setelah ucapan pewaris dan perintis dari seorang bocah ramai diperdebatkan di media soial; kini muncul topik yang benar-benar membuat getir rakyat bertambah parah. seperti biasa, aku coba lebih objektif dalam menilai sesuatu dan tidak berusaha berpihak pada salah satu narasi antara pro dan kontra.
di bawah kepemimpinan rezim Prabowo Subianto, negara lagi sibuk berbenah habis-habisan sepertinya. mencari-cari riuh ramai keributan, perdebatan, dan hal-hal yang sepertinyaini hanyalah intrik politik. bak panggung pertunjukkan dengan perannya masing-masing. setelah riuh itu mulai panas sepanas-panasnya panas, muncullah sosok yang sudah ditetapkan menjadi seorang pahlawan di tengah keributan.
stop sampai di situ, aku tak ingin melanjutkan.
kembali pada topik yang ada pada judul.
ini menjadi topik yang hangat akhir-akhir ini, dan aku tak ingin melewatkan untuk membahasnya. agar aku punya rekam sejarah kalau aku pernah bersuara pada sesuatu yang menyengsarakan rakyat.
tapi, tetap objektif.
aku meriset sederhana terkait topik ini. mengamati perbincangan. dan coba mengambil kesimpulan yang objektif.
pertama, rekening yang tidak aktif akan diblokir. dasarnya? demi efisiensi sistem perbankan, kebersihan data nasabah, dan keamanan finansial nasional; karena rekening tidak aktif rawan dipakai untuk pencucian uang, penipuan digital, atau dana ilegal. logikanya, kalau tidak aktif bagaimana dipakai buat hal-hal tersebut? kalau ternyata dipakai, berarti masuknya jadi rekening aktif dong? barangkali aku salah. boleh dikoreksi.
kedua, tanah yang mengganggur akan diambil alih negara. ini berlaku untuk semua status pertanahan, baik hak milih, hak guna, dan hak-hak lainnya. awalnya aku emosi membacanya. tapi, aku coba mencari informasi lebih lagi dan menyadari dari konten dari seorang komika Yudha Keling; aku tidak harus marah karena aku tidak punya tanah, wkwkwk.
Yudha menjelaskan kalau aturan ini ditujukan untuk kalangan atas yang menguasai tanah dan punya hak untuk sebagian besar tanah di republik ini, tapi tidak digunakan untuk apa-apa, didiamkan begitu saja untuk tujuan lain. tanah yang mestinya produktif, dihambat sehingga menjadikan aset tersebut semacam investasi yang menjanjikan di kemudian hari demi mendapatkan keuntungan yang lebih lagi.
ternyata, itulah salah satu mengapa harga rumah semakin mahal saja rasanya. kupikir faktor besarnya adalah narasi rumah adalah investasi. ternyata ada faktor lainnya; keuntungan yang ingin dikeruk oleh konglomerat dengan menguasai tanah disebuah daerah yang belum banyak terjamah, didiamkan, lalu ketika semua sudah menjanjikan, mereka membangunnya dan menjualnya dengan harga yang tinggi. cerdas kalau dari sisi bisnis, tidak adil dari sisi rakyat yang semakin sulit untuk punya hunian.
kedua topik itu menjadi ramai diperbincangkan di media sosial. bahkan ada juga yang menganggap kalau topik ini dilepas demi kongkalikong lain yang ingin ditutupi. ketika rakyat meributkan hal-hal yang kesannya tak ada urgensi, di situlah pejabat-pejabat busuk mulai menjalankan aksinya demi sebuah keuntungan yang berpihak pada kelompoknya.
entah benar atau tidak.
tapi kita harus tetap punya waspada.
kita harus skeptis pada topik yang kesannya remeh tapi banyak rakyat yang ribut-ribut memperdebatkannya. kita harus cari apa agenda di balik ribut-ribut itu. kita harus belajar dari masa lalu dan kita harus belajar terkait intrik politik yang terlalu banyak tipu muslihat di baliknya.
bayangkan saja, ketika pengangguran di mana-mana (walaupun topik ini lebih pelik dari yang kita kira), pemerintah justru melempar isu yang remeh ke publik. menghadirkan perdebatan dengan banyak kesalahpahaman. seolah ini negara tidak punya tim komunikasi publik yang ciamik. melempar topik mentah dengan bahasa yang ambigu, seolah sengaja ingin membuat gaduh.
urgensi negara harusnya pada sumber daya manusia!
saat ini, pengangguran ada di mana-mana. pemerintah menjanjikan akan menyediakan sekian juta lapangan pekerjaan, tapi coba kita lihat fakta di lapangan saat ada perusahaan membuka lowongan pekerjaan untuk sekian puluh orang, yang datang melamar tumpah ruah sampai mengganggu jalanan. begitu banyak orang membutuhkan pekerjaan, tapi begitu sulit mendapatkannya.
di Threads, ada yang beropini kalau pemilik bisnis pada kesulitan mencari pekerja. ini bertolak belakang dengan angka pengangguran yang tinggi.
masalahnya ada di mana?
di sisi pemilik bisnis, mereka menginginkan pekerja yang bisa menjadi budak dan melakukan hal yang banyak dengan gaji tak seberapa. dari sisi pencari kerja, mereka ingin pekerjaan yang mudah dengan gaji yang tinggi.
jumpanya di mana?
inilah yang harus diselesaikan oleh pemerintah. sebagai orang yang punya kuasa, pemerintah harus hadir di tengah-tengah mereka. menghadirkan solusi untuk keduanya. bukan malah menghadirkan kebijakan yang memicu keributan, kemudian mengabaikan hal-hal yang krusial.
pada dasarnya memang orang kita adalah pemalas yang ingin terlihat kerja.
tidak rakyatnya tidak pemerintahnya, semua sama saja. termasuk akujuga.
tapi, apapun itu, semua salahnya pemerintah.
kenapa? karena aku benci rezim? karena aku tidak terima Anies Baswedan kalah? tidak. ini lebih jauh daripada itu.
pemerintah itu punya kuasa. jadi kalau ada hal-hal yang tidak berjalan baik di negara ini, itu tanda ada tangan-tangan pemerintah yang tidak bekerja dengan baik dan tidak menghadirkan solusi terbaik untuk keberlangsungan negeri ini.
jika pengangguran di mana-mana dan kemudian pemilik bisnis menilai kualitas sumber daya manusia kita rendah, itu salahnya pemerintah. kenapa? sebab itu tandanya mereka tidak menyediakan pendidikan yang layak, merata, dan tidak serius dalam membangun manusia. tidak peduli siapa yang memimpin negeri ini, jika hal-hal itu masih terjadi, itu tanda tangan-tangan pemerintah tidak bekerja dengan baik. mau yang memimpin adalah Prabowo, Anies, atau bahkan aku yang bisanya hanya nyinyir, kritik, dan menulis.
jadi, ini bukan tentang anti pada pemerintah. ini tentang kita yang tak punya kuasa, menyadarkan orang yang punya kuasa dan telah dipercaya oleh rakyat untuk mengemban amanat memajukan negara ini ke arah yang lebih baik dan membangun manusia-manusia di negara ini menjadi generasi penerus yang kualitasnya bagus.
tapi, bagaimana bisa itu terwujud jika fokus pemerintah pada hal-hal yang bukan fundamental?
sudah terlalu panjang catatan hari ini, jadi aku akhiri sampai di sini saja.
nanti kita bahas lagi di catatan-catatanku selanjutnya dan jadilah saksi di mana aku konsisten pada omonganku sendiri yang ingin konsisten menulis setiap hari, melatih diri, dan tumbuh hingga merebut masa jaya yang pernah kudapatkan waktu dulu.
sekian, terima kasih.
Dayat Piliang
Tinggalkan komentar