perang antara thailand dan kamboja; dan hal-hal yang mestinya menjadi renungan kita bersama

aku punya keyakinan, selama kita tinggal jauh dari garis perbatasan, perang tak akan pernah menyentuh kita. tapi saat pagi ini aku membaca berita seorang anak berusia delapan tahun tewas karena serangan roket yang menghantam pemukiman di Sisaket, aku tahu kalau tak ada tempat yang benar-benar aman dari ego manusia.

konflik kedua negara ini pecah tepat kemarin pada 24 Juli 2025, tapi percikannya mulai menyala sejak bulan Mei dan informasi itu aku dapatkan dari kanal Youtube milik Koide, Sepulang Sekolah. terjadi baku tembak singkat yang menewaskan tentara Kamboja. ketengangan terjadi, saling tuduh melewati batas wilayah. dan konflik tentang milik siapa kuil yang ada di perbatasan negara.

lalu, 16 dan 23 Juli kemarin, ranjau-ranjau meledak di sisi Thailand; sampai dua tentara kehilangan kakinya. jika terjadi sekali, mungkin memang lagi apes saja, tapi kalau terjadi dua kali, jelas menimbulkan curiga dari pihak Thailand kalau Kamboja menanam ranjau baru di jalur patroli mereka.

suasana pun kian panas.

malam hari di tanggal 23 Juli, Thailand menarik duta besarnya dari Phnom Penh, ibukota dari Kamboja. Thailand juga menutup empat pintu perbatasan utama. Kamboja membalas, memutuskan listrik, internet, dan dagangan dari Thailand.

pagi di tanggal 24 Juli pun pecah.

di sini aku tak ingin membahas detail konflik dari kedua negara. tujuanku hanya satu, agar aku dan siapapun yang membaca ini bisa lebih terbuka; kalau perang bukan solusi dari sebuah masalah. dan aku menuliskan ini, sebab aku juga sedang berada di salah satu dari kedua negara yang sedang berselisih. membuatku jadi tak bisa ke mana-mana, karena akses sedang diperketat dan berbahaya untuk warna negara asing berkeliaran dengan bebas.

aku terbuka saja di sini tentang keberadaanku, karena pembacanya masih sepi. jadi aku bisa menulis sebebasnya tanpa perlu takut. selain masih sepi, jelas minat baca orang Indonesia yang rendah tidak akan serta merta bisa membuat blog ini meningkat pesat.

pelan-pelan, aku akan membuka kisah pribadiku; yang seru-seru.

balik lagi perihal konflik kedua negara yang saat aku menuliskan ini, perang masih berlangsung dan saling serang masih terus berlanjut.

awal mula konfliknya karena perebutan wilayah kuil di perbatasan. tapi aku yakin, itu hanya satu pemicu dan ada faktor-faktor lain yang membuat konflik ini semakin besar dan membuat kedua negara saling serang; dendam yang bertumpuk. di setiap ribut yang pecah, pasti tidak hanya dipicu oleh satu hal saja. itulah yang sepertinya terjadi antara kedua negara.

tapi, perang bukan solusi.

dalam hiruk pikuk peluru, rudal, dan roket; serta diplomasi negara yang runtuh, satu pertanyaan yang harus kita renungkan,

untuk siapa sebenarnya perang ini?

perihal perang kedua negara tersebut, kita bisa berdebat habis-habisan tentang siapa yang memulai. tapi, tak satupun perdebatan itu bisa menghapus tangis seorang ibu yang kehilangan anaknya; ataupun warga yang terpaksa harus meninggalkan rumah tanpa tahu besok bisa kembali atau tidak.

siapa yang paling dirugikan? jendral perang yang keluarganya baik-baik saja? politisi yang meskipun pusing, tapi tetap bisa merebahkan badan pada kasur empuk dan ruangan dingin ber-AC? tak ada satupun dari petinggi negara yang sengsara. yang sengsara ialah rakyat kecil yang hanya ingin hidup tenang, tapi harus pergi dari rumah dan tanahnya sendiri dan berlari ke tempat pengungsian hanya karena dua negara sedang melaga ego dan harga dirinya.

meski aku berada di salah satu dari kedua negara yang sedang berselisih ini, aku menulis ini dari tempat yang jauh dari peluru dan daerah konflik.

sekian dulu untuk catatan hari ini, terima kasih.

Dayat Piliang.

Tinggalkan komentar