riuh ramai media sosial, tak habis-habis bikin kita geleng-geleng kepala.
siang ini, lewat satu postingan di Threads. isinya? seorang ibu yang beragama islam hendak memasukkan anaknya ke sekolah Katolik. menurut ibu tersebut, sekolah Katolik benar-benar berhasil membuat anak disiplin dan punya toleransi yang tinggi pada sesama, juga yang berbeda. ibu tersebut sedang mempertimbangkan pendidikan yang baik buat anaknya; ingin membangun pondasi anaknya di sekolah yang berbeda, setelahnya saat menginjak usia remaja disekolahkan di sekolah negeri biasa, katanya.
salahkah pertimbangannya?
kalau kita baca baik-baik, tidak ada yang salah dari rencana ibu tersebut. kenapa? karena ibu itu sedang mempertimbangkan pendidikan terbaik untuk anaknya. ia ingin anaknya tumbuh dengan tingkat disiplin dan toleransi yang tinggi. barangkali ibu itu mengerti apa yang kurang dari realitas manusia zaman sekarang; pemalas, tidak disiplin pada dirinya sendiri, dan gampang emosi melihat hal-hal berbeda dari kelompoknya.
di akhir postingan, ibu tersebut menyematkan tanya; apakah pikirannya salah sebagai orang islam ingin menyekolahkan anaknya ke sekolah Katolik lebih dahulu baru ke sekolah negeri biasa.
seperti yang aku katakan, tidak ada yang salah.
tapi yang buat postingan itu ramai dan pecah adalah orang-orang yang memaksakan standar hidup dan pemikirannya ke orang lain.
ada yang bilang pemahaman ibu tersebut kacau karena terjebak pada lip servce sekolah Katolik yang buat anak disiplin, kemudian orang tersebut mengarahkan argumen yang dari mana basis datanya dengan mengatakan “biar orang Islam memasukkan anaknya ke sekolah Katolik, lalu pada akhirnya? tebak sendiri endingnya”
dan ada banyak balasan komentar dengan nada yang menyalahkan pertimbangan ibu tersebut tanpa menilisik lebih dalam latar belakang dan bagaimana kondisi lembaga pendidikan di daerah ibu tersebut tinggal.
kita perlu menggaris bawahi konteks dari pertanyaan ibu yang sedang mempertimbangkan mana yang bak buat anaknya; itu tersebut sedang mempertimbangkan disiplin dan toleransi yang ingin ditanamkan pada diri anaknya. dan menurut si ibu yang barangkali sudah riset banyak lembaga pendidikan yang ada di daerahnya dan mungkin di daerah lain, sekolah Katolik tepat untuk membentuk pondasi tersebut.
jika itu tujuannya, maka kita kesampingkan pembahasan perihal agama dan jangan membuat asumsi dalam kepala kita kalau kondisi ibu ini sama dengan teman-teman kita yang barangkali tersesat dan tidak mempertimbangkan matang-matang pertimbangannya.
dengan dia bertanya, itu berarti masih dalam pertimbangan. dan kita, jika ingin berkomentar, harusnya punya dasar argumen yang kuat agar komentar itu bisa menjadi bahan pertimbangan yang valid.
kalau si ibu tersebut menanyakan perihal salah atau tidak, aku sendiri menjawab tidak. karena ada beberapa teman aku yang muslim dan mereka bersekolah di sekolah Katolik, mereka justru memang tumbuh dengan kedisiplinan yang tinggi dan begitu toleran dengan perbedaan yang biasanya sering menghadirkan perdebatan yang tidak diperlukan.
tidak hanya itu, aku juga punya kenalan yang agamanya tidak sama denganku, namun mengenyam pendidikan di lembaga pendidikan Muhammadiyah.
masih kurang kuat? bahkan aku pernah bersekolah di Pulau Dewata; yang mana mayoritas di sana beragama Hindu. dan aku menjadi minoritas di sana. seperti halnya anak-anak beragama lain pada pelajaran agama islam di suruh keluar kelas, begitu juga aku di sana. mata pelajaran agamanya agama Hindu, dan aku diberi pilihan untuk keluar atau tetap berada di kelas saat pelajaran agama Hindu berlangsung; dengan syarat kalau memilih di kelas, aku harus diam dan jangan jadi sumber keributan.
dan untuk masalah akidah, aku tidak terganggu sama sekali; yang bahkan setiap pagi mereka beribadah masal di kelas, bersenandung Puja Trisandhya sembari menghadap arah matahari.
semua berjalan baik, kami saling menghargai.
pada saat itu, aku bahkan hapal dengan bacaan doa ibadah mereka. ini sama halnya teman-temanku yang hafal Al-Fathiha padahal agamanya Kristen. dan itu bukan sebuah masalah besar untuk akidahku sendiri. karena sedari kecil, dan dari rumah, meski bukan langsung dari keluarga, aku sudah dibekali dengan pemahaman-pemahaman agama. bahkan sampai-sampai aku menjadi seorang radikalis yang senang menyalah-nyalahkan agama yang berbeda dari agama yang kuanut.tetanggaku yang Kristen juga tak luput dari cibiranku yang kesannya bercanda.
beruntungnya aku setelah itu keluar dari jeratan hidup di satu tempat.
di Bali, kepalaku terbuka lebar. aku mulai mengerti kalau perbedaan itu bukanlah masalah besar jika kita punya satu hal; toleransi.
melihat banyaknya perbedaan dan bahkan menjadi seorang minoritas membuatku bisa merasakan apa yang mereka rasakan. kadang, kita perlu keluar, bergaul, dan duduk dengan mereka yang berbeda. kita harus berbaur dan melihat bagaimana dunia ini–yang penuh dengan banyak perbedaan, bekerja.
dengan melihat perbedaan, kita jadi tidak mudah menilai hidup sekadar hitam dan putih. ada banyak warna lain di dunia ini; yang tidak akan bisa kita lihat jika kita terjebak pada ruang kamar sempit dan enggan berbaur dengan mereka yang berbeda.
balik lagi pada topik pertimbangan ibu tersebut; tidak ada salahnya. selama ibu tersebut menanamkan pondasi agama yang kuat dari rumah dan jangan sampai mengabaikan pendidikan islam sedari kecil agar saat anaknya sedang dilatih disiplin dan toleransi di sekolah, anak ibu itu sudah punya pondasi agama Islam yang kuat dari rumah.
meskipun anak ibu tersebut masih terlalu kecil, masih 3,5 tahun.
tapi, aku tidak akan mengomentari hal tersebut. karena aku menyadari kalau yang punya otak di dunia ini bukan cuma aku saja, alias ibu tersebut pasti memikirkan dengan matang dan mempertimbangkan dengan baik untuk kebaikan anak-anaknya.
jadi, rasanya kita harus berhenti memaksakan standar kita ke orang lain; dan kita harus menelisik lebih dalam sebelum cepat mengomentari hal-hal yang sebenarnya tidak kita pahami sepenuhnya. apalagi sampai membuat tuduhan kalau sekolah yang berbasis agama lain sengaja membuat bahasa marketing yang menarik, sehingga orang dari agama lain memasukkan anaknya ke sekolah tersebut agar ditanamkan nilai-nilai agama mereka dan membuat akidahnya tergoyah.
masyarakat kita memang terlalu takut.
dan itu tanda kita masih belum saling mengenal satu sama lain dengan orang-orang yang berbeda dengan kita. semua sibuk berada pada satu bubble dan enggan keluar mencari pandangan baru dan mencari jalan tengah dari setiap berbedaan pendapat, pandangan, dan bahkan keyakinan.
ini aku nulis berantakan banget dah wkwkwkw
ya sudah, sekian catatanku hari ini, terima kasih.
Dayat Piliang

Tinggalkan komentar