Karena ini adalah awal yang baru, mari kita mulai bagian ini dengan perkenalan singkat.
Namaku Dayat Piliang. Lahir di Kota Medan, tanggal 12 Agustus 1996. Setidaknya itu yang tertulis pada akta lahirku. Kenapa kukatakan begitu? Karena tanggal dan bulan lahirku berbeda-beda; baik di KTP dan Kartu Keluarga.
Ketika aku menuliskan ini, waktu menunjukkan pukul tiga pagi Waktu Indonesia Bagian Tengah. Saat ini aku sedang menetap di Pulau Lombok, tepatnya di Mataram Kota.
Jujur, belakangan aku amat bingung dengan diriku sendiri. Tapi, aku tak ingin larut pada kebingungan itu dan akhirnya membuat salah satu keputusan besar untuk kembali hidup di perantauan; mempertaruhkan nasib agar hidup tak monoton berjalan.
Bukan tanpa rencana, perjalanan di tanah rantau yang baru dan yang jelas masih asing bagiku ini sudah kurancang dengan matang bersama seorang teman yang sudah kukenal sejak lama; teman yang begitu kuhormati sejak aku masih bekerja menjadi personal assistant seorang direktur production house yang sekarang telah tiada karena bangkrut ketika menggarap film layar lebar pertama. Ada kisah menarik untuk diceritakan di bagian ini, namun itu nanti dulu; lain waktu.
Di tulisan ini, aku ingin bercerita tentang awal baru yang kini sedang kujalani. Aku yang dahulu; yang pernah menikmati masa jaya sebagai seorang penulis—meski tak semasyhur penulis lain tentunya—kuanggap telah lenyap ditelan bumi. Kini aku memulai semuanya dari awal; menjadi seorang anak muda yang bercita-cita menjadi seorang penulis; anak muda yang ingin membagikan banyak cerita kepada dunia; cerita-cerita yang tak bisa ia bagikan dengan berbicara tentunya.
Iya, Dayat Piliang dulunya seorang anak yang tak cakap berbicara dengan orang lain. Kaku lidahnya bila ia diajak bicara; apalagi di depan umum. Bahkan dahulu, ketika aku masih SMA, aku pernah membeli nasi goreng yang ada di dekat kos. Di sana aku diam lama, tanpa bicara. Pasrah aku ketika antrian diserobot orang lain. Nasi goreng berhasil kudapatkan ketika abang-abang penjual menanyakan aku mau beli apa. Benar-benar sekaku itu aku dulu.
Aku masih ingat betul kenapa aku suka menulis. Dahulu, aku amat suka musik rap; musik yang bagi sebagian orang berisik karena kesannya marah-marah karena disampaikan dengan begitu cepatnya. Namun aku suka, karena semua liriknya dipenuhi dengan rima. Dan betul memang, musik rap seperti puisi yang dinyanyikan, begitu kata Igor Saykoji menjelaskan musik rap dengan sederhana.
Namun, lebih jauh, akhirnya aku menyadari kalau bukan musik rap yang kusuka, tetapi lirik puitis yang bercerita. Dari situ aku mulai mendengar banyak lagu dengan berbagai jenis aliran musik; selama liriknya puitis dan bercerita, aku suka.
Dan kini, aku kembali semuanya dari awal. Menjadi penulis pemula yang ingin menumpahkan banyak cerita dan banyak resah yang memenuhi rongga hatinya; menulis tanpa noda-noda industri yang membayang-bayangi sehingga aku menjadi hilang arah dan hilang jati diri; menulis tanpa lagi melibatkan hati.
Aku ingin seperti dulu, menulis karena aku suka, bukan karena dampak baik dari kepopuleran yang makin lama jadi fokus utama; yang kemudian buat aku tersiksa sebab terlalu melihat angka-angka yang semuanya fana; sementara.
Mungkin begitu saja tulisanku kali ini. Waktu hampir menunjukkan pukul empat pagi dan pagi nanti aku harus berangkat ke kantor. Tak mungkin aku mengacaukan hariku hanya karena aku harus menyelesaikan tulisan ini yang mungkin tak akan ada ujungnya bila kuteruskan.
Di akhir tulisan ini, aku ingin berterima kasih padamu yang berkenan membaca sampai habis; dan aku ingin berterima kasih pada diriku sendiri yang semangat menulisnya kembali tumbuh dan mulai mengurangi mengeluh menyalahkan betapa tidak adilnya dunia.
Kita bertemu di postingan baru, ya.

Tinggalkan Balasan ke pt cbm binong Batalkan balasan