Di negara yang asing ini, aku kembali memutar gas motorku. Melaju di tengah ramainya kota dan menuju bangunan megah pusat perbelanjaan yang cukup sering dikunjungi oleh orang-orang Indonesia.
Tapi, aku tidak berbelanja.
Aku hanya menghabiskan waktu bergelut dengan isi kepala di kedai kopi yang menyatu dengan toko buku; tepat di hadapan layar kosong iPad, alat yang biasa kugunakan untuk menumpahkan apapun yang kurasa.
Adakah manusia yang benar-benar butuh akan tulisanku?
Pertanyaan itu terus menggema di kepala.
Ini bukan tentang pembaca yang hanya sekadar membaca tulisanku dan kemudian pergi. Bukan pula mereka yang meninggalkan komentar pujian hanya sekadar mengapresiasi tulisanku tanpa benar-benar merasakan begitu; tapi adakah seseorang yang benar-benar mencari kata-kataku seperti ia sedang mencari udara segar dari penatnya beragam masalah yang menimpa? Yang barangkali sedang merasa sendirian, kemudian menemukan tenang karena satu atau dua kalimatku berhasil melegakannya?
Awalnya, aku menulis hanya untuk diriku sendiri.
Aku ingin merapikan kekacauan di kepala, ingin berdamai dengan masa lalu yang begitu menyakitkan rasanya, atau sekadar mengingat kalau aku masih hidup dan butuh tempat untuk menumpahkan cerita; seperti catatan jurnal harian anak-anak remaja.
Namun, di sisi lain, aku juga ingin ada manusia yang membaca tulisanku; tepat saat ia benar-benar membutuhkannya.
Pernah memang, ada banyak pembaca yang menggemari tulisanku; bahkan menagih jika aku tidak menerbitkan tulisan terbaru.
Tapi, semakin berisik dunia, semakin hilang arah kita.
Kini, aku ingin ada pembaca; tidak mesti banyak, satu atau dua saja juga tak mengapa. Tapi setidaknya mereka tak lagi merasa sendirian dan kesepian; sebab mereka kembali menemukan dirinya di antara kata-kata yang kuketik dengan penuh rasa.
Menulis itu memang aneh,
Kita menuangkan isi hati dan kepala ke ruang yang tidak terlihat, kemudian berharap ada seseorang yang mendengarnya; seolah berbicara pada dunia tanpa tahu apakah dunia masih mendengar ocehan kita.
Tapi, di situ keajaiban menulis; saat kejujuran sederhana kita tumpahkan sebagai pelipur lara, bisa menyentuh seseorang yang bahkan tidak pernah kita kenal.
Aku tak tahu apakah tulisanku ini akan menyelamatkan siapa; tapi setidaknya aku tahu, menulis selalu menyelamatkanku dari kehilangan arah. Meski terlalu larut menulis dan mengikuti pasar juga membuatku tak lagi jadi sendiri, tapi toh akhirnya aku kembali lagi pada dunia yang sedari awal menyelamatkanku dari bisingnya isi kepala dan keinginan untuk menyudahi kehidupan.
Dan mungkin, di hari yang sunyi dan asing bagi seseorang di luar sana, kalimat ini akan menemukan jalan keluarnya; bisa menjadi petunjuk arah atau pemicu sadar dari jauhnya ia dari jati diri yang sebenarnya.
Jadi, jika ada yang membaca secuil tulisan sederhana ini dan bisa merasa sedikit lebih lega, sedikit lebih dimengerti, aku benar-benar bersyukur; itu artinya tanyaku terjawab sudah,
ada manusia yang butuh membaca tulisanku,
dan mungkin itu kamu.
Terima kasih sedalam-dalamnya, semoga ada banyak lega dari setiap kata.

Tinggalkan komentar