kita memasuki era di mana internet menjadi biang masalah dari banyak hal, termasuk etika dalam kehidupan bersosial.

apa yang aku tuliskan di sini bukanlah hal yang baru, ini hanya sebagai pengingat diri sendiri untuk tetap menjunjung etika di mana pun kita berada agar hidup kita bisa berjalan baik dan baik-baik saja. ini bukan tentang generasi yang lebih tua gila hormat, ini adalah etika bersosial dengan menghargai seseorang dari latar belakang dan pencapaian yang telah didapatkan oleh orang tersebut.

iya, itulah yang aku lakukan dalam hidup ini.

era media sosial adalah era di mana orang bisa bersuara dengan bebas tanpa memperdulikan latar belakang seseorang. kita bisa berbaur menjadi satu dan ini adalah era yang benar-benar menyenangkan jika orang-orang bisa sadar dan tahu dirinya siapa di dunia nyata.

attitude, etika.

iya, itu yang jarang dipunya generasi sekarang. tidak semua memang, namun umumnya terjadi karena orang-orang seperti itu sempit dalam banyak hal; pergaulan, wawasan, dan tidak pernah melihat kehidupan dunia nyata secara luas. mereka sering terjebak pada bubble mereka sendiri, circle mereka sendiri. mereka pada dasarnya tidak benar-benar tahu dunia luar seperti apa. sebab kalau pun keluar, mereka tetap akan terjebak pada satu lingkungan saja; pada kelompok mereka saja.

output yang dihasilkan seseorang yang sudah menjelajah banyak daerah, lingkungan, pergaulan, dan wawasamn tentu akan berbeda dengan orang-orang seperti itu. yang paham betul bagaimana dunia bekerja sudah pasti tidak akan petantang-petenteng dan cenderung bersikap rendah hati; saking rendahnya bahkan sampai orang awam akan melihat orang-orang seperti ini terkesan remeh dan bukan apa-apa.

mereka tidak akan berusaha untuk tampil bersinar dan mencari panggung, karena itu semua sudah pernah mereka rasakan.

kembali lagi, internet dan media sosial mengubah semuanya menjadi setara; dan ini adalah jebakan bagi orang-orang berwawasan sempit dan tidak punya banyak pengalaman. menjadikan mereka makhluk yang mengerikan, merasa pintar, hebat, dan seolah-olah mereka punya kuasa yang besar untuk menghancurkan seseorang. padahal, nyatanya mereka hanya remah-remah yang tak dianggap pada realitas kehidupan manusia. mereka sedang mencari validasi fana; ingin terlihat keren, kuat, dan hebat.

ini jebakan yang membahayakan.

kalau di internet mereka bisa memaki-maki profesor yang keilmuannya sudah diakui oleh penghargaan-penghargaan internasional, bila di dunia nyata mereka melakukan hal yang sama, itu sama saja dengan mereka mengundang masalah yang tidak terduga.

itulah yang saya jaga.

di mana bumi kita pijak, di situ langit kita junjung.

lebih dalamnya, kita harus bisa memposisikan diri dengan baik; bagaimana cara kita bersikap ke orang yang lebih tua, bagaimana cara bicara kita ke seseorang yang punya jabatan, bagaimana cara kita bertindak. itu semua harus kita perhatikan dengan baik. kita tidak bisa sembarangan dan mengabaikan hal itu. kita tidak bisa menganggap semuanya setara seperti yang dilakukan oleh orang-orang di media sosial.

karena, dunia nyata tidak berjalan seperti itu.

etika harus kita junjung tinggi. bukan soal orang-orang pada gila hormat, tapi kita harus tahu batasan dan memposisikan diri kita. agar kehidupan ini bisa berjalan dengan baik dengan beragam jenis orang yang jelas tidak semua karakternya sama. situasi dan kondisi juga harus kita perhatikan.

begitu banyak orang bersosial secara asal. mengatakan orang baperan padahal sebenarnya mereka melupakan hal penting; situasi, kondisi, dan cara penyampaian. tidak semua orang punya keahlian bercana yang bagus dan itu biasanya karena kurangnya jam terbang untuk bisa peka pada hal-hal yang seperti itu.

sudah kepanjangan sepertinya. intinya saja; kita harus bisa memposisikan diri kita, pada siapa kita sedang berhadapan. orang yang humble bukan berarti bisa kita anggap setara dan bisa kita sepelekan sampai kita abai pada latar belakang dan pencapaian yang sudah mereka raih dalam hidup ini. karena, kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana aslinya seseorang, jadi jaga-jagalah.

sekian, terima kasih

Dayat Piliang.

Tinggalkan komentar