Pada satu masa,
aku berjalan tanpa rencana.
Aku melangkah
dengan langkah yang tak terarah.
Kadang aku gontai berjalan,
hendak jatuh tak kuat menopang badan.
Goyah, langkahku goyah.
Aku berjalan dan terus berjalan.
Dengan pikiran kosong,
dengan langkah tak karuan.
Aku bingung.
Aku juga tak tau,
apa dan siapa yang hendak aku tuju.
Aku bingung.
Sebenarnya untuk apa aku hidup?
Kebodohan pikir membuatku bingung.
Aku memang manusia bodoh
tak mengerti apa yang harus aku lakukan.
Tujuanku kini hanya satu,
bertahan hidup
demi orang-orang sekitar.
Sempat aku berpikir hendak mati saja.
Tapi aku urung, aku tak tega.
Tak tega melihat orang-orang meneteskan air mata.
Meski tak banyak yang peduli,
aku yakin pasti akan ada yang menangisi
jika aku memutuskan untuk mati.
Bagaimana bisa ayah ibu melanjutkan hidup,
jika anaknya memutuskan untuk mengakhiri hidup?
Karenanya, aku tak ingin pergi.
Aku akan menjalani hidup sampai mati.
Tentu jika waktu takdir sudah menanti.
Tanpa rencana, arah dan tujuan.
Hanya bertahan hidup menunggu mati.
Aku tak tau harus berapa lama terus begini.
Menjalani kehidupan tanpa motivasi.
Hanya menanti takdir mati.
Semoga, aku bisa menjalaninya.
Semoga, aku bisa menemukannya.
Satu atau dua alasan
agar aku tetap bisa bertahan
menjalani dunia yang fana ini.
Dukungan untuk Penulis
Terima kasih sudah membaca tulisan dari Dayat Piliang. Jika kamu suka, traktir Dayat secangkir kopi sachet sebagai bentuk dukungan agar terus konsisten berkarya!
Tinggalkan Balasan ke Annisa Rizekiati Batalkan balasan