Sepucuk kabar dari grup WhatsApp Kapitulis itu tiba-tiba saja masuk lewat notifikasi, “Teman-teman, Mas Agus telah berpulang…”
Aku terdiam cukup lama selepas membaca pesan itu; seseorang yang pernah memberikan kepercayaan untuk menerbitkan buku di penerbit yang ia pimpin, berpulang tiba-tiba tanpa aba-aba.
Mas Agus adalah pimpinan redaksi salah satu penerbit yang cukup ternama di Indonesia; Media Kita namanya. Penerbit yang telah banyak menerbitkan buku karya Boy Candra, Fiersa Besari, dan nama besar lainnya.
Dan aku, belum menepati janji itu.
Naskahku tak kunjung selesai.
Berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun naskah itu terlantar kuabaikan. Sesekali pernah kubuka, termenung berjam-jam menatap layar, mengetik beberapa baris kata, lalu kututup lagi. Berkali-kali aku dihubungi editorku, kubalas seperlunya, seringnya tidak. Perlahan, aku menghilang; seolah mangkir dari kewajiban yang sudah kusetujui sendiri.
Informasi utuh kuterima, Mas Agus meninggal dunia karena sakit keras yang ia rahasiakan dari semuanya. Meski belum kenal terlalu dekat dan lama, namun kesabaran beliau menunggu naskahku, buatku merasa seperti ada yang patah dalam diriku.
Bukan sekadar kehilangan orang baik yang menawariku kesempatan, aku juga semakin kehilangan diriku karena rasa bersalah dan fase quarter life crisis yang sedang kuhadapi kala itu.
Fase yang Paling Sunyi
Pernahkah kamu merasa bingung akan masa depan dan arah tujuan?
Kala itu, aku sedang berada pada masa-masa itu. Semua terasa ganjil dan ada yang mengganjal. Usia dua puluhan, tapi rasanya seperti menua terlalu cepat.
Kehilangan semangat, arah, dan pegangan.
Orang-orang menyebutnya quarter life crisis.
Tapi, bagiku, itu terasa seperti kehilangan rumah; bukan secara harfiah, tapi secara jiwa. Aku masih hidup, masih bernyawa, namun rasanya seolah ruhku sedang berpisah dengan raga.
Kucoba untuk menulis, tapi kata demi kata yang kususun terasa dingin, tidak bersahabat, dan terdengar palsu. Di fase itulah aku ingin melarikan diri dari semuanya; memutuskan untuk pergi ke tempat yang bahkan tak pernah kupikirkan sebelumnya. Tempat asing, sunyi, dan tak ada satupun yang mengenaliku di sana.
Aku ingin melepaskan semua ini, mengganti identitasku, dan memulai hidup baru menjadi orang biasa.
Menuju Pulau yang Sepi
Setelah berbulan-bulan terjebak pembatasan pandemi di Jakarta; selepas dirayakan hari lahirku oleh rekan-rekan Kapitulis seperti Deva Mahenra, Zarry Hendrik, Agung Pamukti, Kiki Mulki, dan lainnya, aku balik ke kota lahirku, Kota Medan. Aku masih mencari sebagian diriku yang hilang entah ke mana.
Di sana, tak jua kutemukan bagian lain dari diriku yang dahulu pernah begitu berapi-api meraih mimpi, menulis sebanyak-banyaknya, dan menyerap banyak buku yang akan memicu banyak inspirasi dalam kepala.
Aku lelah, aku tak tahu ke mana harus melangkah.
Berjuta cangkir kopi yang kuhabiskan di kota lahirku, tak bisa kutemukan jawaban tuk menghilangkan ganjalan dalam diriku.
Kuputuskan untuk berkelana ke tempat asing.
Aku terbang ke Lombok dengan koper sedang, tas kecil, dan beberapa buku yang akan jadi bacaanku. Sesampainya di bandara Lombok, kulanjutkan perjalanan dua jam ke pelabuhan Bangsal bersama bapak sopir yang ramah, kemudian menumpang di kapal kayu menuju Gili Trawangan.
Pulau itu sedang sepi, ujar rekanku seorang Dokter di Lombok. Pariwisata anjlok setelah gempa Lombok dan pandemi yang membuatnya makin terpuruk, turis tak lagi datang ke pulau ini. Bar, hotel, toko, hingga resto memutuskan menyerah dengan keadaan yang tidak menguntungkan.
Pulau ini seperti tubuh yang kehilangan napas.
Terengah-engah untuk bangkit.
Tapi, entah kenapa, aku merasa inilah tempat terbaik untukku bersembunyi sejenak dari riuh ramainya dunia dan kencanduanku akan angka-angka sosial media.
Setibanya di sana, aku menuju penginapan menggunakan Cidomo–istilah yang digunakan orang Lombok untuk menyebut kendaraan delman.
Sebelum ketibaanku di pulau ini, aku sudah mengontak dan membayar sewa untuk bungalow sederhana di agak dalaman pulau. Tempatnya tenang, sunyi, dan ada gemericik suara air dari pancuran yang airnya jatuh ke kolam renang.
Dalam hati, aku berseru doa, semoga di tempat yang menenangkan ini, aku bisa menemukan jawaban yang sudah lama kucari.
Aktivitasku di sana begitu membosankan bagi sebagian besar orang. Tapi aku benar-benar menikmatinya.
Selepas sarapan pagi, aku bersepeda mengelilingi pulau. Kulihat ada beberapa turis asing yang sedang menikmati hari-harinya di pulau sepi ini.
Siangnya, aku mencari kedai kopi atau tempat makan yang masih buka dan menyediakan hidangan, menatap laut yang jarang dihampiri gelombang. Dan ketika sore menjelang, aku kembali mengitari pulau dan mampir di warung kecil untuk membeli segelas kopi sachet. Duduk di bebatuan, menatap matahari tenggelam, kemudian kembali ke penginapan saat gelap malam mulai menyergap.
Begitulah kegiatanku selama sebulan di Gili Trawangan.
Bukan berlibur, aku hanya berusaha memahami diriku sendiri.
Ketika Menulis Tak Lagi Menyembuhkan
Sebelumnya, aku sudah sampaikan ke talent manager-ku, kalau aku hendak menghilang sementara dari jaringan; memutuskan diri dari dunia internet.
Sebulan di sana, tak ada yang memintaku untuk menulis atau pekerjaan lainnya; tak ada tenggat waktu yang harus kuburu, tak ada pembaca, tak ada siapa pun yang menunggu.
Dan anehnya, justru di situlah aku benar-benar sadar; aku tidak benar-benar tahu siapa diriku tanpa tulisan.
Aku membuka laptop, coba menyusun kata menjadi kalimat.
Tetap saja, masih hampa rasanya.
Malam perenungan itu, aku menyadari satu hal besar; sudah terlalu lama aku menulis untuk dilihat orang, bukan untuk menenangkan diri dan meredakan bising isi kepala.
Aku menulis demi engagement, bukan untuk jujur dan jadi diri sendiri.
Dan, ketika perhatian banyak mata mulai menghilang, aku jadi kehilangan diriku; aku tak lagi menulis untuk sembuh, di situlah aku benar-benar mulai sakit.
Sebulan yang Tidak Menghasilkan Apa-apa
Dengan aktivitas yang itu-itu saja, hari-hari berjalan lambat.
Aku menulis, lalu menghapus.
Menulis lagi, menghapus lagi.
Merenung, menyesap kopi, menikmati semilir angin dan debur ombak, bukan semakin dekat dengan jawaban yang kucari, justru aku merasa semakin jauh.
Di sore hari terakhir, aku duduk di tepi pantai dengan kopi sachet di warung biasa kusinggahi. Kupandangi hamparan pemandangan yang indah itu baik-baik; dengan mentari yang mulai redup cahayanya, angin yang menyapu air laut menghadirkan guratan-guratan nan indah, dan suara beberapa orang lewat yang merasakan bahagia menikmati sepinya pulau.
Di tengah semua keindahan itu, mataku tiba-tiba berair. Perasaannya ganjil. Aku menangis, tapi tidak tahu untuk apa dan siapa.
Barangkali aku sedang menangisi sesuatu yang tak bisa kujelaksan;
Rasa bersalah pada orang yang sudah pergi,
kehilangan pada diri yang sudah tak sama lagi,
dan rasa takut kalau hidupku akan terus begini;
tanpa arah, tanpa langkah, tanpa alasan kuat untuk tetap bertahan dari semua pelik dan masalah yang harus kuhadapi sendiri.
Kita Tak Harus Selalu Punya Jawaban
Sebulan kuhabiskan hariku di Gili Trawangan.
Meski tak menemukan apa-apa; tak ada inspirasi, tak ada ketenangan, tidak jua jawaban; namun saat speedboat yang kutumpangi mulai meninggalkan pulau menuju Bali, tiba-tiba ada rasa yang tak bisa kuterjemahkan detail.
Aku merasa, barangkali memang tidak semua hal harus ada jawabannya.
Setidaknya saat itu.
Mungkin, memang ada hal-hal yang hanya perlu kita terima apa adanya; bahwa rasa bersalah tak selalu bisa ditebus, kehilangan tak selalu bisa kita pahami, dan diam pun, bisa jadi bentuk doa yang paling jujur.
Karena, yang kita butuh sebenarnya bukan jawaban; tapi jeda. Agar hati dan pikiran kita punya ruang untuk bernafas dan belajar untuk tenang menerima.
Kini, lima tahun sejak hari itu, aku mulai menulis kembali; di negeri asing tempatku kembali menata hidup dan belajar jadi manusia yang lebih tenang.
Memang, aku belum juga menyelesaikan naskah buku janjiku, tapi kini aku tak lagi merasa dikejar waktu.
Karena kini, aku mengerti, hidup tak selalu menuntut kita untuk tahu segalanya. Sebab, yang paling penting bukan mencari jawaban, melainkan seberapa besar berani kita untuk tetap melangkah meski belum ketemu dengan jawabannya.
Nikmati hari ini, dan biarkan waktu yang menjawab dengan caranya sendiri.
— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.
Tinggalkan komentar