aku yang hari ini, jelas berbeda dengan aku yang lalu. dan aku merasakan kalau makin hari diriku semakin bertumbuh. baik dalam sikap, skill, dan bahkan kematangan emosi. iya, aku tahu terkesan memuji diri sendiri. tapi, bukankah itu harus kita lakukan agar kita bisa mengevaluasi diri secara lebih objektif dengan menetapkan indikator-indikator tertentu.
pagi ini, pasanganku yang sedang pulang ke rumah orang tuanya mengirimkan pesan teks padaku, “kata mamah, kamu disuruh buru-buru.”
soal apa? sudah jelas soal menikah.
tapi, aku tidak terganggu akan hal itu. kalau aku yang dahulu, mungkin saja. terganggu, tersinggung, bahkan bisa tantrum tak jelas karena menyanyakan hal-hal yang sedang diperjuangkan; sama halnya saat kamu disuruh beres-beres kamar, mendadak mood hancur, karena kamu tahu akan melakukan hal itu, tapi kalau disuruh, mood jadi runtuh.
tapi, aku yang dahulu, bukan aku yang sekarang.
kematangan emosi ini harus aku syukuri. karena bisa bersikap dengan tenang, sehingga bisa dengan mudah mencari solusi ini dengan logika dan kepala dingin.
pada dasarnya, kita tak harus terganggu dengan omongan tentang kapan menikah atau orang tua yang menyarankan untuk segera menikah. santai saja. meski kita memang sedang dalam proses berjuang untuk mewujudkannya, tak perlu tersinggung atau terpancing jika diomongin seperti itu.
sebab, hal-hal itu di luar kendali kita.
yang bisa kita kendalikan apa? berusaha menenangkan diri dan merancang ulang rencana untuk menyegerakan pernikahan.
itu yang aku katakan pada pasanganku. mari kita atur ulang rencananya agar semua bisa berjalan lancar, sehingga kita tak perlu merasa terganggu jika orang tua menyuruh buru-buru. kan tidak semua orang bisa mengerti proses dan perjuangan yang sedang kita hadapi. jadi, cobalah untuk lebih memaklumi dan mengendalikan diri.
di tengah ketegangan situasi konflik Thailand dan Kamboja, malam ini aku akan membicarakan ulang perihal rencana kami ke depannya.
sebelumnya memang kami sudah membuat rencana jangka panjang untuk merealisasikan rencana, namun memang kita ingin mencoba banyak hal-hal baru sehingga itu butuh biaya lebih dan aku tak masalah soal itu. sebab investasi pada diri itu jelas berguna dan memang membutuhkan biaya yang tidak murah. karena aku sudah berkomitmen pada diriku sendiri untuk mendukung apapun yang pasanganku ingin lakukan; selama itu baik untuk pertumbuhan diri dan skill-nya.
itu sudah berjalan beberapa bulan ini. dan makin hari, ada banyak pertumbuhan yang terjadi. tak hanya pasanganku saja, aku juga.
inilah hubungan yang kuinginkan dari dulu; sama-sama bertumbuh. untunglah aku bisa mendapatkan hubungan yang aku harapkan tanpa perlu menjalin hubungan dengan banyak orang dulu.
jadi, kapan nikah?
sebentar dulu, kami sedang merencanakan semuanya dengan baik dan dengan angka-angka yang logis dan estimasi waktu yang dibutuhkan; yang sesuai dengan pendapatan. kita harus realistis dan jangan hanya terjebak pada angan-angan dan imajinasi pernikahan harus begitu dan begini. semampunya kita saja. sebab, tujuannya menikah. dan sebenarnya itu tidak susah-susah amat untuk dilakukan jika kita menetapkan standar-standar yang berat demi menjaga citra dari omongan orang-orang.
doakan saja, semoga lancar perjalanan kami menuju hari pernikahan yang sama-sama kami harapkan.
sekian catatanku hari ini, terima kasih.
Dayat Piliang.
Tinggalkan komentar