#63: Tugasku Berjuang, Selebihnya Biarlah Semesta yang Bekerja

Menata hidup di negeri yang asing itu tidak semudah yang dikira.

Setiap pagi aku menyalakan motor, menembus jalanan penuh debu ketika panas dan penuh lumpur saat musim hujan; demi sampai ke sebuah tempat di mana aku bisa menukar waktu, tenaga, dan pikiran dengan pundi-pundi dollar.

Semua ini kulakukan agar kelak masa depan yang coba kutata bisa kembali rapi, agar aku bisa menjalani masa depan bersama seseorang yang kucintai; dengan tenang, cukup, dan tanpa harus meributkan masalah ekonomi yang sering kali menjadi pemicu ribut dan retaknya rumah tangga.

Sebagai anak yang tumbuh dari keluarga yang broken home, aku tak ingin apa yang terjadi di masa lalu, terulang di hidupku nanti. Itulah mengapa semuanya harus kupersiapkan dengan matang. Tidak sembarang. Semua harus terukur, penuh perhitungan, dan dijalani dengan kesadaran agar tidak meleset jauh dari apa yang sudah direncanakan.

Tentang Harga Sebuah Perjuangan

Tapi di balik itu semua, aku tak merasa jadi diriku sendiri.

Entah mengapa, setiap kali tertawa, ada bagian dari diriku yang diam. Setiap kali aku bicara, ada jeda kecil di antara napas yang terasa berat.

Aku hidup, namun rasanya seolah tak benar-benar bebas; seperti ada sesuatu yang mengganjal, tapi aku sendiri tak tahu apa dan di mana letaknya.

Aku sering bertanya pada diri sendiri,
“Apakah ini harga yang harus dibayar dari sebuah perjuangan?”

Beberapa hal memang harus kita korbankan; mulai dari mengabaikan keinginan demi kesenangan diri dan fokus pada kebutuhan, mengurangi intensitas komunikasi pada hal-hal yang tak begitu penting serta tak punya manka, dan memilih menikmati kesunyian setelah sebelumnya hidup di tengah riuh canda juga tawa pergaulan.

Begitulah kejamnya kehidupan dewasa.
Meski menyebalkan, aku tetap melangkah.

Namun, kesialan hidup terdampar dan terjebak di negara yang asing ini tak pernah kukutuki. Karena seiring banyaknya pengalaman yang sudah kulalui, aku belajar bahwa hidup bukan untuk terus dikeluhkan; tapi dijalani, sebajingan apa pun alur ceritanya.

Pun bila ada rasa tak nyaman, aku akan atur, sesuaikan, dan tetap mencari peluang-peluang lain di luar sana; sembari bertahan sejenak di dunia yang kadang terasa seperti neraka.

Begitulah yang kulakukan.

Tak hanya berdoa dan mengeluh, namun aku senantiasa mencari berbagai macam jalan agar bisa keluar dari dunia yang sedang kujalani ini; yang tak pernah memberikanku rasa kebebasan itu.

Aku mengetuk pintu-pintu lama; mengontak rekanan, mengirim lamaran ke perusahaan di Indonesia meski pendapatannya tak seberapa, bahkan memberanikan diri menghubungi orang-orang besar yang dulu pernah memberikanku percayanya.

Setiap pesan, lamaran, dan peluang demi peluang, kuketik, kirim, dan kucari dengan harapan yang bergetar. Dan saat semuanya tak membuahkan hasil, ada sejumput kecewa yang kutelan diam-diam.

Tapi hidup tetap harus berjalan.

Tentang Lelah dan Penerimaan

Memang, aku sempat masuk ke fase lelah; bukan menyerah mencari peluang, tapi mulai berdamai dengan keadaan.

Kuputuskan untuk bertahan sejenak sembari membangun rencana lain yang lebih matang, dengan pondasi yang kubangun sendiri sehingga nanti aku tak perlu berharap belas kasih dan bantuan orang lain.

Sebagai seseorang yang dulu sempat merasakan jaya, sebenarnya ada banyak peluang yang bisa kuambil. Jadi bukan karena aku tak punya pilihan lain, tapi memang semua butuh waktu agar bisa berjalan sebagaimana mestinya.

Sama seperti banyak orang yang sedang mencari peluang dalam hidupnya, aku juga harus belajar menerima banyak penolakan; dan kenyataan bahwa ketika masa jayaku meredup, pengaruhku tak lagi sebesar dulu.

Meski begitu, aku tetap percaya.

Kuanggap ini bukan hukuman, tapi ujian agar aku tetap teguh. Barangkali Tuhan sedang menempa diriku agar lebih kuat ketika diberikan kepercayaan yang lebih besar nantinya.

Ketika Peluang Itu Datang

Dan anehnya, ketika aku berhenti mengejar, peluang itu datang.

Tanpa rencana, tanpa aba-aba.

Sebuah pesan masuk dari salah satu pengusaha besar tanah air; seseorang yang begitu menginspirasi banyak orang dengan perjalanannya membangun bisnis dari kecil.

Saat ruang itu mulai terbuka, aku terharu.

Semesta seolah berkata, “Kau sudah cukup berjuang. Sekarang, izinkan aku bekerja untukmu dan semoga ini bisa jadi peluang baik yang bisa kau maksimalkan dan sambut dengan baik.”

Aku terdiam cukup lama.

Hatiku tak henti mengucapkan syukur. Aku seperti menemukan oase di tengah padang gurun setelah menempuh perjalanan panjang.

Aku tak tahu apakah ini jalan yang nantinya akan membawa banyak kebaikan dalam hidupku. Tapi jika memang aku diberi kepercayaan, aku akan menjalaninya sepenuh hati dan memaksimalkan seluruh potensi.

Karena aku tipikal orang yang setia. Memang kedengarannya sombong, tapi itulah kebenaran kecil tentang diriku. Aku tak begitu nyaman berpindah-pindah; jika sudah percaya dan nyaman terasa, aku akan menetap lama, bahkan selamanya.

Sebab aku bukan setia pada tempat, orang, atau jabatan; aku hanya akan setia pada hal-hal yang membuat hidupku lebih berarti dan dihargai.

Dan jika kesempatan ini bisa berjalan baik, aku tak ingin menuntut apa pun.

Aku hanya ingin melakukan yang terbaik.

Karena aku percaya, jika kita bekerja dengan maksimal di tempat yang tepat dan bersama orang yang tepat, maka lelah itu bisa jadi berkah.

Bukankah mustahil kita menjalani hidup tanpa merasa lelah? Yang perlu kita pastikan adalah, apakah lelah itu bermanfaat dan punya makna, atau hanya lelah yang hadir dari sesuatu yang sia-sia?

— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.

Tinggalkan komentar