Overthinking, sudah menjadi bagian dari masyarakat modern.

Termasuk aku.

Pada masa-masa quarter life crisis dulu, hampir setiap malam kepalaku penuh dengan pikiran, pertanyaan, dan bayangan akan masa depan. Rasa bingung itu kunikmati sendirian, sebab aku tak punya guru untuk membimbing dan ayah untuk mengarahkan. Maklum, aku lahir dari keluarga yang acak-acakan. Istilah kerennya, broken home, man!

Tak ada tenang dalam kepalaku yang selalu penuh di tengah malam gulita; waktu di mana harusnya kita beristirahat melelapkan diri dalam tidur panjang setelah seharian berjuang, malah terbayang-bayang dan melayang-layang pada pertanyaan-pertanyaan yang mengawang-ngawang.

Dan sialnya, waktu istirahat klita tergerus untuk pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tak butuh jawabannya saat itu juga.

Bagaimana pun alurnya, memang semesta selalu punya cara untuk mengajarkan kita supaya menjadi manusia yang jauh lebih baik dari sebelumnya; meski harus melewati fase duka dan bingung akut perihal kehidupan yang kita belum paham betul bagaimana cara mainnya.


Beratus-ratus, bahkan beribu-ribu hari sudah kubuang begitu saja. Aku menjalani hidup bak pecundang yang tak berani mengambil keputusan apapun untuk hidupku sendiri. Dan aku, tak akan menyalahkan siapapun atas itu. Tidak keluarga, meski mereka faktor terbesar mengapa aku tumbuh menjadi manusia seperti ini.

Namanya juga hidup, kalau kita berfokus pada salah-salahkan dan tidak memikirkan solusi ke depan, jelas kita hanya akan diam di tempat dan tak akan ke mana-mana. Seperti aku dulu, sibuk mencari siapa yang harus dipersalahkan; akhirnya, beginilah aku, sudah di usia segini, aku belum jadi apa-apa. Buat keluarga bangga saja tidak.

Ditambah, saat aku menuliskan ini, sudah hampir dua minggu akunku lenyap karena pelanggaran yang tidak kutahu alasannya dari Meta. Akun Facebook yang terkoneksi dengan fanpage pribadi dengan ratusan ribu pengikut dan akun Instagram yang sudah lebih dari tujuh ratus ribu pengikut, semua lenyap begitu saja.

Untuk bagian itu, aku ingin menceritakannya di lain kesempatan.


Balik ke overthinking,

Akhirnya, aku berhasil melewati masa-masa gila itu.

Di sinilah aku sekarang, menjalani kehidupan seperti orang-orang pada umumnya. Berangkat kerja, menukar waktu, tenaga, dan pikiran menjadi pundi-pundi dollar. Meski niat awalku ke negeri ini bukan untuk itu. Tapi, aku sudah memilih jalan ini, dan aku harus bertahan sebentar sampai semuanya benar-benar stabil dan siap.

Gegabah? Itu mungkin aku yang dulu; aku yang dengan gejolak muda, gampang panas dan selalu mengambil keputusan tanpa pikir panjang.

Setelah aku bertemu pujaan hatiku, aku harus berhati-hati dalam mengambil langkah. Tak boleh seperti dulu. Perlahan, aku mulai berubah.

Kini, aku tidak lagi overthinking akan masa depan. Karena, hidup itu mestinya kita jalani, bukan sekadar membiarkan kepala penuh setiap malam sebelum tidur; yang merusak waktu istirahat dan membuat tubuh jadi tak sehat.

Benar kata orang-orang, isi kepala penuh karena kita memberi ruang pada waktu luang. Daripada kita terus larut dalam pikiran dan ketakutan yang belum tentu akan terjadi, lebih baik kita jalani kehidupan ini dengan membuat keputusan yang berani. Apapun itu, ambil.

Proses yang buat orang lebih dewasa; dan pengalamanlah yang buat kita tumbuh menjadi manusia yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Tak hanya itu, proses dan pengalaman itu adalah kombinasi sempurna untuk ramuan agar kita naik di kelas yang berbeda dari orang-orang pada umumnya.

Barangkali memang aku masih sampah sekarang; tapi, jika aku konsisten untuk berubah jadi lebih baik dari hari ke hari dan fokus menata hidup yang sebelumnya berantakan sekali, bisa saja aku akan melesat tinggi. Tetap jadi sampah, tapi sampah yang terbang terbawa angin.

Aku tidak tahu apa yang aku tuliskan, karena aku hanya ingin menumpahkan apa yang ada dalam kepalaku. Jadi, terima saja tulisan mentah ini. Tanpa makna, tanpa pelajaran yang bisa diambil hikmahnya.

— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.

Tinggalkan komentar