#69: Catatan dari Tempat yang Tak Ingin Kusebut

Tak semua orang tahu tentang keberadaanku saat ini.

Bukan, aku bukan sedang kabur menghindari penagih hutang. Aku juga tidak punya riwayat terjerat pinjaman online, karena aku bukan tipikal orang yang mudah berhutang jika bukan dalam keadaan benar-benar terdesak; bahkan jika terdesak pun, untuk sekadar meminjam saja, malu rasanya.

Saat ini aku sedang mencoba kehidupan baru; yang lebih menegangkan, lebih berisiko, dan memberiku banyak cerita yang tak semua orang bisa rasakan. Sebuah perjalanan yang, kelak, akan menarik untuk kuceritakan jika waktunya telah tiba.

Sebagian besar orang barangkali tidak peduli, tapi sebagian lain masih mengira aku ada di Indonesia.

Lucunya, dugaannya selalu berbeda-beda; kenalanku di Medan mengira aku di Jakarta, kenalanku di Jakarta mengira aku di Lombok, dan kenalanku di Lombok mengira aku di Medan, Bali, atau Jakarta.

Padahal, sebenarnya tidak.

I. Sudah Lama Aku Tak Pulang

Sejak meninggalkan tanah kelahiran, belum sekali pun aku menjejakkan kaki kembali ke negeri yang kucinta. Yup! Itu artinya, sampai detik aku menuliskan ini, aku belum merasakan secuil pun rasanya kepemimpinan rezim Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden yang enggan kusebutkan namanya.

Aku meninggalkan negeri asalku tepat saat suasana politik Indonesia memanas; bahkan aku mengikuti pemilu di luar negeri.

Jadi, #KaburAjaDulu sudah kulakukan sebelum orang-orang mulai ramai menggaungkannya di media sosial.

Belakangan ini, aku masih menimbang-nimbang dan bertanya-tanya; apa yang akan terjadi jika aku membuka diri dan menjelaskan tentang keberadaanku pada dunia?

Barangkali, dunia akan tetap sibuk sebagaimana mestinya, dan tak terlalu peduli dengan apa yang akan kuceritakan. Setidaknya, itu yang aku yakini.

Namun, bagaimana kalau ternyata keadaannya berbalik arah?

Bagaimana jika aku bercerita, tiba-tiba banyak mata tertuju padaku karena algoritma internet tidak ada yang tahu; sebuah tulisan yang diniatkan betul bisa benar-benar sepi, sedangkan postingan iseng sederhana bisa tiba-tiba meledak dan menyebar tanpa kita punya kendali.

Ini benar-benar memusingkan, tapi aku memikirkannya dengan penuh hati-hati.

II. Antara Cerita dan Kehati-hatian

Sampai detik ini, aku masih menimbang-nimbang betul tentang dampaknya.

Aku tahu, di dunia yang serba terhubung dalam jaringan, tak semua hal bisa diceritakan tanpa risiko. Aku benar-benar takut jika sorotan mata mulai tertuju pada ceritaku, lalu menimbulkan sesuatu; entah baik, entah buruk; baik di negeri yang sedang kutinggali saat ini, atau pun di negara asalku.

Maka dari itu, kuputuskan untuk diam.

Bukan sepenuhnya karena rasa takut; tapi aku sadar, ada waktu yang tepat untuk kita bercerita dan ada waktu di mana untuk kita menyimpan sendirian.

III. Ragu Artinya Tidak!

Berhubung saat ini Indonesia sedang memasuki rezim militer, mungkin ada baiknya aku mengikuti cara-cara militeris;

ragu artinya tidak!

Untuk itu, demi menghormati kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, kuputuskan untuk merahasiakan sementara dan tidak menceritakan apapun tentang keberadaanku saat ini; meski perjalanannya benar-benar seru untuk kuceritakan.

Kadang, menjaga rahasia diri sendiri, jauh lebih aman daripada menceritakan segalanya, kemudian kehilangan ketenangan.

Barangkali, nanti, saat semuanya sudah aman terkendali, aku akan bercerita lebih banyak; tentang keberadaanku, tentang tempat ini, tentang orang-orangnya, suasananya, kehidupannya, dan tentang bagaimana rasanya hidup di antara dua negara; satu yang kusebut sebagai rumah, dan satu lagi yang perlahan mengajariku arti bertahan dan mengorbankan kenyamanan demi kehidupan yang lebih baik.

— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.

*ditulis dari tempat yang tak ingin kusebut, di tengah malam yang sunyi.

Tinggalkan komentar