akhir-akhir ini, linimasa sosial media di ramaikan dengan pembahasan tentang hal yang sudah sering diperdebatkan berulang-ulang. pembahasan itu meliputi dua kata; pewaris dan perintis.
lagu lama yang dikemas dengan cover baru.
semua bermula dari potongan video bocah kecil; dengan wajah tenang dan nada percaya diri, dia berkata hidup sebagai perintis itu menyenangkan. tak ada jaminan, tak ada arahan. di situlah letak serunya, ujarnya seolah ia sudah pernah berdarah-darah jatuh bangun membangunn usaha.
ucapannya viral. ada yang memuji, banyak juga yang mencemooh.
sebagai orang yang mencoba bijak, aku tak langsung menanggapi keriuhan ini. seperti biasa, aku lebih senang duduk agak ke pinggir; menyimak perbincangan orang-orang yang terbakar oleh semangat atau kesal oleh tamparan realitas yang disampaikan bocah kecil yang usianya baru saja menginjak sepuluh tahun.
bagiku, pewaris dan perintis bukan sekadar status; melainkan sebuah jalan. dan jalan yang ditempuh, pasti punya tantangannya masing-masing.
perintis, adalah mereka yang memulai semuanya dari ketiadaan. tidak ada peta dan arah, tidak ada sumber daya, dan tidak ada privilese yang bisa digunakan untuk mempermudah; seperti halnya hutan yang belum ada jalannya, harus membuka jalan dengan banyak pertaruhan.
sedangkan pewaris, mereka punya hal-hal penunjang yang tak dipunya perintis, tapi bukan berarti tak punya tantangan. sama seperti kita melewati jalan raya lintas yang mulus, bukan berarti tak ada hambatannya. lubang-lubang yang menganga lebar yang bisa membahayakan, rambu-rambu yang tak jelas yang menghadirkan kebingungan, dan hal-hal lainnya; bahkan di jalan tol yang katanya bebas hambatan sekalipun, tetap ada saja hambatannya. mengantuk saat berkendara, misalnya.
intinya, semua punya kesulitannya masing-masing.
jika kita berada di posisi perintis, tak perlu meremehkan mereka yang jadi pewaris. begitu juga jika kita di posisi pewaris, tak perlu membangga-banggakan diri dan menganggap rendah perintis.
bukankan dengan begitu kita bisa lebih damai tanpa ribut? menjadi perintis memang berat, tapi menjadi pewaris juga tidak mudah.
aku sendiri juga tak tahu sebenarnya kenapa menuliskan ini. karena aku juga tak tahu di mana aku berdiri. perintis? tidak. pewaris? apalagi!
aku hanya seorang penulis yang sibuk mencari jati diri dan sedang berusaha melatih diri untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari.
dan, ya, sepertinya aku masuk dalam kategori perintis, tapi dalam konteks yang berbeda. bukan mengarah ke pengusaha, tapi lebih ke karirku sebagai seorang seniman.
di dunia seniman pun sama, ada orang-orang yang lahir dengan kelebihan sehingga mereka bisa lebih mudah untuk mengembangkan bakatnya. ada yang penulis lahir di keluarga kaya, dia bisa dengan mudah menulis dengan alat mahal dan di tempat mewah dan indah yang membuat semua inspirasi bisa lebih mudah dituangkan tanpa perlu terganggu pada hal-hal yang bersifat dasar; mencari uang untuk makan besok misalnya.
tapi, aku sudah berdamai dan tidak lagi menjadi orang yang bitter dan meributkan hal-hal seperti itu.
jalan yang mereka lewati juga tak mudah. orang tua yang tak setuju dengan arah hidup mereka sendiri, misalnya. meski bagi kita terkesan remeh, tapi bagi mereka yang hidup di ruang itu, seolah itu adalah neraka dunia. maka dari itu kita tak bisa memukul rata itu hal yang mudah dan itu adalah hal yang sulit.
karena akan ada orang-orang yang seperti itu. kita merasa hidup kita sulit karena tak punya kelebihan dari latar belakang keluarga, tapi, ada juga yang dahulu hidupnya seperti kita dan menilai apa yang kita lalui sebenarnya hal yang mudah.
lagi-lagi apa? ini hanya masalah mindset.
aku tahu, tulisan ini terlalu acak dan membingungkan. karena itulah yang aku rasakan setelah di paragraf ini. sebenarnya tulisan ini mau ke mana arahnya wkwkwkwk
intinya, jalani saja kehidupan ini dengan alur kehidupan yang sedang kita jalani. tak perlu membanding-bandingkan siapa yang lebih berjuang, bukankah lebih baik saling belajar?
dari perintis, kita bisa belajar tentang keteguhan dan keberanian. sedangkan dari pewaris, kita bisa belajar tentang menjaga, meneruskan, dan tidak menjatuhkan nama baik yang sudah dibangun lama; bahkan jauh sebelum pewaris itu terlahir ke dunia. semua punya sulit-sulitnya.
mau di manapun kita berada, kita tak bisa menyamaratakan tekanan hidup yang dirasakan orang-orang.
tak peduli kamu anak siapa, tak peduli kamu mulai dri mana. yang terpenting adalah, apakah kita benar-benar menjalani hidup dengan jujur? apakah kita tahu apa yang sebenarnya kita perjuangkan? atau apakah kita mau bertanggung jawab atas langkah-langkah yang telah kita pilih?
sebab, pada akhirnya, hidup ini bukan soal perintis atau pewaris. melainkan tentang keberanian menghadapi dan menjadikan hidup kita punya arti.
anjay!
dah ah, sekian catatanku hari ini, terima kasih.
Dayat Piliang
Tinggalkan komentar