tidak sedang berusaha terlihat cerdas setiap hari, hanya ingin konsisten untuk jujur pada diri sendiri

seperti yang aku ceritakan pada tulisan-tulisan sebelumnya, aku sedang melatih konsistensiku untuk menulis setiap hari.

tapi, kepala tidak selalu dipenuhi inspirasi.

sebenarnya, ada banyak yang ingin aku tumpahkan. tentang hal-hal pribadi, bahkan sampai kesewenang-wenangan pemangku jabatan dalam membuat kebijakan. tapi, aku coba sejenak menahan diri untuk tidak terlalu gegabah dalam menulis tanpa melakukan riset sederhana.

untuk hal-hal yang aku tidak terlalu mengerti, tidak semestinya aku menuliskannya langsung di sini. aku perlu melakukan riset kecil-kecilan untuk setidaknya memahami dari permasalahan itu dan mengambil kesimpulan yang objektif tanpa berpihak karena ada satu dan lain hal; kedekatan contohnya.

mungkin kalian juga sudah muak dengan diksiku yang terus kuulang-ulang tentang sedang melatih diri konsisten menulis. kesannya seperti aku sedang memamerkan kedisiplinan ke seluruh dunia; seolah akulah yang paling konsisten di dunia ini.

tidak, aku hanya sedang menepati janji pada diriku sendiri; pada omonganku yang sudah kuucapkan di mana-mana. kalau aku tak melakukan itu, aku yang malu pada diriku sendiri.

hal itu tidak perlu aku anggap beban, tetapi latihan untuk konsisten dan mengembangkan diriku menjadi lebih baik lagi. tidak hanya perihal menulis saja, tapi juga dalam mencari tahu dan bisa lebih peka pada hal-hal kecil yang kemudian aku tumpahkan ke dalam tulisan di blog ini.

tapi, bahaya memang.

saat aku mulai aktif di sini, ada perasaan menulis ingin terlihat pintar.

tidak salah, selama memahami topiknya.

tapi bisa menjadi masalah besar jika aku tidak benar-benar paham dengan topiknya, kemudian aku beropini dengan bebas. bukan terlihat pintar, malah yang ada aku sedang memamerkan kebodohanku pada dunia (meski blog ini hanya memiliki sedikit pembaca).

seperti yang pernah aku katakan, tidak semua hal harus kita komentari; dan tidak semua riuh ramai media sosial harus kita ikut kontribusi. kadang, yang perlu kita lakukan hanya diam sejenak dan duduk di tepian. menyimak. memperhatikan. dan menilai dengan kacamata paling objektif tanpa ada embel-embel berpihak pada salah satu karena ada sesuatu.

karena, sekarang ada banyak orang yang harus berkomentar untuk semua hal; bahkan untuk hal yang tidak mereka pahami, yang hanya bermodalkan video dari seorang clipper tanpa memahami konteks secara keseluruhan.

aku tidak ingin menjadi orang yang seperti itu.

kadang, diam lebih baik daripada banyak bicara tapi kosong isinya.

menulis, awalnya kujadikan sarana untuk bercerita dan berbagi. dan ini bukan tentang benar dan salah, tetapi soal kejujuranku terhadap diri sendiri. aku perlu menumpahkan isi kepalaku agar aku bisa refleksi diri dari tulisanku; setidaknya ini adalah bentuk terapi.

iya, dahulu menulis kujadikan sarana terapi, namun saat aku sudah menjadi penulis yang menghasilkan; semua ini terkesan seperti layaknya pekerjaan yang jadinya beban. tidak ada kesenangan. aku menulis bukan untuk diriku sendiri, tetapi untuk pasar yang harus aku puaskan hasratnya.

aku menulis jurnal ini hanya untuk mencatat dan meninggalkan jejak pada dunia; kalau aku pernah hidup dan ada. aku tidak hanya menjalani hidup, tapi aku juga ingin berkontribusi pada dunia dengan meninggalkan catatan-catatan ini; setidaknya untuk diriku di masa tua atau anak cucuku, pun siapa saja yang menemukan tulisan ini.

meski pernah merasakan masa jaya yang sebenarnya tidak seberapa, tapi aku tetaplah bukan siapa-siapa. saat ini aku hanya manusia biasa yang sedang mencoba jujur pada diri sendiri; setidaknya di hadapan tulisan saya sendiri.

setidaknya, pelan-pelan, aku sudah bisa bertindak sesuai dengan ucapanku. aku konsisten menulis setiap hari. meski kadang tak ada isi, meski kadang terkesan ingin pamer kecerdasan, tapi inilah aku sekarang; apa yang ingin kutumpahkan, tumpahkan saja.

aku tidak ingin menjadi aku yang dulu, yang menetapkan standar tertentu sehingga membuatku buntu. harus dibayar sekian baru menulis karena merasa tulisanku mahal harganya hanya karena aku sempat mendapat tawaran proyek menulis dengan nilai hampir dua digit untuk tulisan yang totalnya 1.000 kata.

dan aku harus bisa menjaga diriku dari bahaya ingin terlihat pintar.

jika aku ingin membahas perihal yang sedang ramai, akan kuusahakan untuk mencari tahu lebih dalam dan tidak hanya berdasarkan perbincangan dipermukaan. dan aku harus bisa melihat sisi tengahnya dan tidak menyudutkan satu pihak hanya karena jutaan orang menghujat seseorang yang sedang tersandung masalah.

sekian catatan hari ini, terima kasih.

Dayat Piliang.

Tinggalkan komentar