Seperti yang selalu kutuliskan di sini, aku pernah merasakan momen ketika menulis bukan lagi tentang menuangkan isi hati, tetapi tentang memenuhi ekspektasi; bukan lagi tentang kejujuran, tetapi tentang pembuktian; bukan lagi tentang memahami diri sendiri, tetapi tentang seberapa indah kata-kata itu terlihat di mata orang lain.

Memang, aku masih menulis. Tapi semua terasa hambar, seperti ada sesuatu yang hilang dari diriku; ada ruang kosong dari setiap kalimat. Di tulisan itu, aku seperti berbicara, namun aku seolah tak mendengarkan apa yang dikatakan hatiku. Aku larut dalam kata-kata indah nan kosong, aku larut pada bayang-bayang tulisan ini akan dipuji banyak orang.

Kala itu, aku masih belum sadar.

Aku terus menulis, membaca dan membalas komentar, masih menerima proyek menulis sana sini. Tapi, di balik itu semua, rasa hambar itu makin terasa dan semakin sulit untuk dijelaskan.

Seperti virus korona yang menyerang, membuat hambar semua makanan yang masuk ke tubuh kita; termasuk makanan kesukaan.

I. Ketika Kata-Kata Tak Lagi Menyembuhkan Kita

Menulis membuatku lebih hidup dan terasa seperti aku sedang pulang ke rumah yang kudambakan; rumah yang hangat, rumah yang kubangun sendiri dalam imajinasi sebagai antitesis kehidupan realitas yang aku jalani. Setiap kali dunia terasa bising, aku selalu menemukan tenang dan hening di antara susunan kata yang kurangkai.

Tapi, entah kapan semua bermula, rumah itu mulai terasa asing bagiku.

Aku tak lagi menulis karena keinginan, aku merasa menulis sebagai keharusan. Aku merasa jika aku berhenti sehari saja, aku akan kehilangan semua yang kumiliki saat itu; idenitas sebagai penulis, eksposur media sosial, dan keterkenalan yang tidak seberapa.

Jujur, aku tak tahu kalau ada fase di mana menulis bukan lagi bentuk cinta, suka, atau melakukan sesuatu yang benar-benar aku senangi; semua berubah menjadi sebuah kewajiban yang terasa begitu melelahkan.

Menulis demi sebuah pembuktian,
menulis karena takut dilupakan, dan
menulis demi terus dapat sorotan mata dari orang banyak.

Bukankah itu semua jadi tak berguna jika jiwaku jadi kering dan tak bermakna?

Bahkan sempat ada malam-malam di mana aku duduk berjam-jam di depan layar, mengetik, menghapus, mengetik lagi, menghapus lagi, sampai akhirnya tak ada satu pun kata yang terasa jujur.

Kini, ketakutanku bukan tentang sorotan mata yang tak lagi ada atau ide yang sudah habis dan tak lagi ada inspirasi yang terpancar; melainkan saat aku tiba pada titik di mana tak lagi punya sesuatu yang tulus untuk kukatakan pada dunia.

II. Tekanan yang Datang dari Dalam Diri

Tekanan yang datang dari luar, memanglah besar. Tapi, itu tidak seberapa dibandungkan tekanan yang datang dari dalam diri sendiri; dari kepala kita sendiri. Justru inilah ancaman yang benar-benar membuat kita sulit.

Membanding-bandingkan diri dengan masa lalu yang pernah kuraih, itu benar-benar jadi penghambat kehidupanku selama ini; yang buatku seolah menjadi orang yang gagal dalam menjalani kehidupan.

Dulu tulisanmu lebih kuat,
dulu tulisanmu lebih hidup,
dulu tulisanmu lebih jujur.

Dulu, dulu, dan dulu.

Aku terjebak dalam bayang-bayang itu; aku yang dulu bisa menulis dari hati, dengan kata-kata yang menyentuh banyak orang, dan seolah tahu apa yang ingin dunia dengar.

Jujur, berat sekali rasanya.

Karena aku tahu, aku masih mencintai kesenian ini. Aku ingin selalu berkarya dan menuliskan apapun yang ingin kutumpahkan dalam susunan kata, tapi aku tak tahu bagaimana caranya kembali ke perasaan yang sama ketika awal aku bulat memutuskan untuk jadi seorang penulis.

III. Berhenti adalah Bagian dari Bertahan

Aku pernah vakum untuk beberapa lama; berhenti dan menghilang tiba-tiba. Tanpa ada pengumuman dan alasan yang bisa kujelaskan kepada siapapun, bahkan editor penerbitku.

Sebab aku tahu, yang kubutuhkan saat ini hanya diam.

Pernah ada hari di mana aku tidak membuka laptop selama beberapa hari, bahkan pernah sebulan penuh tanpa ada kabar dan aktif di media sosial; mengabaikan pesan dari editor dan pembaca yang sibuk menanyakan keberadaanku. Semua menumpuk tanpa kubalas.

Anehnya, di tengah rasa bersalah dan melepaskan diri dari title yang sudah kubangun sedari aku masih sekolah, aku menemukan sesuatu; ketenangan.

Berhenti bukan berarti menyerah. Berhenti itu sama saja kita memberi ruang untuk mengingat ulang alasan kenapa aku menulis. Karena, aku menulis bukan untuk dibilang hebat, bukan untuk terkenal, dan bukan karena ingin punya pengaruh.

Aku menulis karena aku ingin mencari makna hidup; dan belajar untuk memahami diriku sendiri.

Bagiku, menulis adalah terapi menenangkan diri, dan aku ingin kembali membulatkan niat dan alasan seperti waktu itu.

IV. Jeda yang Menyembuhkanku

Selama berhenti; memberi jeda dari segala kegiatan yang makin hari semakin buatku gila, aku belajar untuk menulis tanpa menuliskannya.

Mulai mendengarkan percakapan orang di kedai kopi, mengamati rintik hujan sore hari, dan menyimpan makna-makna kecil yang kususun menjadi kalimat yang tak harus kutulis langsung.

Perlahan, aku sadar, ternyata hal-hal kecil itulah yang mengembalikan rasa, memberi makna, dan membangkitkan ruh-ruh tulisan; seperti ketika awal aku bercita-cita menjadi seorang penulis besar.

Menulis tak selalu harus jari di atas keyboard atau menggoreskan pena di atas kertas; kadang, menulis adalah cara kita memaknai ulang apa yang terjadi di sekitar kita, bahkan sebelum satu kata muncul di kepala.

Misalnya, saat berkendara di atas lumpur, makna apa yang bisa kita ambil dari pengalaman sederhana yang terjadi dalam keseharian kita.

Jeda, bukanlah kemunduran; bukan tanda kegagalan.

Jeda itu bagian dari perjalanan. Sebagaimana perjalanan panjang membutuhkan rest area, begitu juga dengan kehidupan; kita perlu memberi jeda, tempat di mana kita meredakan luka, lelah, ego, dan memulihkan kembali kata-kata yang nantinya akan tumbuh dan menyentuh,

dengan cara yang jauh lebih jujur.

V. Menulis Lagi, Namun dengan Cara yang Berbeda

Sekarang, aku kembali menuliskan apa yang bisa kutumpahkan menjadi kata. Tujuannya sederhana, bukan untuk mengejar apa yang tertinggal, melainkan karena aku rindu pada diriku yang dulu; yang menulis dari hati tanpa pernah pandang bulu ini itu.

Aku tidak tahu apakah tulisanku akan sebaik waktu dulu; tapi, persetan dengan semua itu, karena itu sudah tak penting lagi bagiku. Kini, yang terpenting ialah, aku bisa kembali menulis dengan tenang, dengan alasan yang sederhana, karena ingin menumpahkan semuanya dengan jujur.

Kini, menulis bagiku bukan tentang siapa yang membaca, tetapi tentang siapa aku setiap kali aku menulis.

Barangkali, ada penulis lain membaca ini dan berada di fase yang sama; merasa hilang semangat, hilang arah, dan hilang makna, aku mau sampaikan pesan sederhana;

tidak apa-apa sejenak berhenti dari riuh dunia dan mengambil sedikit jeda menikmati hening dari bisingnya isi kepala.

Jeda itu bukan akhir, justru ia bisa menghadirkan tenang yang kelak akan menuntun kita menemukan kembali arah yang benar.

Aku sempat berhenti, tapi bukan karena benci. Aku berhenti hanya ingin memberi ruang untuk berpikir dan lebih mengerti kalau aku benar-benar butuh dan mencintai kesenian ini; dengan cara yang lebih tenang, lebih jujur, dan lebih manusiawi.

Karena, pada akhirnya, tulisan yang paling hidup bukanlah yang paling indah, melainkan tulisan yang paling tulus dan dari hati yang paling dalam.

Tinggalkan komentar