#68: Menulis Sebagai Cara untuk Pulang

Selepas lulus dari Sekolah Menengah Pertama, aku sudah pergi jauh keluar dari rumah; lahir dan besar di Kota Medan, aku melanjutkan pendidikanku di Pulau Dewata. Dan, ya, setelah itu aku benar-benar jauh dari rumah

Bukan dalam arti tempat saja, tapi juga arti hidup.

Memang, aku masih bisa tersenyum, tertawa, bicara, juga hidup; namun entah mengapa di hati kecilku ada ruang kosong yang begitu sulit kujelaskan. Semua terkesan berjalan seperti biasa-biasa saja, tetapi aku seperti tidak menjalani kehidupanku sendiri; seolah ada bagian diriku yang hilang entah ke mana.

Dan, ternyata, bagian yang hilang itu adalah kata-kata.

I. Tentang Pulang

Ada banyak jalan menuju roma, ada banyak jalan untuk pulang ke rumah.

Begitu juga dengan cara kita pulang ke diri kita sendiri. Setiap orang, punya cara yang berbeda-beda; ada yang lewat doa, lewat lagu-lagu kesukaan, lewat jalan-jalan tanpa tujuan, dan lewat diam lama di sepanjang langit malam kelam.

Dulu, jalan pulangku menjadi diri sendiri ialah; menulis.

Layar putih yang kulukis dengan susunan kata itu adalah tempat pulangku; rumah yang selalu terbuka, tempat aku bisa jujur tanpa takut dihakimi, tempat aku bisa menangis lepas tanpa harus meneteskan air mata, juga tempat aku bisa bertanya tanpa harus menemukan jawabannya saat itu juga.

Tapi, aku pernah merasa, rumah itu terasa kosong.

Kuketuk banyak pintu kata-kata, tak ada yang membuka. Kupanggil huruf-huruf yang dahulu bisa kurangkai menjadi kalimat indah, namun mereka hanya berbisik pelan, kemudian menghilang di udara.

Itu masa-masa yang benar-benar sunyi.

Berulang kali aku coba menulis tanpa berpikir untuk diterbitkan; namun setiap kata demi kata kurangkai, rasanya seperti tulisan orang lain. Berulang kali kubaca tulisanku sendiri, tapi rasanya aku seperti sedang membaca kisah orang asing.

Waktu itu, AI belum ada. Mungkin masih dalam tahap pengembangan. Jika saat itu AI sudah ada, aku yakin tulisanku kalah bernyawa dibanding kita menyuruh AI menuliskan dengan prompt terbaik yang kita punya.

II. Begitu Sulit untuk Pulang

Bagi sebagian orang, pulang mungkin adalah hal yang mudah; tapi tidak bagku.

Jika orang-orang bisa pulang hanya dengan membeli tiket kereta, aku mesti mengakui kalau aku benar-benar sedang tersesat; tersesat pada besar ambisi, pada ekspektasi, pada keinginan untuk diakui, dan ketakutan besar pada kegagalan yang sebenarnya tak harus kupeduli.

Bagiku, pulang bukanlah hal yang mudah; baik pulang ke rumah, maupun ke diriku sendiri. Menulis, tak lagi terasa seperti pulang. Ia terasa seperti tempat bekerja yang dipenuhi orang-orang toksik. Bukan tenang yang kudapat, semua terasa seperti beban yang terus menumpuk dan menggerus semangat hidup.

Aku tahu, pada masa-masa itu aku melupakan satu hal; menulis itu tidak harus selalu indah, kadang cukup berkata jujur. Bahkan, mestinya saat itu aku menuliskan sebanyak-banyaknya kata; aku benar-benar lelah, lelah selelah-lelahnya lelah.

Dan di masa-masa aku kembali di titik sadar, aku harus menanamkan dalam diriku kalau menulis bukan tentang harus tampil sempurna; menulis itu tentang keberanian untuk mengakui banyak hal; mengakui betapa kacaunya kita, betapa hancurnya, dan mengakui kalau kita sebenarnya tidak baik-baik saja.

Dengan aku mengaku pada kata kalau aku sedang tidak baik-baik saja, itu artinya aku membuka ruang untuk memperbaiki semuanya; lewat kata-kata.

III. Menulis Bentuk Bertahan

Menulis itu pekerjaan? Menulis itu bakat? Tidak.

Bagi aku yang dulu, menulis adalah cara bertahan hidup.

Ketika aku iri dengan kehidupan teman seumuranku yang punya keluarga harmonis, hangat, dan bahagia, aku berusaha untuk menjaga waras agar tidak gila. Di umurku yang kecil itu, aku harus bertahan dan bertarung setiap hari dengan pikiran ingin mati.

Saat hari-hariku terasa berat, aku menulis beberapa kata; bukan untuk menemukan solusi, aku hanya butuh menenangkan diri. Aku ingin memberi ruang bagi perasaan yang tak sempat kujelaskan pada siapapun, termasuk pada keluarga yang menjadi sumber banyak masalah dan trauma.

Setiap kata yang kususun dengan rima, itu seperti satu langkah kecil menuju pulang. Entah ke mana, aku pun tak tahu; yang kupunya kala itu hanya keyakinan kalau ada bahagia yang bisa kita dapatkan jika kita bersabar.

Bagai terjebak pada rimba hutan, aku harus berjalan pelan membuka jalan; harus berhadapan dengan banyak rintang. Kadang jalanku lambat, kadang aku harus jatuh tersandung; tapi, setiap kata-kata yang kutulis, seperti membawaku lebih dekat, bukan bahagia yang kuharap, setidaknya lebih dekat pada diriku sendiri yang sempat menghilang karena depresi.

Menulis, meski sempat melewati masa-masa pelik, ia mengajarkanku bahwa tidak mengapa kalau hidup tidak berjalan lurus dan mulus; bahwa setiap luka, bisa kita resapi dan diubah menjadi kata-kata yang nantinya akan memeluk kita dengan makna; bahwa kehilangan yang kita rasa, jika ditulis dengan jujur, bisa jadi sarana untuk kita belajar tentang betapa berharganya cinta.

Epilog

Kini, aku tahu, pulang tak selalu kembali pada tempat semula.

Kadang, pulang berarti berdamai dengan apa yang pernah membuat kita ingin pergi; berdamai dengan apa yang buat mental jatuh dan buat hati kita sakit. Tidak mudah memang, namun perlahan itu harus kita lalui.

Menulis, bagiku, kini, bukan lagi sekadar hobi, pelarian, atau bahkan kuanggap pekerjaan; menulis adalah caraku untuk menyapa diri sendiri yang sempat hilang di tengah perjalanan meraih mimpi; yang buatku tak jadi diri sendiri.

Mungkin, aku tak lagi bisa menulis seindah dulu, namun kini setidaknya aku bisa menulis dengan lebih jujur dan lebih bebas; semauku. Tak lagi menulis untuk dengar orang, tapi menulis agar aku tidak kehilangan sebagian dari diriku seperti dulu.

Dan, jika kelak aku kembali tertesat langkah, aku sudah punya panduannya; aku harus berjalan ke halaman kosong, ke kalimat pertama, dan ke rumah yang bernama, kata.

Aduh sedapnya.

— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.

Tinggalkan komentar