penulis gagal

Aku sudah sering cerita kalau aku adalah penulis yang gagal meraih cita-cita. Terjebak di persimpangan jalan buat aku bingung hendak melangkah ke arah yang mana. Fokus menjadi penulis namun tak banyak dapatkan untung? Atau terus membuat konten-konten di sosial media demi mendapat pundi-pundi rupiah dari korporasi?

Habis energiku merawat sosial media yang hanya seputar angka, angka, dan angka. Algoritma bajingan ini memaksa kita untuk berpikir berkali-kali lipat untuk mendapatkan perhatian orang-orang. Tren makin ke sini semakin memaksa untuk tampil; sedangkan aku yang pemalu dan kaku ini, sulit sekali beradaptasi.

Aku sadar, eraku di media sosial sudah berakhir. Tak seperti dahulu, orang-orang gemar membaca tulisan-tulisan panjang; kini, orang-orang lebih senang menikmati semuanya dalam sajian video; entah itu hiburan atau ilmu pengetahuan.

Pasar pembaca masih ada, namun makin ke sini makin tergerus saja. Penulis pun dipaksa untuk berinovasi membuat tulisan-tulisan yang sesuai dengan pasar pembaca yang makin ke sini, semakin memilih tulisan-tulisan yang langsung pada poinnya saja. Aku pun masih belum bisa meraba seperti apa tulisan yang diminati orang-orang kini.

Bahkan aku juga tak tahu apakah kamu membaca tulisanku sampai di baris ini.

Namun, di tengah pergulatan batin sebab hilang arah serta alasan untuk hidup, perlahan hal-hal baik mulai datang. Satu persatu. Meski tak sabar, tetapi semuanya kan butuh waktu.

Aku mulai beradaptasi dengan zaman yang makin ke sini semakin gila saja berkembangnya. Aku mulai menjadi diriku sendiri, seperti aku yang dahulu; lima tahun lalu, ketika aku menulis untuk diriku.

Terlalu larut dalam media sosial membuatku melihat manusia hanya sebagai angka. Dan kini, aku sudah memusnahkan pola pikir laknat itu. 

Sedikit apapun teman-teman pembaca yang masih bertahan mengikutiku, mereka adalah manusia; bukan angka-angka yang berujung pada hanya mengeruk untung darinya.

Karena itu, aku menyebutmu (yang membaca tulisan ini) sebagai kerabat. Itu bukan asal kuciptakan sebagai gimmick, tetapi ini semua bentuk kesadaranku kalau kita perlu punya ikatan mendalam agar kita bisa saling bertukar energi; saling memahami, saling mengerti. 

Mungkin tak bisa kulayani semuanya satu persatu, kan ada dunia nyata yang mesti aku jalani demi memperpanjang nafasku. Tapi, dengan karya-karyaku, semoga ada energi yang bisa kita tukar; agar hidup tak lagi sukar tuk kita jalani.

Lagi-lagi, aku ingin berterima kasih padamu; terima kasih sudah bertahan sampai sejauh ini bersamaku; terima kasih karena sudah berkenan dengan sadar mendukungku berkarya. Kuharap dengan surat-surat yang kubuat, bisa jadi sarana untuk kita bertukar energi agar kita kuat dan tak merasa sendirian menjalani hidup yang brengsek ini.

Jujur, aku tak tahu apa yang aku katakan dalam tulisan ini. Aku menulisnya dala keadaan letih setelah seharian beraktifitas memperpanjang nafas hidupku yang tak kunjung membaik; namun perlahan memang sudah mulai ada tanda-tanda akan membaik.

Sampai bertemu di jurnal harianku yang lain.

Selamat malam, selamat tidur.

Tinggalkan komentar