berapa banyak energi, waktu, dan atensi yang kita gunakan untuk hal-hal yang tidak membangun hidup kita?
aku menulis ini bukan berarti aku orang suci yang selalu melakukan hal benar setiap saat. gosip? iya, itu juga aku lakukan. biasanya ini disela-sela perbincangan kecilku dengan pasangan. hanya sekelebat saja; semacam ice breaking, karena saat kami berbincang, kami lebih sering membicarakan topik rancangan rencana masa depan, hal-hal yang membuat kami bertumbuh, dan mencoba-coba peluang yang bisa mendatangkan hal-hal baik di hidup kami dan mendukung rencana kami.
jadi, tidak setiap waktu.
seperti halnya kasus yang sedang ramai dibicarakan di internet saat ini; tentang Erika Carlina yang ternyata hamil di luar nikah, dilakukan suka sama suka, dan yang melakukan adalah DJ Panda (aku baru tahu ada DJ bernama Panda). aku juga mendengar dan membicarakan topk ini dengan pasangan. tapi, hanya sebatas dasar saja; hanya untuk obrolan ice breaking sebelum kami mulai menonton film.
dan ya, aku tidak terlalu peduli dengan kasus mereka. begitu juga dengan pasanganku.
tapi, sampai aku menuliskan ini, masih saja ada orang yang sibuk membahas hal-hal seperti ini di internet.
di Threads, ada yang mengulas tentang arah perkembangan ribut-ribut mereka yang ternyata anginnya sudah mulai berpihak ke DJ Panda, yang narasinya seolah-olah Erika Carlina berlebihan dalam menanggapi dan terlalu menyudutkan DJ Panda dalam permasalahan yang sebenarnya tidak penting untuk kita bahas dan sejujurnya tidak perlu aku tuliskan menjadi bagian dari catatan harianku di blog ini.
tapi, aku ingin mengajak semua berpikir.
kita tidak perlu membuang-buang energi pada sesuatu yang tidak ada gunanya untuk diri kita; sebab, energi manusia itu terbatas.
dalam psikologi, ada namanya ego depletion. ini adalah konsep yang menggambarkan penurunan kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri setelah menggunakan sumber daya mental yang terbatas untuk melakukan tugas yang membutuhkan pengendalian diri. jika sumber daya ini habis, kita akan cenderung lebih mudah lelah, frustrasi, dan kesulitan dalam membuat keputusan atau mengendalikan dorongan hati.
dan, ya, itu artinya, setiap kali kita kepo (masih ada yang pakai istilah ini?), julid, dan nyinyir soal hidup orang lain, kita harus menggunakan energi yang bahkan lebih banyak dari yang kita kira. bahkan peraih nobel Daniel Kahneman juga berkata, kita cuma punya batas bensin energi perharinya. kalau bensin itu habis, kita jadi malas berpikir, mudah emosi, dan kerjaannya hanya nyari sensasi saja.
memang, ngomongin orang dan masalah selebritis itu terasa nikmat dan mudah. tapi, itu hanya sebuah cara kita kabur dari menghadapi realitas yang mestinya kita hadapi dan berjuang lebih keras lagi untuk memperbaiki diri sendiri.
ngomongin orang atau rumah tangga artis, membuat kita seolah-olah punya kendali dan merasa jadi orang paling paham sehingga sampai berargumen sotoy harusnya begini dan begitu. padahal, itu semua palsu. mengomentari hidup orang atau selebreiti memang membuat kita lebih superior, padahal hidup kita sendiri belum baik dan masih berantakan.
sedangkan selebritis yang diomongin, bisa makan nikmat dan bergizi, liburan ke eropa menghibur sedih, dan party di bali demi mengusir rasa sepi.
jika mengetahui fakta itu, coba berkaca ke diri sendir.i. bukankah hal yang kita lakukan saat membicarakan urusan selebritis seolah-olah jadi manusia paling paham dan merasa dekat dengan kehidupan seleb tersebut adalah kesia-siaan yang fana? untuk apa gunanya? apa akan berpengaruh ke kehidupan kita?
toh, selebritis yang diomongin juga akan baik-baik saja tanpa kita ikut terlibat dalam pembahasannya. kecuali kalau kita tak ingin jadi orang yang ketinggalan informasi, meskipun informasi itu tidak penting-penting amat.
kalau energi yang kita buang untuk ngomongin orang itu kita alihkan ke hal-hal lain, seperti; menulis, membaca, mengisi kepala dengan pengetahuan, melatih diri dengan hal-hal yang bisa mengembangkan diri dan skill kita jadi lebih baik lagi, justru kita akan bertumbuh dan berkembang.
kita sering lalai akan itu,
kita sering mencoba kabur dari realitas;
dan menjalani kehidupan semu, juga palsu.
daripada kita lelah karena ngomongin orang, alangkah baiknya kita lelah karena kita sedang mengembangkan diri kita menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari. tak usah terlalu larut terlibat dalam perbincangan yang tidak perlu dan tak ada maknanya. energi kita terlalu sia-sia untuk dibuang untuk hal yang percuma.
sekian catatanku hari ini, terima kasih.
Dayat Piliang.

Tinggalkan komentar