Kenalkan, aku seorang pemuda dari kota M yang kini tinggal dan bekerja di kota B. Malam itu hujan. Udara dingin dan sepi menghadirkan gejolak yang tak biasa di tubuhku. Hmm, kenapa tulisan ini seperti cerita stensil yang ada di forum-forum ‘nakal’, yak? Hahahaha.
Mari kita mulai ceritanya dengan benar. Ini akan sangat panjang karena aku mengawalinya dari pemicu inspirasi kenapa aku mencoba memesan layanan seks secara daring. Tapi ingat! Aku tidak ‘begituan’ dengannya. Jadi jangan dulu salah paham, simak saja ceritanya.
Pekerjaanku sebagai asisten seorang direktur di sebuah perusahaan film yang masih baru membuat jadwalku begitu padat; tak punya waktu luang dan jarang berlibur. Weekend? Apa itu? Aku hampir tak bisa membedakan mana tanggal merah di kalenderku. Semua jadwalku sudah tentu mengikuti agenda sang direktur.
Belum lagi pada saat itu kami sedang dalam agenda kerja yang panjang; mengunjungi lebih dari tiga puluh kota di Indonesia untuk memberikan ceramah bisnis yang akan disampaikan oleh direkturku dalam seminar-seminar UMKM. Ya, sebelum terjun ke industri film, direkturku adalah seorang konsultan bisnis dengan klien yang tak main-main. Namun saat itu ia mulai lebih banyak fokus pada UMKM. Aku sudah bersama dengannya sebelum ia terjun ke industri film.
Sebagai asisten, sudah menjadi tugasku untuk mendampingin beliau ke mana-mana. Saking padatnya jadwal, aku cuma punya waktu dua jam untuk tidur. Ini serius. Dua jam waktu tidur di atas kasur. Sisanya kucuri-curi ketika sedang dalam perjalanan; baik darat ataupun udara. Tapi kau tahu sendiri betapa tak nyamannya tidur di perjalanan. Apalagi jika kepala isinya pekerjaan, bukan liburan.
Hari itu, kebetulan aku mendapatkan hari libur yang cukup panjang. Direkturku sedang menghabiskan waktu beberapa hari bersama keluarganya yang belakangan jarang ia temui karena kesibukan. Tak mau menyia-nyiakan kesemparan, aku segera memanfaatkan waktu liburku sebaik mungkin.
Aku memulai pagi dengan memilih buku yang belum sempat kubaca di rak kamarku. Eleven Minutes karya Paulo Coelho menjadi pilihan. Bergegas aku keluar dari kosan, berjalan menghirup udara segar menuju tepian Jalan Padjajaran tepat di dekat pintu penyeberangan jalan bawah tanah di depan Botani Square Mall. Aku duduk sendirian menikmati buku yang sejak awal beli sudah diliputi rasa penasaran, namun karena terbatasnya waktu, baru kali itu sempat kubaca.
Sederhananya, buku ini berkisah tentang Maria, seorang gadis dari Brazil yang punya angan-angan bertemu pria idaman, menikah, punya anak, dan bahagia. Namun, ragu mulai hadir mengikis yakin akan angan-angannya bertemu dengan cinta sejati. Kemudian ia meninggalkan kampung halamannya untuk sebuah petualangan yang ternyata membawa petaka. Sempat ia bertemu dengan seseorang yang berjanji akan menjadikannya aktris terkenal di Swiss, tetapi janji itu ternyata tak ditepati. Kenyataannya, Maria mesti menjual diri untuk bertahan hidup dan dengan penuh kesadaran ia memilih menjalani profesi sebagai pelacur. Mulai dari sinilah petualangan hebat Maria di mulai; sebagai seorang pelacur tentunya.
Sejak membaca buku itu, aku mulai penasaran dengan dunia prostitusi yang ada di Indonesia. Terutama pekerja seks komersial yang menjajakan dirinya secara daring atau istilah umumnya disebut ‘Open BO’. Apakah dunia mereka seperti ini juga? Ada segudang tanya di kepalaku.
***
Di malam hari yang tenang, aku sedang bersantai menikmati hari liburku di kedai kopi kecil yang berada di Kota Hujan. Kedai kopi itu mengusung konsep buku dan kopi. Jika kau berkunjung ke sana, kau akan melihat ada banyak buku-buku tersusun rapi di raknya. Salah satunya buku Distraksi Patah Hati yang menjadi debut perdanaku sebagai penulis sepenuhnya. Kenapa sepenuhnya? Karena sebelum itu, ada dua buku lain namun itu tak mengatasnamakan pribadi sebab dikerjakan secara rombongan dengan beberapa penulis lain. Buku itu memang sengaja kusumbangkan ke kedai kopi itu sebagai bentuk ucapan terima kasih karena aku menghabiskan banyak waktu di sana selama menulis draft naskahnya.
Malam itu, aku masih diliputi rasa penasaran. Aku pun mencari tahu dan mulai mengunduh aplikasi yang sudah menjadi rahasia umum untuk mengorder jasa wanita Open BO. Kudaftarkan diri di sana; tentu tidak menggunakan identitas asli.
Aku mempelajari cara kerja aplikasi itu dan sedikit demi sedikit mulai paham. Tak lama berselang, seorang wanita menyapaku melalui fitur people nearby seperti yang ada di aplikasi Line. Sapaan itu juga disertai dengan ajakan pertemanan. Saat aku terima, wanita itu mengirimkan pesan yang tak begitu kumengerti. Sesaat aku mulai sadar kalau itu adalah tarif yang dipatok untuk beberapa layanan. Misal, ST 12, BLINK 182, JKT 48, ehehehe bercanda.
Wanita itu mematok tarif enam ratus ribu rupiah untuk layanan short time dengan durasi kurang lebih dua jam, satu kali ‘main’ dan satu juta enam ratus ribu rupiah untuk long time dengan durasi yang tak begitu aku tahu karena aku tak menanyakan detail layanan itu. Ia juga mewajibkan untuk menggunakan kondom ketika ‘bermain’.
Sebelum kalian salah mengira, kutegaskan sekali lagi kalau di sini aku bukan penasaran untuk melakukan hubungan badan, tetapi penasaran dengan cerita di baliknya. Mengapa ia terjun ke bisnis perlendiran, bagaimana ia melayani pengguna jasa yang begitu beragam jenisnya, apakah ia nyaman dengan profesi ini, dan lain sebagainya. Aku ingin tahu apakah ada cerita yang tak biasa? Bukan sekadar mencari uang sebanyak-banyaknya untuk hidup foya-foya seperti kebanyakan wanita-wanita yang menjajakan dirinya.
Saat itu, aku tak langsung menanyakan rasa penasaranku melalui pesan teks. Aku takut ia akan menolak. Barangkali ia akan mencurigaiku sebagai jurnalis atau mata-mata yang ditugaskan melakukan penyamaran untuk menelusuri prostitusi daring. Aku bersepakat menggunakan layanan short time-nya dan menjadwalkan pertemuan esok malam.
Jujur, sepanjang malam setelah pulang ke kosan, aku deg-degan bukan main. Tak munafik, hormon testosteronku juga meningkat dan membayangkan yang tidak-tidak. Namun lekas kutepis dengan niat awalku. Saat itu juga aku masih memegang teguh prinsipku untuk tidak melakukan hal itu—apalagi untuk yang pertama kali—dengan orang asing apalagi melakukannya tanpa ada rasa cinta. Sederhananya harus ada sebuah ikatan yang mengikat. Aku juga yakin diriku tak mungkin berani melakukannya. Karena rasa yakin itulah aku punya keberanian untuk mencari tahu lebih dalam perihal dunia perlendiran yang dijadikan ladang cuan tanpa harus terjerumus menjadi pelanggan tetap bisnis perlendiran itu.
***
Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Aku sudah bersiap-siap untuk bertemu di tempat yang telah dijanjikan. Lokasinya di salah satu apartemen yang ada di Kota Hujan. Sedikit informasi saja, malam itu adalah hari terakhirku menikmati libur panjang, karena esoknya aku punya agenda terbang ke Pontianak untuk urusan pekerjaan bersama atasanku.
Sesampainya di lokasi, pintu lift apartemen terbuka. Di dalamnya, kulihat wanita menyapaku dengan mengangkat tangan kanannya. Wujudnya tak begitu tinggi, bertubuh langsing, dan cantik seperti wanita-wanita sunda. Saat itu ia mengenakan celana pendek berbahan jeans dan kaos merah tua polos dengan dibalut jaket tipis di luarnya.
Aku bergegas menuju lift dan kami naik bersama menuju lantai unit tempatnya ‘bekerja’. Sepanjang jalan menuju unit, aku gugup bukan main. Tak bisa berkata-kata. Sesekali ia melakukan percakapan dengan pertanyaan-pertanyaan basic yang kujawab sekadarnya.
Sesampainya di dalam unit apartemen berjenis studio itu, ia mempersilakan aku duduk di manapun aku mau. Aku memilih duduk di sofa. Ia menjamuku dengan minuman botol; bukan alkohol. Aku tenggak air itu sampai habis setengah. Gugup bukan main. Aku tak tahu harus ngapain.
Kegugupanku ternyata disalahartikan olehnya, seolah-olah birahiku ingin dipancing. Perlahan ia mendekat dan duduk di sebelahku, mendekatkan wajahnya ke leherku, memcumbu leherku dengan mesra. Perlahan bibirnya mulai mengarah ke bibirku. Mendadak udara ruangan terasa panas, badanku bergetar. Sebelum bibirnya sempat meraih bibirku, dengan segera kutahan tubuhnya, lalu aku berkata “bukan ini tujuanku datang ke mari.”
Wanita itu menghentikan aksinya. Aku langsung berterus terang kalau kedatanganku hanya untuk berbincang dengannya. Ia mengerti dan tetap melayaniku dengan baik bak tamu yang berkunjung ke rumah seorang teman lama. Suasana menjadi lebih cair. Kami menghabiskan malam dengan berbincang. Menikmati minuman dan cemilan yang memang sudah tersedia di sana. Sebenarnya aku juga membawakan makanan ringan yang kubeli di minimarket saat di perjalanan menuju tempatnya. Namun bungkusan itu masih terletak rapi di meja. Barangkali untuk jamuan tamu lain atau untuk konsumsi pribadinya.
Dari perbincangan itu, akhirnya aku tahu kalau tujuannya masuk ke dunia perlendiran ini demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Sejak kecil, ia tinggal berdua dengan neneknya. Kedua orang tuanya masih ada, namun bercerai dan hidup masing-masing. Tapi wanita itu tak tahu pasti bagaimana keadaan orang tuanya, karena ia memang sengaja ‘dibuang’. Sebab itulah ia punya dendam mendalam pada orang tuanya dan hendak membuktikan kalau wanita mungil itu bisa hidup tanpa perlu orang tua. Ia ingin membuktikannya!
Wanita berparas cantik itu juga menjelaskan kalau layanan Open BO yang ia sediakan sebenarnya hanya sampingan saja. Pekerjaan utamanya sebagai terapis di salah satu spa elit di Kota Hujan, bukan spa plus-plus. Tapi berawal dari situ pula ia mengetahui dunia Open BO ini. Bukan spa-nya, tetapi salah seorang rekannya sudah lebih dahulu memiliki pekerjaan sampingan melayani laki-laki hidung belang lewat aplikasi hijau.
Satu persatu rasa penasaranku pun hilang. Bahkan saat aku mempertanyakan apa ia bekerja sendiri atau ada mucikari, ia pun menjawab dengan santai kalau ia bekerja sendirian tanpa menggunakan mucikari yang biasa meminta potongan. Wanita itu mengurus semuanya seorang diri. Menyewa unit apartemen untuk melakukan pekerjaannya, mengirim dan membalaskan pesan satu persatu kepada calon pelanggannya, dan melayani tamu-tamu yang hendak menyalurkan hasrat seksualnya.
Ia juga bercerita kalau kali pertamanya berhubungan seks ketika ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, bersama pacarnya. Jadi, kali pertamanya berhubungan seks bukan di bisnis ini alias ia tak menjual keperawanannya. Lalu ia bertanya apakah aku ‘sudah pernah’. Aku mengatakan kalau aku sama sekali belum pernah melakukan itu alias masih perjaka. Awalnya wanita itu tak percaya, tetapi ia pikir-pikir lagi sepertinya benar. “Kamu kelihatan gugup” katanya sembari tertawa. Pakaian di tubuhku masih terpasang, tapi aku berasa ditelanjangi ketika ia menertawakan aku yang masih perjaka. Seperti dejavu. Dahulu waktu SMA aku juga ditertawakan oleh teman-temanku karena belum pernah melakukan ‘itu’. Tak hanya teman lelaki, wanita juga.
Usianya masih muda, dibawahku satu tahun. Tapi pengalaman hidupnya lebih banyak dariku. Sejak kecil ia hidup berjuang sendirian. Neneknya sudah renta. Aku juga sempat bertanya apakah ia berasal dari Kota Hujan? Wanita itu mengatakan tidak. Ia lahir dan besar di Cianjur. Di Kota Hujan ia hidup sendirian demi mencari pundi-pundi uang untuk dibawa pulang ke rumah, menyenangkan neneknya yang sudah merawatnya sedari kecil.
Sungguh malam itu malam yang menyenangkan, bisa mendapatkan cerita dari seseorang yang hidup di dunia berbeda denganku. Membuat pandanganku tentang pekerja seks komersial tak seburuk dugaan orang-orang. Tapi tetap tindakannya tidak dapat dibenarkan.
Terakhir sebelum perbincangan malam itu berakhir, aku menanyakan apakah ia ada rencana untuk berhenti melakukan pekerjaan ini? Ia mengatakan tentu akan berhenti. Pekerjaan ini ia lakukan hanya sementara saja sampai ia mendapatkan pendapatan yang bisa benar-benar memenuhi kehidupan ia dan neneknya yang sudah tua juga sakit-sakitan. Fokusnya sekarang hanya ingin mencari uang sebanyak-banyaknya dan membahagiakan neneknya saja. Semua berawal dari dendam pada kedua orang tua yang telah menelantarkannya begitu saja; membuatnya tumbuh tanpa sosok ibu dan ayah.
Aku menghabiskan waktu kurang lebih dua jam di dalam ruangan apartemennya. Mungkin tiga puluh menit awal dihabiskan dengan kegugupanku dan saat ia mulai mencumbuku. Tentu ada banyak cerita lain dan beberapa agak kulupa karena memang bukan inti pembicaraan.
Aku pun menyudahi pembicaraan malam itu. Kan esoknya pagi-pagi sekali aku harus pergi menuju bandara Soekarno-Hatta untuk terbang ke Pontianak mendampingi atasan menunaikan agenda kerja.
Sebelum mengatakan pamit, aku memberikan enam lembar uang tunai nominal seratus ribu, membayar jasa layanannya. Benar aku tak menggunakan ‘layanan’ sepenuhnya, tetapi kan aku sudah menggunakan waktunya sesuai dengan kesepakatan awal ‘short time’. Meski tak bersetubuh, bukan berarti aku bisa seenaknya tidak membayarnya yang sudah meluangkan waktu yang mestinya ia gunakan untuk bekerja melayani laki-laki hidung belang.
Aku keluar dari unit apartemennya dan segera pulang menuju kosan. Malam itu, aku terjaga. Tak bisa tidur. Ada dua hal yang kupikirkan, takjub dengan ceritanya juga sedikit menyesal kenapa aku tak melakukan hal itu. Tak munafik, memang saat aku dicumbu olehnya tubuhku merinding, menghadirkan ‘ketegangan’ dan ‘keinginan’. Tapi aku juga bingung bagaimana melakukannya. Lagi pula tujuan awalku ke sana kan bukan untuk melakukan itu dan seperti yang kukatakan, aku punya prinsip yang kupegang teguh untuk melakukan hal itu hanya pada seseorang yang benar-benar kucinta. Itulah yang disebut bercinta. Bagaimana bisa orang mengaku ia bercinta tanpa ada rasa cinta?
Pesan moralnya apa? Entahlah, ya. Bingung juga. Kalau aku pribadi sejak kejadian itu pandanganku terhadap pekerja seks komersial atau orang-orang yang mungkin melakukan pekerjaan yang dianggap hina oleh orang menjadi lebih terbuka untuk tidak langsung menghakimi. Tidak membenarkan pekerjaannya, namun tidak pula langsung menghina mereka. Toh kita semua sama-sama manusia, namun jalan pilihannya saja yang berbeda. Kan tak semua orang ingin memilih pilihan yang dianggap hina dan nista, beberapa ada juga yang memilih pilihannya karena terpaksa. Hidup itu tak bisa kita kotak-kotakkan hanya sebatas hitam dan putih, baik dan jahat, bagus dan buruk. Ada banyak faktor-faktor yang perlu kita jadikan pertimbangan.
Baiklah, sudah terlalu panjang.
Kita akhiri di sini saja, ya.
Sampai bertemu di tulisan-tulisan selanjutnya.
ditulis hari selasa, tanggal 15 november 2022, menjelang pukul satu siang, di kota medan.
Dukungan untuk Penulis
Terima kasih sudah membaca tulisan dari Dayat Piliang. Jika kamu suka, traktir Dayat secangkir kopi sachet sebagai bentuk dukungan agar terus konsisten berkarya!

Tinggalkan Balasan ke dayatpiliang Batalkan balasan