#61: Aku Pernah Berjaya, Lalu Terjebak Dalam Standar yang Kuciptakan Sendiri

Pernah ada masa di hidupku ketika semuanya terasa berjalan sempurna. Masa-masa jaya itu, singkat memang, tapi entah kenapa dampaknya panjang sekali rasanya. Sampai sekarang pun, kadang aku masih merasa terjebak di dalam bayang-bayangnya.

Iya, aku belum sepenuhnya pulih.

Sisa-sisa masa itu seperti hantu yang terus menagih sesuatu dariku; standar, ekspektasi, dan tuntutan yang bahkan tak lagi aku pahami. Aku tidak lagi hidup sesuai keinginanku, tapi sesuai dengan apa yang orang lain harapkan dariku.

Dan dari situlah semuanya mulai runtuh.

Aku diselimuti banyak bingung.
Mau melangkah ke kiri, berpikir dulu.
Mau melangkah ke kanan, pertimbangkan lagi.
Tidak salah, sih. Bagus itu, berhati-hati.
Tapi kalau terlalu banyak mikir, kapan bergeraknya?

Padahal kadang yang kita butuh cuma langkah pertama. Bukan rencana besar, bukan janji muluk. Cukup dengan satu langkah kecil biar roda hidup kembali berputar. Di langkah itulah kita mempertaruhkan hidup untuk berhasil atau gagal.

Kita nggak akan pernah tahu ke mana arah angin membawa kalau diam di tempat.

Sama seperti ketika kita iseng naik motor, muter-muter kota tanpa tujuan. Tapi justru di perjalanan itu, di tiupan angin yang segar, tiba-tiba kita tahu mau ke mana; ke kedai kopi, ke tempat makan, atau mungkin mampir ke rumah teman lama.

Begitu juga kehidupan, kita bisa mikir seribu kali, tapi yang paling penting tetap langkah pertamanya.

Aku tahu, standar zaman sekarang makin berat saja; semua orang ingin jadi yang terbaik, yang paling hebat, paling sukses. Tapi ya mau bagaimana, manusia itu bukan mesin. Kadang kita cuma butuh diam, menarik napas, dan bertanya ke diri sendiri;

“Bisakah aku sekadar jadi manusia dulu?”

Karena di dunia yang sibuk berlomba-lomba mengejar sesuatu yang bahkan tak jelas bentuknya, menjadi manusia saja sudah pencapaian besar.

Aku pun sedang belajar itu.
Belajar untuk kembali ke dasar.

Menulis setiap hari meski malas, meski buntu, meski kadang nggak tahu mau ngomong apa. Tapi aku sudah janji ke diri sendiri; mulut dan tindakanku harus sejalan. Aku nggak mau jadi orang yang gampang mengingkari ucapannya sendiri.

Meski masih ada sisa-sisa ego masa lalu yang sesekali datang, membisikkan bahwa aku harus sempurna seperti dulu; tapi aku belajar untuk menundukkan kepala, menempatkan diri sebagai pemula, supaya aku terus mau belajar.

Karena begitu kita merasa paling pintar, di situlah otak berhenti tumbuh.

Jujur, aku juga nggak tahu tulisan ini akan berakhir di mana.
Tapi mungkin, di titik ini, cukup.

Terima kasih sudah membaca.

Dayat Piliang

Satu tanggapan untuk “#61: Aku Pernah Berjaya, Lalu Terjebak Dalam Standar yang Kuciptakan Sendiri”

  1. Makasih banyak sudah berbagi tulisan tentang ini, mas Dayat! saya merasa relate dengan tulisannya dan harapnya semoga jebakan dan hambatannya bisa mas lalui, meski tidak mudah!

    Terus untuk bagikan tulisannya di medium atau blog ini, saya masih setia menunggu 🙂

    Suka

Tinggalkan komentar