kemarin, aku bercerita tentang diriku yang berleha-leha dan hanya menghabiskan waktu libur dengan scrolling sosial media. tak ada yang salah memang; wajar-wajar saja. dan sangat-sangat manusiawi. seperti kataku pada postingan sebelumnya; tidak harus produktif setiap waktu.

tapi, aku merasa bersalah.

iya, meski kemarin selepas menulis tulisan sebelumnya aku langsung balik ke asrama kantor dalam keadaan tremor, hari ini aku merasa bersalah karena tidak melakukan banyak hal kemarin. padahal, aku bisa memaksimalkan waktu aku untuk membuat lebih banyak tulisan ataupun konten sederhana untuk media sosial; atau bisa membuat video latihan ngomong depan kamera yang pada minggu-minggu lalu sudah biasa aku buat saat aku di Ibu Kota Negara.

by the way, Ibu Kota Negara yang aku maksud dalam setiap catatanku bukan IKN di Kalimantan, ya!

mood, itu adalah fluktuasi suasana hati yang normal. tapi sialnya, seringkali ia jadi penentu arah akan ke mana dan bagaimana kita hari ini. sama seperti kemarin, meski sedang tidak mood, aku tetap memaksa diri untuk bangun di pagi hari, tapi apa daya, aku kalah bertarung lawan mood; sehingga kemarin aku tidak banyak melakukan hal-hal produktif.

bahkan, keinginanku untuk membuat video dengan materi menanggapi perihak topik perintis dan pewaris yang viral akibat ucapan anak kecil, mendadak batal. padahal, konsepnya sudah matang. tapi, ya, aku dikalahkan oleh mood-ku sendiri; dan aku tidak tahu kenapa.

sesuai dengan judul catatanku hari ini, kalau sama mood aja kita tumbang, bagaimana kita bisa bertahan saat hidup benar-benar menyerang?

mood itu ibarat cuaca dalam diri. suasana hati. tapi, kita adalah pilotnya. jika kita seorang pilot terlatih, kita tak akan gentar dan membatalkan penerbangan hanya karena langit sedang mendung sedikit. bukan tak memperdulikan keamanan, tapi karena pilot terlatih, kita tahu bagaimana suasana medan udaranya saat cuaca sedang sedikit mendung.

dan kebanyakan dari kita, termasuk dalam kasus ini aku, suka sekali menjadikan mood sebagai pembenaran untuk tidak bergerak. padahal, dunia tidak menunggu mood kita stabil dan membaik.

hidup akan tetap berjalan, masalah akan terus datang.

tidak peduli mood kita sedang baik atau tidak, masalah pasti akan datang tiba-tiba tanpa tahu kita siap atau tidak untuk menghadapinya.

jadi, kalau sama mood aja kita tumbang, bagaimana kita bisa bertahan saat hidup benar-benar menyerang?

dalam catatan ini, aku bukan untuk menggurui atau menyindir kalian yang baca tulisan ini. aku hanya ingin melatih diriku untuk tetap komit menjalankan konsistensiku yang berjanji untuk menulis tiap hari; tanpa ada yang baca satu orang pun.

dan aku, sedang melakukan hal itu.

aku tidak mau kalah dari mood. sudah banyak waktu kubuang karena aku kalah bertarung dan mencari pembenaran dengan kata-kata kalau aku ingin menjadi orang yang biasa-biasa saja tanpa ada ambisi apa-apa. hasilnya? hidupku berantakan dan tak ada kenaikan yang signifkan; bahkan yang ada penurunan.

aku tak ingin lagi membuang-buang waktu.

aku juga tak ingin latihanku untuk konsisten menjadi lebih baik dari hari ke hari kukhianati dengan satu hari berjalan tidak produktif. aku harus selalu punya api semangat, meski saat bangun pagi aku tak punya semangat karena digerus oleh mood yang tiba-tiba runtuh.

setahun lebih aku konsisten bangun lebih pagi dari orang lain meski sedang dalam kondisi tidak mood, tetap menulis meski sedang buntu, tetap berangkat kerja meski sedang hampa.

karena aku sadar, aku sedang menata hidup dan aku tidak ingin hidupku berantakan seperti dulu karena membenarkan tindakan yang sebenarnya wajar, tapi tidak untuk orang yang ingin konsisten untuk selalu produktif dalam setiap omongan.

aku bukan tipikal orang yang mau menjilat ludah sendiri. jijik.

aku percaya, tekun dalam setiap keadaan meski sedang dalam kondisi tak nyaman, itu akan menciptakan fondasi yang kuat untuk mental. meski mood berubah, tapi akulah pengendali atas diriku sendiri; bukan mood yang datang tiba-tiba dan dengan mudahnya mengacaukan hari yang harusnya berjalan baik-baik saja.

dunia ini penuh dengan tekanan. ada kehilangan, pengkhianatan, gagal, tanggung jawab yang harus diemban, dan beban hidup yang tidak akan selesai jika kita tak berbuat apapun.

jadi, kalau kita nyerah setiap kali mood kita sedang hancur, bagaimana kita bisa menghadapi pelik atau pengkhianatan yang bisa datang tiba-tiba tanpa aba-aba?

mood bisa berubah, tapi hidup tetap harus berjalan. karena, masalah tidak akan menunggu kita siap. ia bisa menyerang setiap waktu. dan kita harus melatih diri untuk tekun dan siap dengan serangan yang datang tanpa kita tahu.

sekian catatanku hari ini, terima kasih.

Dayat Piliang.

Tinggalkan komentar