Kamu percayakan, selama kita yakin dan tak henti berusaha dengan penuh tenaga, hal-hal baik akan didatangkan pada kita.
Ini yang aku rasakan hari ini.
Meski saat ini aku sedang berada di ujung tanduk; antara harus mengakhiri semua kegiatanku di Pulau Lombok; karena makin ke sini duit semakin menipis, sedangkan pendapatan tak ada masuk sama sekali, namun perlahan hal-hal baik itu mulai datang.
Di jurnal ini, aku sempat cerita tentang alasanku merantau jauh dari Kota Medan ke Pulau Lombok. Barangkali ada yang belum baca, akan aku ceritakan dengan sesingkat-singkatnya seperti naskah proklamasi hehehe.
Alasannya sederhana, karena sudah lama aku hidup tanpa punya alasan yang jelas. Aku terlalu larut pada banyak takut akan masa depan yang arahnya semakin kelam. Dan takut itu yang buat aku makin takut kalau-kalau aku semakin jauh jatuh ke dalam lubang gelap yang berujung pada mengakhiri hidup; seperti yang pernah terbesit dalam pikiranku ketika hidup sendirian di Kota Bandung, jauh bertahun-tahun yang lalu.
Tapi, aku bisa mengendalikan pikiran ingin mati.
Toh menjalani hidup tanpa alasan artinya aku sudah mati; seperti mayat hidup yang berjalan tanpa arah.
Alasan yang tak beralasan itu yang buatku mencoba menantang diri tuk kembali merantau setelah lama tak hidup di perantauan. Iya, masa remaja menuju dewasaku lebih lama kuhabiskan di perantauan. Mulai dari Bali, Bandung, Bogor, Cibubur, Jakarta, dan tempat-tempat lainnya yang kutempati tak terlalu lama.
Kutantang diriku agar kembali merasakan paniknya menjalani hidup. Tujuannya, agar aku punya banyak cerita baru. Aneh betul memang.
Hampir genap tiga bulan aku berada di Pulau Lombok ini. Berbagai macam hal sudah coba kulakukan demi memperbaiki hidup yang sudah hancur berantakan; demi meraih kembali masa-masa kejayaan yang dahulu pernah kurasakan. Namun, semuanya bisa terbilang gagal.
Ah, sialnya aku.
Begitu gerutuku hampir setiap malam. Tapi, mengeluh tanpa terus berusaha kan tak baik juga.
Terus kucoba banyak kemungkinan. Dan benar saja, tanda-tanda baik mulai datang perlahan. Meski belum bisa dikatakan pasti, setidaknya tanda-tanda itu sudah lebih dari cukup membuatku sedikit lega. Aku hanya perlu bersabar dan terus mengusahakan.
Pagi tadi, aku mengawali hariku dengan bertemu wakil rektor salah satu universitas swasta bersejarah di Lombok. Sebelumnya, sempat kami bertemu, namun hanya sebentar. Dengan perkenalan yang singkat itu, Bu Yani membuka dirinya akan hadirku di pulau ini.
Pertemuan hari ini bukan tanpa alasan. Aku ingin menanyakan detail tentang undangan menjadi pembicara yang dikirimkan Bu Yani dalam rangka memberikan pembekalan kepada para mahasiswa yang hendak berangkat dalam program KKN kampus.
Perlu aku menanyakan detail agar aku mengerti. Pertama, aku tak pernah merasakan bangku perkuliahan. Kedua, aku tak bakat berbicara di hadapan banyak manusia. Memangnya apa alasanku menulis? Itu karena aku tak punya bakat berbicara di depan umum.
Selain itu, aku juga mengutarakan ide-ide yang tiba-tiba saja terbesit dalam pikiranku. Seperti sebelumnya, Bu Yani selalu membuka dirinya. Sangat yakin beribu-ribu yakin aku Bu Yani tipikal orang yang paling disenangi satu kampus. Apapun itu, selama demi kebaikan kampusnya, Bu Yani selalu membuka diri pada ide-ide yang barangkali Bu Yani sendiri tak begitu paham; maksudku tentang perkembangan zaman.
Nanti akan kuceritakan lengkapnya alur kisah yang baru—yang akan kujalani—ketika semuanya berjalan dengan baik.
Seperti biasa, aku tak ingin berharap lebih. Setidaknya tanda-tanda baik ini buat aku merasa sedikit lebih baik.
Inilah kehidupan. Memang penuh kejutan.
Berulang-ulang kukatakan, kita hanya perlu bersabar dan tak henti mengusahakan banyak hal. Capek pasti, namanya juga hidup di bumi. Nanti juga enggak bakal capek lagi ketika sudah habis masa hidup kita di bumi.
Gimana? Kamu sudah capek membaca tulisan ini? Kalau belum, aku mau ngucapin terima kasih.
Salah satu hal baik lainnya di hidupku adalah kamu. Iya, kamu yang membaca ini. Kamu yang menerima surat-suratku dan bereaksi positif akan hal itu. Dukungan darimu adalah hal baik paling besar yang kurasakan beberapa hari belakangan ini.
Lagi dan lagi, terima kasih sudah hadir di tengah sepinya hidupku yang pernah ditinggalkan banyak pembaca yang dahulu selalu menanti tulisan-tulisan baruku di sosial media.
Kamu, adalah kerabatku yang selalu aku syukuri hadirnya. Semoga, bertahan lama, ya, kita.
Itu saja mungkin untuk hari ini, kuharap kita bisa bertemu lagi di jurnalku selanjutnya, ya 💜

Tinggalkan komentar