yang terlalu dingin.

Meski berbeda, ia berusaha berjuang untuk suara-suara kecil yang tidak terdengar oleh telinga orang-orang besar yang punya kuasa.

I. Orang Baik yang Hidup di Zaman yang Salah

Timothy adalah mahasiswa aktif semester tujuh jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana.

Anak yang baik, sopan, penuh dengan energi positif, pemikir, dan terlalu jujur untuk dunia yang penuh dengan kepura-puraan sosial yang dibentuk oleh lingkungan sekitarnya.

Meski begitu, di usia semuda itu, ia sudah tahu dan mengerti betapa tidak adil dan penuh ketimpangan dunia yang ia tinggali. Ia bersuara untuk keadilan, ketimpangan sosial yang semakin menjadi, dan tentang sistem yang selalu menindas kaum rentan, juga lemah.

Suaranya terdokumentasi dalam orasi-orasinya; yang mungkin terlalu menarik perhatian untuk didengar oleh teman-temannya yang masih sibuk mencari jati diri dan sibuk mengejar validasi palsu demi dokumentasi instastories.

Ia tak takut jadi beda, ia hanya ingin jujur pada apa yang ia yakini; keyakinan yang pernah dimiliki oleh semua orang, namun akhirnya tak lagi bersuara karena realitas kehidupan memaksa mereka untuk bungkam.

Dan Timothy, meski hidup berbeda dan di zaman yang sudah begitu kacau ini, tetap bersuara dengan jujur, meski dunia melihatnya seolah aneh.

II. Dunia yang Menertawakan yang Tidak Sama

Meski kita hidup di negara yang menjunjung tinggi Pancasila, tapi tidak semua bisa menerima hal-hal yang beda.

Timothy, dengan perbedaannya, menjadi bahan percakapan untuk diolok-olok dan menjadi candaan mahasiswa-mahasiswa yang merasa diri intelek padahal tak ubahnya seperti begundal pasar yang bahkan masih punya batas-batas yang tak akan mereka lewati.

Mulai dari sebutan aneh, cara berbicara yang lucu, dan bentuk yang disamakan dengan selebgram yang viral karena paras yang tidak seperti orang umum, tapi tak boleh kita jadikan diksi ledekan. Karena, fisik, itu diberi tanpa ada kuasa penerimanya.

Dan ketika tragedi itu datang, ketika ia melompat dari lantai empat dengan segala luka yang tak terlihat; sebagian dari mereka masih sempat-sempatnya menjadikan bahan canda di grup WhatsApp.

Candaan yang barangkali lahir dari ketidaktahuan atau memang ingin terlihat paling berkuasa, berubah menjadi peluru; dan peluru itu, kemudian menembus hati seseorang yang sudah lama berjuang menahan perihnya rasa sakit tanpa bersuara dan tanpa pernah bercerita.

Sebagian mungkin terpecah pendapatnya. Ada yang berkata, “Ah, dia saja yang terlalu lemah.” Tapi sebagian besar orang tidak memahami, kalau yang lemah ialah mereka yang butuh menjatuhkan orang lain demi merasa diri berharga; dan biasanya, mereka melakukan itu tidak sendiri, harus bergerombol. Karena kalau sendirian, mereka juga tak punya nyali dan keberanian.

III. Sebuah Ironi Besar dalam Hidup ini

Yang paling ironis dari semua ini adalah, mereka yang menertawakannya barangkali tak akan pernah bisa mencapai kedalaman dan titik yang pernah ditempuh oleh Timothy.

Ketika banyak orang sibuk memperbaiki citra, mempercantik postingan sosial media; Timothy justru sibuk memperjuangkan gagasan dan berorasi pada panggung-panggung yang mungkin tak bisa disentuh oleh orang-orang yang mem-bully-nya.

Ia aktif pada diskusi-diskusi sosial, dikenal di lingkaran aktivis muda, dan bahkan diakui perkumpulan ideologis bernama Perhimpunan Sosialis Revolusioner; yang menyebutnya sebagai kamerad, seorang pejuang muda yang menolak tunduk pada ketidakadilan.

Timothy tidak berjuang untuk popularitas, ia berjuang agar suara orang kecil didengar. Ia tidak berbicara untuk didengar, ia berbicara karena diam terlalu menyakitkan. Ia ingin menjadi penyambung lidah orang-orang kecil yang terus ditindas oleh ketidakadilan sistem yang memaksa mereka untuk tetap hidup sulit.

Dan barangkali itulah yang buat sebagian orang tak nyaman; karena orang seperti Timothy memantulkan sesuatu yang tidak dimiliki oleh banyak oran; keberanian untuk tetap jujur, bahkan saat dunia mengolok-oloknya.

IV. Dunia yang Gagal Memahami Orang Lain

Timothy tidak mati karena dia lemah, ia mati karena dunia tidak tahu cara memperlakukan orang lain yang berbeda dari mereka. Karena dunia lebih mudah memberi panggung bagi yang keras bersuara tapi kosong isinya dan menyingkirkan yang tenang, terukur, dan punya isi yang terus diperjuangkan secara konsisten.

Karena memang kita adalah bangsa yang mudah memaafkan kekasaran daripada mendengar kesedihan orang lain.

V. Mereka yang Menertawakan Timothy

Saat kulihat ucapan permintaan maaf mereka di internet, hati kecilku bertanya, “apakah mereka benar-benar menyesal?”, atau jangan-jangan, di balik layar selepas kamera dimatikan, mereka masih sibuk membela diri dengan kalimat klasik, “aku cuma bercana.”

Kita memang bangsa yang gemar bercanda, tapi candaan yang membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri dan meratap sedih di tengah malam, bukan lagi candaan yang lucu untuk kita tertawakan; itu adalah kekerasan yang dikemas dengan tawa, sebuah kesenangan yang hanya bisa dinikmati dan dirasakan oleh mereka yang tak punya empati dalam hatinya.

Tapi, memang begitulah dunia bekerja.

Bukan tentang benar dan salah, tapi tentang siapa yang paling banyak dan berisik, dialah yang menguasai permainan; sedangkan yang berbeda dari mereka, pasti akan dipermasalahkan karena tak bisa menyesuaikan diri.

VI. Jika Dunia Punya Sedikit Orang Seperti Timothy

Memang, orang-orang seperti Timothy tidak hadir untuk selalu buat kita merasa nyaman. Mereka datang untuk mengingatkan bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling lucu di grup, tapi siapa yang paling berani mencintai dunia dan memperjuangkannya dengan cara yang benar dan jujur.

Dan jika dunia ini punya sedikit orang seperti Timothy,

mungkin kita tidak akan mudah menertawakan,
mungkin kita akan lebih sering diam sebelum bicara,
dan mungkin kita akan belajar bahwa keberanian bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, tapi siapa yang paling tulus perasaannya.

Dan jika dunia ini punya sedikit lagi orang seperti Timothy,

mungkin kita akan berhenti melukai orang berbeda,
mungkin kita akan berhenti menilai orang dari seberapa keras mereka tertawa,
dan mulai menilai diri kita dari seberapa dalam kita bisa berempati.

Kini, Timothy telah pergi,
tapi tidak dengan kisahnya.

Ia akan tetap hidup dalam diri setiap orang yang masih percaya bahwa kelembutan bisa menjadi bentuk perlawanan; ia hidup dalam setiap anak muda yang tidak takut untuk menjadi baik di dunia yang menertawakan kebaikan dan keberanian yang jujur.

Timothy akan tetap hidup dalam setiap diri yang menolak menjadi batu di tengah manusia yang keras kepala; karena pada akhirnya, yang membuat manusia bertahan bukanlah kekuasaan atau merasa berkuasa, bukan juga kepintaran atau yang merasa dirinya pintar, namun hati yang masih sanggup merasakan ketulusan di tengah dunia yang sedikit yang peduli akan hal itu.

— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.

Tinggalkan komentar