Cukup jauh jarak yang terbentang antara kita. Namun, bukan itu masalahnya. Ketidakmampuanku dalam berbagai hal, membuatku malu dan tak bisa bertarung dengan hidup yang makin hari kian berat dan terasa menyebalkan. Menyatakan rasa dan mengajakmu hidup bersama? Menghampirimu saja hatiku dikuasai rasa ragu.
Bukan, bukan aku tak yakin kau adalah pasangan hidup terbaik untukku. Aku yang meragukan diri sendiri apakah bisa menjadi pasangan hidup yang baik untukmu jika kelak kita bersama?
Berulangkali aku memikirkan hal yang sama, namun ujungnya logika menyarankan padaku untuk menyerah saja. Melepaskan rasa yang telah tumbuh, mencabut sampai ke akar-akarnya, dan berusaha untuk sembuh dari patah yang kuciptakan sendiri sebab rasa tak percaya diri.
Aku tahu, ini bodoh.
Keputusan untuk mundur dan menolak kesempatan besar bersamamu adalah hal paling tolol yang pernah kubuat. Namun, mau bagaimana lagi? Aku adalah orang gagal yang selalu dipenuhi rasa ragu dan takut. Manusia yang tak bisa membuat keputusan besar dalam hidupnya, manusia yang tak bisa berjuang keras seperti manusia-manusia lain pada umumnya.
Kuharap, kau mengerti.
Aku memilih jalan ini sebab aku tak bisa menjamin bahagia, tak bisa menjamin rasa aman, dan tak bisa menjamin rasa nyaman. Hidupku pelik dan berantakan. Aku takut kelak hidupmu pun ikut mendapat kesialan jika aku memaksakan diri untuk tetap memilihmu dan mengajakmu hidup bersamaku. Dan aku tak mau itu terjadi padamu.
Ada banyak laki-laki yang memperjuangkanmu; yang barangkali bisa menjadi pasangan terbaik untukmu. Tentu lebih baik daripada aku. Kekasih yang bisa mewujudkan segala yang kau ekspektasikan, kekasih yang bisa memberimu bahagia, aman, juga nyaman.
Dan orang itu, bukan aku.
ditulis pada hari sabtu, 3 desember, pukul tiga pagi, di kota medan.
Dukungan untuk Penulis
Terima kasih sudah membaca tulisan dari Dayat Piliang. Jika kamu suka, traktir Dayat secangkir kopi sachet sebagai bentuk dukungan agar terus konsisten berkarya!
Tinggalkan komentar