aku bukan terlahir dari keluarga yang berada, tak harmonis, dan tidak hangat seperti orang-orang pada umumnya. meski aku pernah bersekolah di pulau dewata, bukan berarti aku hidup dalam gelimang harta. tapi, aku tidak akan membanding-bandingkan kesusahan hidup dengan orang lain; apalagi kamu yang membaca tulisan ini.
kita semua punya sulit-sulit yang bikin kita menderita dan hidup tanpa ada rasa tenang dalam jiwa. dan itu wajar. dunia memang tempat kita menjalani ujian-ujian itu. dan ya, itu tidak apa-apa.
yang perlu kita lakukan hanya menjalani dan menghadapi semuanya.
tenang? kita hanya bisa berharap.
bertahun-tahun aku menjalani hidup, ke mana-mana aku berkelana, tidak jua aku menemukan hidup tenang yang kuharapkan.
suatu ketika, pernah aku kabur dari duniaku, melepaskan semua yang kupunya; karir dan popularitas yang tak seberapa, kemudian mengasingkan diri ke sebuah pulau kecil yang sedang dilanda musibah penurunan wisatawan; mencari tenang, mengasingkan diri dari riuh ramainya kota, menghilang dari media sosial, dan menjalani hidup monoton dengan terus merenung dan mengurung diri.
tenang? tidak jua kudapatkan.
di pulau kecil itu, hari-hari kuhabiskan dengan mengayuh sepeda mengelilingi pulau, memandang senja, menyesap kopi, dan sesekali membuka laptop untuk menumpahkan isi kepala yang tidak pernah jadi apa-apa.
saat itu, benar-benar sulit. bukan ekonomi, lebih ke mental dan kehilangan jati diri. aku tak kuat dengan beban popularitas dan menjadi penulis penuh waktu. aku belum siap. terlalu instan sepertinya langkahku. bagai ayam ternak yang bisa mati mendengar petir, mentalku belum pantas untuk berada di posisi itu. aku harus mentatar diriku lebih keras lagi, agar aku punya alasan yang kuat untuk menumpahkan dan membagikan makna lewat karya.
aku terlalu fokus mencari tenang dan mendambakan hidup selalu berjalan baik-baik saja, padahal itulah yang menghancurkan diriku sendiri. pelan-pelan, dimatikannya imajinasiku, dimusnahkannya resah yang ingin kutumpah dalam tulisan.
aku harus selalu punya resah; dalam hal apapun. agar banyak hal yang bisa kutumpah, dalam karya tulis yang akan mengalun panjang di kepala orang yang membacanya.
padahal, aku punya skill itu.
menulis.
aku bisa menumpahkan apapun sesukaku, semauku, sebebasku. bahkan, kalau aku jahat, aku bisa membunuh orang dengan sebuah tulisan. dan aku lupa untuk mengasah dan terus membiasakan diri untuk menulis. aku lupa untuk selalu punya resah agar banyak hal yang bisa kutumpahkan. tentang ketimpangan sosial, ketidakadilan, kekacauan, atau hal-hal remeh seperti aku yang tak suka dengan seseorang karena satu alasan.
tetaplah punya resah, tetaplah menjadi orang asing meski kita hidup di lingkungan yang itu-itu saja. sebab, dengan menjadi asing, kita akan lebih peka untuk memperhatikan hal-hal kecil di sekitar kita; sama seperti kita pergi ke tempat yang asing, kita memandang langitnya, hewan-hewannya, dan pemandangannya; yang bagi orang di sana biasa saja karena sudah terbiasa melihatnya.
sekian catatanku hari ini, terima kasih.
semoga aku selalu punya resah dan punya apapun yang bisa kutumpahkan menjadi sebuah tulisan sederhana untuk menjadi renungan kita bersama.
Dayat Piliang.
Tinggalkan komentar