Aku pernah berjaya. Meski tak seberapa, tapi itu benar-benar menghancurkan diriku sendiri sebagai manusia yang apa adanya,

Di masa itu, aku terlalu larut pada sorotan mata hingga melupakan niat awalku. Makin hari, aku semakin larut dan sibuk ingin terlihat hebat sampai lupa tujuan awalku menulis dan menjadi penulis.

Likes, komentar, dan validasi manusia yang tidak benar-benar kukenal secara nyata, sibuk kukejar pada masa-masa itu.

Barangkali hidup di keluarga yang tak hangat membuatku butuh banyak pengakuan dan mengejar banyak apresiasi yang sebenarnya tak bikin kita kenyang; hanya sekadar untuk kasih makan ego, bukan kehidupan.

Itulah mengapa tulisan-tulisanku yang terlihat rapi dan terstruktur, terkesan seperti sebuah strategi tanpa melibatkan perasaan di dalamnya; yang membuat tulisan itu kehilangan makna dan ruhnya.

Karena, aku menulis tak lagi untuk bercerita atau menumpahkan isi kepala, melainkan karena takut dilupakan dan takut tak lagi mendapat sorotan mata manusia yang memujiku gila-gilaan pada masa itu.

I. Ketika Menulis Tak Lagi Jadi Rumah

Bagiku, menulis adalah tempatku pulang mencari tenang. Isi kepala yang begitu berisik, seketika reda setelah meluapkan sepenuhnya menjadi susunan kata yang bisa kubaca ulang atau dibaca oleh orang-orang yang barangkali merasakan hal serupa.

Itu dulu.

Iya, dulu aku menulis tanpa memikirkan siapa yang akan membaca atau seberapa bagus hasilnya. Aku hanya ingin jujur menumpahkan apa yang kurasakan demi meredakan bising-bising di kepala; yang cukup mengganggu rasanya.

Blog pribadi, kujadikan ruang sunyi semacam kamar pribadi; tempatku menjadi diri sendiri dan menumpahkan isi kepala tanpa takut dinilai oleh orang lain. Waktu itu Blogger masih menjadi platform favorite orang-orang karena mudah dan enak untuk digunakan. Itu juga yang aku lakukan, menumpahkan segalanya di rumahku yang alamatnya saja aku lupa sekarang.

Setiap susunan kata, kalimat, paragraf, dan alinea, lahir dari perasaan yang sederhana; aku hanya ingin mengingat, memahami, dan sembuh dari segala pelik dan ganasnya pertarungan isi kepala.

Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai memperhatikan angka-angka.

Puncaknya ketika media sosialku mulai ramai dengan puluhan bahkan sampai ratusan ribu pembaca. Likes, jumlah pengunjung, impresi, interaksi, dan hal-hal yang berkaitan dengan angka, mulai buatku terlena.

Tulisan yang awalnya berasal dari kejujuran, berubah menjadi tulisan yang mengejar peningkatan angka-angka itu. Kalimat yang awalnya kupoles dari hati, berubah menjadi susunan kata yang kubuat demi meraih atensi.

Karena, tak selamanya tulisan yang terluap dari hati yang tulus, bisa mendapatkan perhatian orang lain. Kan kita sedang hidup pada masa di mana orang lebih fokus pada diri sendiri daripada berkaca dan mencari makna. Orang-orang sibuk mencari kata-kata yang relate buat mereka, demi semua pembenaran kalau orang-orang di sekitar tak ada satu pun yang mengerti dirinya.

Dan itulah yang buat aku mulai kehilangan arah.

Aku berhenti menulis bukan karena kehabisan ide, tapi karena takut tulisanku tidak cukup bagus untuk dunia yang serba menilai dan untuk negara yang minat bacanya begitu rendah, sehingga sulit naik kepermukaan karena saat ini kita hidup dikendalikan oleh algoritma.

II. Menulis yang Terlalu Serius Kadang Bisa Membunuh Diri Sendiri

Pernah ada masa di mana aku duduk sendirian di depan laptop, mengetik beberapa baris kalimat, kemudian kuhapus karena aku merasa kalimat itu belum layak untuk dibaca orang.

Aku menulis, menimbang, menilai, mengedit, sampai hilang keberanianku untuk mengklik tombol publish.

Seolah sedang mengikuti ujian, menulis bagiku seperti tugas yang kelak akan dinilai; dan itu membuatku tak lagi berbicara dengan hati.

Semua harus sempurna,
kalimat harus kuat, ritme harus pas, diksi harus memikat.

Padahal, menulis untuk menumpahkan isi kepala mestinya tidak serumit itu.

Kan tulisan yang paling indah bukan yang paling sempurna, tetapi tulisan siapa yang paling jujur isinya.

Dan kini aku mulai sadar, selama ini aku terlalu sering menulis untuk memuaskan orang lain; aku tak lagi menulis untuk memuaskan batinku yang ingin bicara menumpahkan apa yang ada dalam hati dan kepala, yang ingin didengar tanpa harus tampil sempurna.

III. Kembali ke Blog Pribadi

Kini, aku ingin kembali ke blog pribadiku; ruang kecil yang dulu kujadikan tempat menampung segala resah dan tumpahan isi kepala tanpa harus memenuhi ekspektasi siapa pun. Tempat di mana aku bisa menulis tanpa takut salah diksi, tanpa takut insight turun, tanpa takut dikomentari oleh orang lain dengan berbagai macam penilaian dan komentar “tulisannya terlalu personal.”

Justru, di situlah makna menulis;
menjadi personal.

Aku ingin kembali menulis seperti dulu; apa adanya, sebebas-bebasnya, yang barangkali tidak rapi, tapi setidaknya aku jujur.

Aku ingin kembali menikmati momen di mana ketika aku mengetik kata demi kata terasa seperti bicara dengan diri sendiri; bukan dengan algoritma.

Sebab, blog pribadi bukan sekadar halaman di dunia maya; ia adalah catatan hidup yang menua bersama penulisnya.

Dan itulah yang sedang kulakukan saat ini.

Tulisan-tulisan yang barangkali dianggap jelek hari ini, kelak akan jadi saksi perjalanan kalau aku pernah mencoba, pernah berusaha, pernah gagal, pernah bertumbuh, dan pernah-pernah lain yang akan menjadi sebuah cerita.

— Dayat Piliang
Menulis agar tak kehilangan arah.

Tinggalkan komentar