angka-angka yang membuat kita lalai

Telah masuk kita pada era di mana untuk mendapat hormat dan dihargai oleh society, tak sekadar harta saja yang bisa kita andalkan, melainkan angka-angka di media sosial. Bukan hanya pengikut yang jadi patokan, namun juga seberapa bagus engagement yang kita dimiliki.

Coba lihat tayangan-tayangan youtube sekarang. Sedikit sekali orang-orang yang membuat karya hiburan berkualitas. Semua mulai seperti televisi yang mengejar rating; televisi yang dahulu mereka hina-hina dan protes karena selalu menampilkan hal-hal yang tak bermakna.

Aku paham bagaimana dunia mereka bekerja. Ada uang besar yang mereka keluarkan; bahkan mereka mendirikan perusahaan yang mana ada hitungan bisnis yang diperlukan. Sekarang tak hanya tentang apa yang akan dibuat, tetapi juga perlu dipikirkan bagaimana agar traffic bisa meningkat tajam dan mengembalikan uang-uang yang sudah mereka keluarkan. Like, komen, dan views menjadi patokan.

Aku juga pernah berada di situasi itu. Dihargai oleh banyak orang yang pada kenyataanya, mereka menghargaiku karena apa yang melekat pada diriku. Ada banyak yang mengikutiku dan traffic-ku lagi bagus-bagusnya.

Namun kini, setelah aku vakum untuk beberapa waktu yang lama karena depresiku yang tak bisa kukendalikan, angka-angka itu mulai menunjukkan penurunan drastis. Ketika aku mulai menulis lagi, responnya tak lagi seperti dahulu.

Sepi.

Aku ditinggalkan. 

Seiring berjalannya waktu, aku pun mulai tak lagi mendapat tempat di sirkel-sirkel yang memandang kita sebagai orang yang memiliki angka-angka bagus yang bisa dimanfaatkan sewaktu-waktu. Entah untuk dipamerkan ke orang-orang terdekat mereka atau hal lain yang aku tak juga benar-benar tahu alasannya.

Jangan lalai dengan angka-angka yang ada di sosial media. Itu semua fana; sementara. 

Bila kita larut dan terlena dengan gemerlap tenar yang sedang menyoroti, aku takut kamu akan merasakan kekecewaan yang luar biasa; seperti aku yang merasa tak lagi berharga karena mulai ditinggalkan oleh banyak pembaca yang dahulu begitu setia menunggu tulisan-tulisan yang aku buat setiap harinya.

Ini hanya catatan untuk diriku sendiri yang sedang memulai semuanya dari awal agar nanti tak lagi terlena dengan angka-angka di sosial media yang seringkali bikin kita sakit kepala; bahkan dampak paling buruknya bisa menyebabkan kita depresi tingkat tinggi dan ada kemungkinan untuk bunuh diri.

Beruntung pada saat itu aku tak sampai di tahap itu. Hanya merasa hilang arah dan bingung mesti melakukan apa lagi dalam hidup yang benar-benar berjalan seperti bajingan ini.

Tinggalkan komentar